Showing posts with label SEJARAH ISLAM PRIODE PERTENGAHAN. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH ISLAM PRIODE PERTENGAHAN. Show all posts
Perkembangan Mazhab Syiah Pada Masa Dinasti Safawiyah, thecustodiansin.files.wordpress.com
BAB II
PEMBAHASAN

A. Syiah yang Dianut Pada Masa Dinasti Shafawiyah
Pada masa dinasti Shafawiyah, Syiah Itsna Asy’ariyah ditetapkan sebagai mazhab resmi negara. Syi’ah Itsna Asy’ariyah atau Syi’ah dua belas Imam adalah cabang dari ajaran Syi’ah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam.
Menurut keyakinan Syi’ah Dua belas, doktrin imamah sebagai bagian ajaran pokok Syi’ah Dua belas. Mereka meyakini bahwa setiap umat yang hidup di muka bumi harus dipimpin oleh seorang imam. Imam adalah pemimpin setengah ilahi yang kharismatik, sebagai perantara manusia dan Tuhan. Imam menurut ajaran Syi’ah Dua belas selain mempunyai kemampuan wasayah (pemegang otorisasi wasiat agama) dan walayah (pemegang otiorisasi kekuasaan temporal). Selain itu, imam juga mempuyai sifat ’ismah, nubuwwah, dan ’adalah. Namun karena para pemimpin Tarekat Syafawi bukan termasuk keturunan Imam Ali Ibn Abi Thalib, berarti mereka pun tidak memiliki kemampuan dan sifat-sifat sebagaimana para imam (12 imam Syi’ah); dan oleh karenya mereka merasa dan meyakini sebagai ”pengganti Imam Gaib bernama al-Mahdi al-Muntazar” (nuwab al-imam).
Syi‘ah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah adalah aliran Syi‘ah yang mengakui eksistensi dua belas orang imam yang berhak memimpin seluruh masyarakat muslim. Kedua belas imam tersebut dimulai dari ‘Alî ibn Abî Thalib sebagai penerima wasiat dari Nabi Muhammad SAW. melalui nash. Para penerima wasiat (al-awshiyâ) setelah ‘Alî adalah keturunan Fathimah, yaitu Hasan kemudian Husein, selanjutnya ‘Alî Zain al-‘Abidîn, Muhammad al-Bâqir, Ja’far al-Shiddiq ibn Muhammad al-Baqîr, Mûsa al-Kazhim, ‘Alî alRidha, Muhammad al-Jawad, ‘Alî al-Hadî, Hasan al-‘Askarî, dan anaknya, Muhammad, sebagai imam yang kedua belas. 

B. Perkembangan Mazhab Syiah Pada Masa Dinasti Shafawiyah
Pada pertengahan  tahun 1501 M Ismail I dinobatkan sebagai syah Iran sekaligus memproklamirkan  berdirinya Dinasti Shafawiyah dengan Tabriz sebagai ibu kotanya. Dia juga menetapkan Syi’ah Itsna Asy’ariyah sebagai mazhab resmi negara. Penetapan Syi’ah sebagai mazhab resmi negara dilakukannya dalam suatu khutbah sholat jumat pada 1501 M. masyarakat iran yang awalnya bermazhab Sunni harus berpindah menjadi pengikut Syi’ah. 
Ismail I memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menganut Syi’ah “ aku mendapat mandat untuk melakukan ini dan sesungguhnya Allah SWT dan imam-imamnya yang maksum bersamaku dalam hal ini. Aku tidak takut dengan siapa pun, maka apabila aku temukan orang yang menentangku, niscaya akan kupenggal lehernya”. Ismail I tidak segan menganiaya, memenjarakan dan mengeksekusi Sunni yang keras kepala. 
 Ismail I memaksa rakyatnya untuk menganut Syi’ah, dia mengaku sebagai “bayangan tuhan di muka bumi”.  Syi’ah sepakat tentang maslah imam yang harus sampai pada generasi kedua belas dari Ali, namun imam yang kedua belas hilang ketika dia masih kecil. Orang Syi’ah mempercayai bahwa imam kedua belas tidak meninggal tapi masuk ke dalam “keghaiban” (imam ghaib). Berdasarkan hal tersebut Syah Ismail I mengaku sebagai imam ghaib. 
Dalam rangka menjadikan seluruh penduduk Dinasti Shafawiyah bermazhab Syi’ah, Ismail I menyebarkan ajaran syiah hingga ke seluruh Persia. Syah Ismail mendapat sambutan baik dari ulama Syi’ah di Tibriz, kemudian dia menetapkan kota Rayy, Kasyan, Khuraan, dan Kota Qum sebagai pusat penyebaran ajaran Syi’ah. Syah Ismail kemudian mendatangkan beberapa ulama Syi’ah dari Syiria, Bahrain, Ardabil utara, Irak, dan Jabal Amin, Lebanon. Para ulama yang didatangkan oleh Syah Ismail I diberi tanggung jawab untuk menyebarkan ajaran Syi’ah dan mengelola sekolah, madrasah, dan peradilan.
Ismail I menegakkan ritual dan kutukan wajib bagi tiga Khalifah Sunni pertama (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) sebagai perampas. Membubarkan Tariqah Sunni dan menyita aset mereka. Dia juga menghancurkan masjid-masjid Sunni.  Pada 1501 ismail I mengundang semua warga Syi’ah yang tinggal di luar Iran untuk datang ke Iran dan diyakinkan akan mendapat pelindungan dari mayoritas Sunni. Ismail I membekali pasukan militernya dengan pokok-pokok ajaran Syi’ah, yang membuat para tentara Shafawiyah mejadi fanatic dengan paham yang dianut.
Bukan hal mudah bagi Ismail I untuk mengajak rakyat Iran beralih dari Sunni menjadi Syi’ah. Ismail I juga tak segan membunuh dan melakukan tindak kekerasan kepada penganut sunni. Di Baghdad dan Herat, Ismail membunuh secara kejam para ulama dan sastrawan Sunni yang menolak Syi’ah.
Syah  ismail I juga menyuruh pengikutnya yang ada di Anatolia untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Para pengikut Ismail I melakukan pemaksaan pada penduduk daerah Anatolia untuk menganut mazhab Syi’ah. Bagi penduduk yang tidak mengikuti perintah tersebut akan di ratakan dengan tanah. Banyak sekali wanita dan anak-anak yang dibantai. Hal tersebut memicu peperangan dengan Turki Utsmani, karena Anatolia masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Turki Utsmani. 
Dalam memperkuat ajaran Syi’ah pada masa Dinasti Shafawiyah, para Syah mengadakan ritual kegamaan. Diselenggarakannya Tazieh, yaitu sutu pertunjunkkan yang menceritakan kembali peristiwa kesyahidan Hussein di Karbala . Tazieh ini dilakukan pada hari kesepuluh bulan Muharrram. Hari itu menjadi pusat seremonial kisah Hussein yang memilikan hati. Dengan mendengar kisah itu masyarakat dapat memahami jelas kesyahidan Hussein. Saat itu masyarakat benar-benar berkabung dan memukuli dirinya sendiri. Mereka merasa sakit sebagaimana yang dirasakan Hussein saat itu. Rangkaian acar yang mendukung acara tersebut meliputi, arak-arakan masa, pertunjukkan, pidato, pembacaan syair-syair ratapan yang melambangkan rasa berkabung dan bersalah atas kematian Hussein. Pemerintan sangat antusias dalam menyelenggarakan acara itu, hingga mengalokasikan dana khusus.
Ada juga ritual pribadi seorang syah sebagai keturunan imam ketujuh, dan inkarnasi dari sang imam tersembunyi. Bentuk ritualnya ialah dengan pemujaan terhadap para leluhur Shafawiyah di Ardabil dan mengunjungi tempat-tempat keramat. Syah Abbas I selalu mengunjungi makam para leluhurnya sebelum berperang dan mengadakan ziarah (pilgrim) dengan berjalan kaki dari Isfahan sampai Masyhad yang memakan waktu 28 hari. 
Di bawah pimpinan Tahmasp I dinasti Shafawiyah menjalin hubungan dengan kekaisaran Ottoman melalui perdamaian Amasya. Dengan perjanjian tersebut, Armenia dan Georgia terbagi rata. Kekaisaran Ottoman memperoleh sebagian besar Irak termasuk Baghdad, yang member mereka akses ke teluk Persia. Sementara Shafawiyah mempertahankan bekas ibu kota mereka Tabriz dan semua wilayah barat laut dan semua wilayah barat laut lainnya di Kaukasus (Degestan, Azebaijjan). Utsmani lebih lanjut memberikan izin bagi peziarah Persia untuk pergi ke tempattempat suci Mekah dan Madinah serta ke situs ziarah Syi’ah di Irak. 
Pemerintahan Ismail II ditandai dengan kebijakan pro-Sunni. Ismail II berusaha untuk membalikkan praktek anti Sunni di kalangan masyarakat. Lebih khusus lagi dia berusaha menghentikan pencemaran nama baik Aisyah di depan umum dan ritual mengutuk Abu Bakar, Umar dan Utsman. Yang utama  adalah ia berusaha mematuhi salah satu tuntutan Ottoman dari perdamaian Amasya. 
Shiisme tidak sepenuhnya mapan hingga masa pemerintahan Abbas I. Abbas membenci Sunni, dan memaksa penduduk untuk menerima Syi’ah dua belas. Pada 1602 sebagian besar Sunni Iran telah menerima Syi’ah. Namun sebagian besar tidak menerima aturan Shafawi, mendorong Abbas untuk melembagakan sejumlah perubahan administrative untuk mengubah Iran menjadi negara Syi’ah dua  belas. Abbas I pada masa pemerintahannya juga mengimpor lebih banyak ulama Syi’ah Arab ke Iran, membangun Institusi keagamaan untuk mereka, termasuk madrasah dan berhasil membujuk mereka untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Dibahwah bimbingan Muhammad Baqir Majlisi (1616-1698) salah satu ulama Syi’ah terpenting sepanjang masa, yang mengabdikan dirinya untuk pemberantasan Sunni di Iran, Dinasti Shafawiyah melakukan upaya besar pada abad ke-17 untuk memfasilitasi penyebaran Syi’ah di Iran di antara penduduk Sunni. Di bawah Majlisi inilah Islam Syi’ah benar-benar menguasai massa. 
Pada masa pemerintahan Syah Husain ada banyak kerusuhan agama dan pemberontakan yang bermotif agama. Kerusuhan agama dan pemberontakan terutama dipicu oleh penganiayaan terhadap kaum Sunni. Husain berusaha secara paksa mengubah rakyat Afghanistan dari sunni ke syi’ah.
Para penguasa Dinasti Shafawiyah juga mengundang para sarjana agama Syi’ah asing ke pengadilan mereka untuk memberikan legitimasi bagi kekuasaan mereka sendiri atas Persia. Sejak Dinasti Shafawiyah berdiri dengan Syah pertamanya Ismail I yang menetapkan Syi’ah sebagai mazhab resmi negara. Ismail I telah berusaha dengan segala cara untuk memaksakan mazhab Syi’ah pada penduduk Shafawiyah yang mayoritas Sunni. Usaha Syah Ismail I ini diteruskan oleh para penerusnya. Mereka tetap gencar menyebarkan mazhab Syi’ah hingga akhir kekuasaan Dinasti Shafawiyah. Mazhab Syi’ah kemudian menjadi mazhab yang mayoritas dianut oleh penduduk Dinasti Shafawiyah.

Perkembangan Peradaban Islam Masa Dinasti Syafawi, alif.id
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 
Dinasti Syafawiyah tecatat sebagai salah satu dari tiga Dinasti besar islam pada abad pertengahan. Ditengah perjuangan diabad pertengahan, dinasti ini mampu menguasai wilayah Persia dan membangun sebuah peradaban.
Diawali dengan gerakan keagamaan berupa Tarekat Syafawiyah, dinasti atau Dinasti besar ini tumbuh dengan mengambil Syi’ah sbagai mazhab resmi negara. Memakai Sy’ah sebagai mazhab memiliki pengauh besar terhadap perkembangan Dinasti Syafawi dalam banyak sisi, termasuk corak peradaban dinasti ini
Banyak peninggalan peradaban menakjubkan yang ditinggalkan  menjadi bukti kebesaran Dinasti Syafawiyah. 

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kronologis berdirinya Dinasti Syafawi?
2. Bagaimana peradaban Islam pada masa Dinasti Syafawiyah?

 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kronologis berdirinya Dinasti Syafawiyah
Dinasti Syafawiyah pada mulanya adalah sebuah gerakan tarekat yang didirikan oleh Safi al-Din di Ardabil, Azerbaijan. Tarekat ini kemudian dikenal sebagai Tarekat Syafawiyah yang berasal dari nama pendiri tarekat ini. Tarekat Syafawiyah berkembang pesat di Persia, Syria, dan Anatolia atau Asia Kecil. 
Fanatisme pengikut  terekat ini mengantarkan mereka ingin turut serta dalam dunia perpolitikan. Dimulai dari Junaid yang ingin memasuki dunia perpolitikan sehingga bersinggungan dengan salah satu suku Turki, Kara Koyunlu, yang kemudian menimbulkan kekalahan dikalangan Syafawiyah. Juneid diasingkan, namun mendapat perlindungan dari suku Turki lainnya yaitu Ak-Koyunlu yang menguasai Diyar Bakr.
Haidar putra Juneid menjalin persekutan dengan Ak-koyunlu hingga berhasil mengalahkan Kara Koyunlu pada 1476 M, keberhasilannya menjadikan nama Syafawiyah semakin dikenal. Haidar menikahi putri Uzun Hasan penguasa Ak-koyunlu dan melahirkan Ismail. Persekutuan dengan Ak-koyunlu berakhir dengan bantuan yang diberikan oleh Ak-koyunlu pada musuh Syafawiyah. Hal ini diduga karena ketakutan Ak-koyunlu pada kekuatan Syafawiyah karena menaklukkan Kara Koyunlu. Haidar terbunuh pada perang itu sedangkan anak dan istrinya dipenjara.
Setelah bebas karena konflik internal penguasa Ak-koyunlu, Ismail putra Haidar mengambil alih kepemimpinan pengikut Syafawiyah. Selama lima tahun ia memPersiapkan pasukan yang diberi nama Qizilbash (baret merah).  Pada 1501 M, pasukan qizilbash  mengalahkan Ak-Koyunlu dalam peperangan didekat Nakhchivan dan berhasil menaklukkan Tabriz, pusat kekuasaan Ak- koyunlu. Di Tabriz, Ismail memproklamirkan berdirinya Dinasti syafawiyah denga dirinya sebagai raja pertama.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun pertamanya berkuasa, Ismail mampu menguasai seluruh wilayah Persia dan wilayah Subur “Bulan Sabit” yaitu daerah yang terbentang dari pesisir laut tengah kemudian masuk ke lembah antara sungai Eufrat dan Tigris – Mesopotamia – lalu ke Teluk Persia . Karena ambisi memperlebar wilayah kekuasaan, Ismail harus berhadapan dengan Sultan Salim dari Turki Usmani yang mengakibatkan jatuhnya Tabriz ketangan Turki Usmani. Dinasti Syafawi terselamatkan karena kepulangan Sultan Salim  ke Turki karena adanya permasalah.     Sepeninggalan Ismail, penerusnya masih memiliki konflik dengan Turki Ustmani. 
Sultan kelima Dinasti ini yaitu Abbas I, berhasil memulihkan kekuasaan Dinasti Syafawi. Kebijakan awal yang diambilnya antara lain yaitu mengurangi dominasi pasukan qizilbas dan menggantinya dengan pasukan para budak, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan melepaskan sebagian wilayah Azerbaijan dan Georgia, berjanji tidak mencaci khalifah rasydah, dengan menyerahkan saudara sepupunya sebagai jaminan.    Ekspansi pada masa Abbas I mampu menmbalikan Tabriz, Sirwan, Baghdad yang mengakibatkan permusuhan kembali Dinasti Turki Usmani dan Dinasti Syafawiyah.  Dengan kebijakan dan kesuksesan ekspansi, Abbas I dianggap sebagai penguasa yang mengantarkan Dinasti Syafawiyah pada puncak kejayaannya. 
Dalam perkembangannya, kondisi perpolitikan yang dijalakan Dinasti Syafawiyah berbeda dengan yang dijalankan oleh Turki usmani, sebagaimana sebuah Dinasti yang berdiri atas nama Islam, syafawiyah menjadikan syi’ah sebagai mazhab negaranya, dan memiliki pola pemerintahan teokratik, sebab para penguasa juga mengaku sebagai keturunan Ali , sehingga berpengaruh kepada hampir setiap aspek peradabaan Dinasti Syafawiyah dan dalam praktek penguasaan, Syafawi memiliki perbedaan dengan dinasti lainnya karena mengutamakan unsur-unsur kesukuan. Dalam perpolitikan, Syah atau Shah  sebutan untuk raja penguasa Dinasti Syafawiyah. 

B. Peradaban Islam pada masa Dinasti Syafawiyah
1. Ekonomi.
Pada masa Syah Abbas didirikan sejumlah pabrik kerajaan. Pabrik-pabrik ini mengelola pembuatan karpet, pembuatan sutera yang juga diolah menjadi beludru, kain damas, satin, dan kain taf , serta pembuatan keramik porselen oleh ahli-ahli syafawiyah dengan bantuan tenaga kerja Cina. Hasil industri ini diperuntukkan kepada kalangan Dinasti dan keperluan perdagangan internasional, kegiatan perdagangan ini ditunjang dengan pembangunan jalan-jalan dan caravanseries atau perkampungan dagang. Dinasti syafawiyah menjalin kerjasama dagang dengan pedagang Armenia sebagai perantara antara mereka dengan bangsa asing   
Syah Abbas juga menjalin kerjasama dengan Inggris pada tahun 1616, the english east india company (eeic) memperoleh hak untuk berdagang secara bebas di Iran dan sebagai balasannya, Inggris membantu Syah Abbas mengusir portugis dari pelabuhan teluk Persi di Hurmuz , penguasaan atas kepulauan humuz pada 1622 M dan pelabuhan gumrun yang diubah menjadi bandar Abbas. Dengan demikian syafawiya mnguasai jalur perdagangan antara barat dan timur.
Belanda kemudian juga tertarik menjalin kerjasama dagang, tahun 1645 inggris terdesak oleh belanda. Tahun 1664 Prancis juga turut menjalin kerjasama dagang dengan  Dinasti Syafawiyah. 
Dari sektor pertanian, Dinasti syafawiyah juga mengalami kemajuan karena peguasaan atas Daerah Subur Bulan Sabit, dan pemberlakuan kebijakan peminjaman dan penyewaan tanah pada kaum petani. 
Syah Abbas membentuk sebuah alun-alun yang sangat besar yang digunakan sebagai pasar, tempat perayaan dan lapangan bermain di Isfahan. Pasar ini juga dianggap sebagai penyokong kuat perekonomian negara, juga sejumlah bazar di Isfahan menjadi bagian penting perekonomian sebab mereka berada dalam jangkauan pengawasan perpajakan negara.

2. Ilmu Pengetahuan
Bangsa Persia memang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dan berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan , maka tradisi keilmuan itu tetap berlangsung hingga masa Dinasti Syafawiyah. Dengan memasukkan ajaran syiah dalam hampir semua aspek peradaban. Pada masa Syafawiyah, filsafat berkembang pesat. 
Diantara filsof dan ilmuan terkenal pada masa ini Ialah Bahauddin Al-Syairazi atau Baha’ Al- Din Al-‘Amili, ilmuan atau generalis ilmu pengetahuan. Sadr al- Din al- Syirazi, filsuf dan penulis al Hikmah al Muta’aliyah , dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad, filsuf, ahli sejarah,teolog, ahli pengetahuan termasuk peneliti mengenai kehidupan lebah.
Muhammad Baqir ibn Muhammad Damad, dikenal dengan Mir Damad (w. 1641) dan Sadr al-Din al-Syirazi, dikenal dengan Mulla Shadra (w. 1641) berhasil merumuskan ajaran yang memadukan sufisme gnostik dengan filsafat yang dapat menjabarkan ajaran Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, dengan perpaduan ajaran al-Quran, teologi, dan refleksi yang memiliki tujuan untuk membangun basis filsafat terhadap kesadaran keagamaan secara individual dan untuk membentuk satu loyalitas umat syi’ah terhadap imamnya. 

3. Militer 
Pembentukan Qizilbash  adalah bentuk kemajuan dalam kemiliteran Dinasti Syafawiyah, dengan rekruitment aktif, dan ditambah dengan budak dari Georgia, Armenia, dan Turki,  pasukan ini mampu menjadi sebuah pasukan militer yang siap digerakkan membela kepercayaan dan negara. Terbukti dengan penaklukan Persia secara keseluruhan yang sukses berkat pasukan ini. 

Untuk membayar gaji tentara, Syah Abbas menggunakan tradisi Islam dan praktik iran tentang pemberian tanah ithqa’ atau tuyul. Upaya ini adalah untuk menciptakan keseimbangan antara berbagai kapasitas pemerintahan pusat, agar dapat menguasai sumber pendapatan secara langsung dan kebutuhan untuk menjaga ifrastruktur militer.

4. Bidang pembangunan fisik dan seni.
Perkembangan pembangunan yang terlihat jelas adalah pembangunan ibu kota kerajaan, Isfahan. Syafawiyah membangun kota tersebut mengelilingi Maydani-Syah, yakni alun-alun luas yang berfungsi sebagai pasar, tempat perayaan, dan lapangan bermain. Dikelilingi oleh sejumlah toko bertingkat dua, dan sejumlah gedung utama disetiap sisinya. Bagian timur terdapat Masjid Syaikh Lutfallah, yang dibangun tahun 1603-1618,  masjid ini adalah tempat peribadatan pribadi Syah. Disisi bagian selatan, terdapat Masjid kerajaan yang dibangun tahun 1611-1629. Sisi bagian barat berdiri istana Ali Qapu yang merupakan gedung pusat pemerintahan. Bagian utara dari maydani terdapat bagungan monumental yang menjadi simbol bagi gerbang menuju bazar kerajaan dan sejumlah pertokoan, tempat pemandian, caravansaries, masjid dan sejumlah perguruan. Dari maydani terdapat jalan raya chahar bagh sepanjang 2,5 mil menuju istana musim panas, yaitu tempat sang penguasa memberi saran pada duta besar dan mengadakan upacara resmi kengaraan. Pada sisi lain jalan ini terdapat sejumlah pertamanan luas sebagai tempat tinggal harem Syah, tempat tinggal pegawai istana dan tempat tinggal duta asing.
Istana Ali Qapu merupakan tempat tinggal amir Dinasti, dengan desain dihiasi keramik biru kehijauan dan pernik keemasan, prasasti serta desain geometri dan flora tumbuhan, berdiri megah sekitar 48 meter dengan tujuh lantai yang masing-masing dihubungkan oleh tangga spiral, dengan lantai enam menjadi ruang yang musik yang mampu membuat takjub.
Masjid Syaikh Lutfallah, bangunan ini terletak di bagian timur, masjid pribadi Syah ini memiliki desain arsitektur menakjubkan pada zamannya. Arsitek dari masjid ini adalah Muhammad Riza, namanya tercatat pada prasasti yang menerangkan tentang masjid ini. Disekitar mihrab masjid ini, terukir dua belas Imam Syi’ah, terdapat juga berbagai kaligrafi ayat, hadits, dan do’a para Imam dari Dinasti Syafawiyah, desain kaligrafi bangunan ini dan bangunan sebelumnya ditulis oleh Ali Reza al-Abbasi, salah seorang seniman terkenal saat itu.
Masjid Syah atau Masjed-e Shah disebelah selatan. Masjid ini adalah perlambangan kekuasaan Syah atau Raja. Kemegahan utama masjid ini adalah karena keindahan tujuh warna ubin bermosaik dan prasasti kaligrafi, ditambah pula dengan kemegahan empat menara setinggi 160 kaki, sebagian besar masjid ini dibangun menggunakan bahan keramik dan batu piruz, kemegahannya diperlengkap dengan sebuah kolam besar ditengah pelataran masjid. Perancang masjid ini adalah Ali Esfahani dengan menggabungkan gaya arsitektur bangsa Seljuk, Sasanid, dan Indo-European. Dibeberapa bagian masjid terdapat kubah-kubah kecil yang juga khas bangunan Iran yang disebut kiosk, kubah kecil ini bagi arkeolog dan pengamat arsitektur dianggap sebagai karya kubah dengan ubin berwarna yang paling brilian karena motif dan komposisi warnanya. Bangunan ini menjadi bukti kecanggihan perkembangan teknologi arsitektur  Islam pada abad pertengahan, bangunan ini didesain tahan gempa dengan desain tiang yang dibuat sedemikian rupa hingga bangunan ini mampu bertahan hingga saat ini.
Bangunan lainnya ada istana Chihil Sutun, yang artinya “40 tiang” karena 20 tiang penyangga dapat dilihat dalam pantulan kolam meNjadi 40 tiang. Jembatan Khaju, jembatan ini melintang diatas sungai Zayandeh dibangun oleh Syah Abbas II, jembatan ini memiliki lorong beratap yang dihiasi keramik warna-warni, ditengah jembatan terdapat paviliun tempat sultan menikmati pemandangan. Selain jembatan Khaju terdapat pula jembatan unik dengan 33 pintu, yang disebut pula Siuse Pool atau Si-o-si pol yang dibangun tahun 1602 oleh Syah Abbas I, jembatan ini sangat kokoh karena digunakan sebagai jalur melintas angkatan perang. Jembatan lainnya ada juga jembatan Joubi yang digunakan untuk tempat lewat kalangan istana yang juga dibangun pada masa Abbas I.
Gedung lainnya ada Gedung Chahar Bagh yang dibangun pada masa Syah Husein, sekitar tahun 1706 M. Gedung ini merupakan bangunan madrasah yang terletak dijalan chahar-bagh bangunan ini dibangun dengan batu bata dan lapisan keramik bermotif bunga dengan dominasi warna biru dan kuning terang, melambangkan pencerahan berupa ilmu pengetahuan. Pada masanya bangunan ini digunakan sebagai pusat pendidikan agama dan ilmu pengetahuan.  
 Pada tahun 1666 menurut keterangan pengunjung Eropa, Isfahan memiliki 162 masjid, 48 perguruan, 162 caravansaries, dan 273 pemandian umum. Dengan kemegahan ini, pembangunan Isfahan sebagai pusat pemerintahan yang berdiri megah juga tercatat sebagai karya besar Dinasti syafawiyah.
Pada bidang seni, terdapat sekolah lukis timuriyah yang dipindahkan dari Herat ke Tabriz Pada 1510 . Bahzad adalah seorang pelukis terbesar pada zaman itu, ia dilantik menjadi direktur perpustakaan kerajaan. Syah Tahmasp, salah satu Raja Syafawiyah juga adalah seorang tokoh seniman besar, ia menghasilkan pakaian jubah, hiasan dinding dari suteta, dan sejumlah karya seni logam dan keramik. Disekolah lukis terbitlah sebuah edisi shah nameh (buku tentang raja) didalamnya terdapat lebih dari 250 lukisan dan merupakan salah satu karya besar dari seni manuskrip saat itu.  

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Peradaban Dinasti Syafawiyah banyak dipengaruhi oleh bentuk keagamaan yang menjadi mazhab negara yaitu Syi’ah. Pemberian sentuhan berunsur Syi’ah diharapkan agar Syi’ah dipadang sebagai seuatu yang menakjubkan yang mampu menggerakkan hati masyarakat dalam menekuninya.
Berbagai bentuk peradaban peninggalan Dinasti Syafawiyah menjadi bukti bahwa meski tidak sebesar kekuasaan dinasti dari masa klasik, Islam mampu kembali berdiri dan meninggalkan peradaban yang memiliki pengaruh penting terhadap sejarah Islam.
B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sebab masih belum terlalu sempurna menjelaskan kemegahan peradaban Dinasti Syafawiyah. Diluar dari itu makalah ini dapat dibaca sebagai tambahan pengetahuan untuk memahami peradaban Dinasti Syafawi secara singkat.

 
DAFTAR PUSTAKA
Bibliography
Al-Azizi, A. S. (2017). Sejarah Terlengkap Peradaban Islam. Yogyakarta: Pt. Huta Parhapuran.
Ali, K. (1996). Sejarah Islam Tarikh Pramodern. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.
Lapidus, I. M. (2000). Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Kesatu Dan Dua. Jakarta: Pt. Rajagrafindo Persada.
Nurakhim, M. (2012). Jatuhnya Sebuah Tamadun. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia.
Peta Sejarah/Bulan Sabit Subur. (T.Thn.). Dipetik Maret 18, 2019, Dari Wikibuku: Https://Id.M.Wikibooks.Org/Wiki/Peta_Sejarah/Bulan_Sabit_Subur
Yatim, B. (1996). Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Pt. Rajagrafindo Persada.

Keberhasilan Sultan Akbar Pada Masa Dinasti Mughal, .speakingtree.iimg.in
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India.sebelum dinasti mughal ada dinasti khalij, dinasti tughlaq, dinasti sayyid, dinasti ludh. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya.
Kerajaan mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur pada tahun (1526-1530M) yang sempat di pimpin beberapa raja-raja, dan pada masa kepemimpinan Sultan Akbar dinasti mughal bisa dikatakan mengalami kemajuan yang pesat dalam beberapa aspek dan ditambah dengan kebijakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Sultan Akbar mampu membuat dinasti ini dikenal dunia.
Jadi didalam makalah ini penulis ingin sedikit menjelaskan tentang asal-usul dinasti mughal dan kemajuan apa saja yang di bawakan sultan akbar sampai beliau di katakan berhasil membawa dinasti mughal menjadi berkembang dengan pesat pada masa nya.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana asal-usul dinasti mughal ?
2. Bagaimana biografi seorang sultan akbar ?
3. Kemajuan apa saja yang di capai sultan akbar pada masa kepemimpinannya ?

C. Tujuan 
1. Untuk mengetahui seperti apa asal-usul dinasti mughal.
2. Untuk mengetahui kontribusi sultan akbar pada dinasti mughal.
3. Untuk mengetahui apa saja kemajuan yang di capai sultan akbar.



       BAB II
PEMBAHASAN


A. Asal-usul dinasti mughal
Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India.sebelum dinasti mughal ada dinasti khalij, dinasti tughlaq, dinasti sayyid, dinasti ludh. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada dinasti Abbasiyah.
Kerajaan mughal ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur pada tahun (1526-1530M) Zahiruddin Muhammad Babur adalah salah satu dari cucu Timor Lenk. Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekat akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya, ia mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, Ismail I akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M.
Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul, meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lody di Delhi. Permohonan  itu langung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kota Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada 21 April 1526 M, terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat. Ibrahim Lody beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memaski kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mughal di India.

Dari pendapat di atas, sesuatu yang dapat disepakati bahwa Kerajaan Mughal merupakan warisan kebesaran Timur Lenk, dan bukan warisan keturunan India yang asli. Meskipun demikian, Dinasti Mughal telah memberi warna tersendiri bagi peradaban orang-orang India yang sebelumnya identik dengan agama Hindu.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor berdirinya Kerajaan Mughal adalah:
1. Ambisi dan karakter Babur sebagai pewaris keperkasaan ras Mongolia
2. Sebagai jawaban atas krisis yang tengah melanda India.

Dinasti Mughal ini pada masanya di pimpin oleh beberapa raja-raja yang sempat memerintah yaitu :

1. Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 M)
2. Hummayun (1530-1556 M)
3. Sultan akbar (1530-1605 M)
4. Jahangir (1605-1627)
5. Syah Jihan (1628¬-1658)
6. Aurangzeb (1658-1707)
7. Bahadur Syah (1707-1712)
8. Jehandar (1712-1713)
9. Bahadur Syah (1837-1858)

Diantara para raja-raja Dinasti Mughal yang pernah memerintah ,bisa di katakan raja yang paling berpengaruh yaitu sultan akbar karena di masa kepempinan nya beliau mengeluarkan kebijakan-kebijakan dan beberapa kemajuan yang berpengaruh menjadikan dinasti mughal menjadi dinasti yang kuat dan dikenal.

B. Biografi Sultan Akbar
Sultan Akbar lahir di Umerkot, Sind, 23 November 1542. Ia adalah keturunan Dinasti Timurid, putra dari sultan Humayun dan cucu dari sultan Mughal Zaheeruddin Muhammad Babur, penguasa yang mendirikan Dinasti Mughal di India. Ibunya bernama Hamida Banu Begum. Sultan Akbar merupakan sultan ketiga yang diberi gelar sultan Abdul Fath Jalaluddin Akbar Khan.[1] Ia menggantikan ayahnya Humayun.
Sultan Akbar memerintah 27 Januari 1556-25 Oktober 1605 (49 tahun, 275 hari) Sultan Akbar adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India. Ketika menerima tahta kerajaan ini Akbar baru berusia relatif sangat muda 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah. Sedangkan Bairam Khan menemani sultan Akbar mulai tahun 1556-1561 saja karena terjadi konflik diantara keduanya.  Di awal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih berkuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah peperangan dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh. Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.

C. Kemajuan yang di capai sultan akbar pada masa kepemimpinannya
Di masa kepemimpinan Sultan Akbar bisa dikatakan kepemimpinan yang paling sukses diantara raja raja yang pernah memimpin dinasti mughal. Selain Sultan Akbar mampu menghasilkan kebijakan kebijakan yang membuat dinasti mughal lebih baik, di masa kepimpinannya dinasti mughal mengalami kemajuan-kemajuan di beberapa aspek. Yaitu :

1. Bidang Politik dan Militer
Kemajuan politik yang berhasil dicapai adalah politik sulakhul (toleransi universal) yang kemudian melahirkan sistem Din-i-Ilahi dan Mansabdhari, sedangkan setiap wilayah dikepalai oleh sipah salar dan subdistrik yang dikepalai oleh faudjar. Sehingga mampu menaklukan daerah-daerah disekitarnya.
2. Bidang Ekonomi
Dalam hal ini perekonomian pemerintah mengatur masalah pertanian dengan wilayah terkecil disebut Deh dan beberapa Deh bergabung dalam Pargana (kawedanan). Masing-masing dipimpin oleh muqqadam yang menjadi perantara antara pemerintah dengan petani.

3. Bidang Seni dan Arsitektur
Karya seni dan arsitektur Mughal masih bisa dinikmati keindahannya sampai saat ini. Dengan arsitektur yang menggunakan ukiran dan marmer yang timbul beraneka warna. Ada bangunan masjid, istana, dan makam. Kemudian sastra pada masa sultan Akbar berkembang bahasa Urdu yang merupakan perpaduan dari segala macam bahasa yang ada di India. Di India banyak melahirkan sastrawan seperti Malik Muhammad Jayashi dengan karya Padmavat yang merupakan karya alegoris yang mengandung kebajikan jiwa manusia.

4. Bidang Agama
Sultan Akbar menerapkan konsep Din-i-Ilahi, karena kebijakannya ini sultan Akbar banyak mendapatkan kritikan. Konsep ini merupakan upaya agar dapat menyatukan beragam agama di India. Mungkin ini cerminan sifat dari Sultan Akbar sebagai seorang raja yang gandrung akan persatuan dalam hal agama sehingga toleransi sangat di junjung tinggi untuk misi mempersatukan beragam agama di india dan itu berhasil. 

Mungkin semua kemajuan tersebut didasari oleh sikap dan pemikiran yang menimbulkan keinginan untuk menjadikan dinasti mughal lebih baik. Walaupun semua raja memiliki keinginan yang sama tapi cara yang dimiliki oleh Sultan Akbar lebih berhasil mungkin karena lebih mengedepankan persatuan antara beragam suku agama yang ada di india, contoh nya konsep din-i-llahi itu sendiri.


BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Kerajaan mughal ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur pada tahun (1526-1530M) Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India.sebelum dinasti mughal ada dinasti khalij, dinasti tughlaq, dinasti sayyid, dinasti ludh. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya.
Sultan Akbar adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India. Sultan akbar melahirkan kebijakan-kebijakan yang mengarah kepada kemajuan dinasti mughal dan dinasti mughal mengalami kemajuan yang pesat dalam beberapa aspek pada masa kepemimpinannya contohnya dalam hal politik dan militer, ekonomi, seni dan arsitektur, keagamaan . yang itu semua berkat sikap adil bijaksana dan rasa toleransi yang besar dari kepimpinan Sultan Akbar. Dan hebatnya lagi dengan cara kepemimpinan seperti itu mampu mempersatukan agama yang beragam di india pada saat itu yang mungkin berpengaruh sampai sekarang

DAFTAR PUSTAKA

https://www.searchnewworld.com/search/search2.html?partid=imnsknsch&p=keberhasilan+sultan+akbar+pada+masa+dinasti+mughal&subid=62212345

https://wawasansejarah.com/kebijakan-sultan-akbar-dinasti-mughal/

Siti Maryam dkk. 2002. Sejarah Peradaban Islam(dari masa klasik hingga modern). Yogyakarta: LESFI.

Perluasan Wilayah Turki Utsmani, https://docplayer.info
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, berkat rahmat dan hidayah NYA sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan Salam semoga tetap selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabat nya.
Makalah ini di susun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Umat Islam Masa  Pertengahan. Pada makalah kali ini kami akan mencoba menguraikan tentang “Perluasan Wilayah Turki Utsmani”.
Dalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari segala pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Harapan kami, semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah sedikit pengetahuan bagi para pembaca.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini, baik dalam isi atau penyusunannya masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan di masa mendatang.


Yogyakarta
, 
17 Februari 2019.


 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
BAB II
PEMBAHASAN 2
A. Usaha penaklukkan wilayah. 2
B. Ekspansi wilayah kerajaan. 2
C. Faktor penyebab suksesnya ekspansi islam 5
BAB III
PENUTUP 6
A. Kesimpulan 6
DAFTAR PUSTAKA 7




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Turki Ustmani adalah sebuah Kerajaan atau Dinasti yang mulai berkuasa sejak tahun 1300 M. banyak sekali pencapaian yang telah di raih oleh Imperium ini. Di antaranya adalah perluasan wilayah Islam secara besar-besaran.
Selama berdirinya kerajaan tersebut yang di tulis oleh sejarah selama kurang lebih 6 abad, kerajaan ini menguasai daerah antara tiga benua, yaitu Eropa, Asia dan Afrika. Kerajaan ini memiliki tentara yang sangat di takuti oleh dunia karena pasukan-pasukannya mampu merebut kekuasaan-kekuasaan wilayah yang sebelumnya memang sangat sulit untuk di jatuhkan, seperti Konstantinopel.
Imperium ini mengalami puncak kejayaannya pada masa Sulaiman Al-qainuni. Raja ini mampu membuat Turki menjadi Negara besar dan kuat. Terbukti dari luasnya wilayah kekuasaan yang telah di raih. Namun perluasan wilayah yang telah berhasil di kuasai oleh Imperium ini tak jauh dari kehebatan Muhammad II yang di kenal dengan sebutan Al Fatih (sang penakluk).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Usaha penaklukan Wilayah.
2. Bagaimana Ekspansi wilayah kerajaan.
3. Bagaimana Faktor-faktor penyebab kesuksesan ekspansi islam.


 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Usaha penaklukkan wilayah.
Setelah penetapan pemimpin kerajaan Turki Ustmani pada tahun 1300 M, perluasan wilayah pun sudah di lakukan. Usman I melakukan perluasan wilayah Dinasti Utsmani dengan cara mengirimkan surat-surat kepada Raja-raja kecil guna memberitahukan bahwa ia sekarang adalah seorang Raja. Usman I memberikan beberapa pilihan kepada mereka, yaitu, memeluk agama islam, membayar jizyah atau perang. Setelah surat itu dibaca, beberapa memilih untuk masuk islam, ada juga yang membayar jizyah, dan ada juga yang tetap bertahan dalam wilayah mereka.
Dalam menghadapi musuh, di bentuklah suatu pasukan yang mendukung suksesnya dalam ekspansi wilayah yang akan di lakukan. Pasukan itu di kenal dengan nama Inkisariyah (janissary), pasukan ini terkenal sangat sigap dan tangguh. Pasukan ini terdiri dari penduduk Georgia dan Armenia yang baru masuk islam. Dengan adanya pasukan tersebut kerajaan Turki Ustmani terlihat sangat percaya diri dalam melakukan ekspansi wilayah hingga menyentuh daerah-daerah non-muslim.

B. Ekspansi wilayah kerajaan.
Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai pemimpin kerajaan Turki ia langsung melakukan penyerangan terhadap perbatasan Byzantium. Dan hingga pada tahun 1324 Broessa berhasil di taklukkan. Dan di jadikan sebagai ibu kota pada tahun 1326 masa Orkhan, selain Bursa, pemerintahan Orkhan juga berhasil menaklukkan Izmir (Asia kecil) dan Ankara.
Sedang pada masa Murad I ekspansi wilayah terjadi lebih besar lagi dari pada kepemimpinan sebelumnya, setelah memantapkan kedudukannya di Eropa, rezim Utsman mendatangkan tentara dalam jumlah yang sangat besar ke negeri Balkan dan berhasil menaklukannya. Penaklukkan wilayah juga mencapai Andrianopel (sekarang benama Edirne,Turki), Macedonia, Sofia (ibu kota Bulgaria), dan seluruh wilayah Yunani. Melihat kemenangan ini, lawan kemudian menyusun strategi untuk mengalahkan kerajaan Turki, hingga menewaskan sang Raja, namun tetap kemenangan berada di tangan Dinasti Ustmani. Dan kepemimpinan di lanjutkan oleh sang anak yaitu Bayazid I.
Bayazid I : dapat merebut Benteng Philadelpia dan Gramania atau kirman (Iran). Perlawanan dari Eropa yang di pimpin oleh raja Hongaria Sijismond dan bergabung dengan tentara Jerman dan Perancis. Pertempuran terjadi di Nicopolis (25 september 1396). Dan pada akhirnya Eropa menerima kekalahan terparahnya. Kemudian pada tahun 1402 di serang oleh pasukkan Timur Lenk (penguasa Mongol) dengan jumlah kira-kira 800.000 orang, sedangkan pada pihak Dinasti Utsmani hanya 120.000 pasukan. Dan akhirnya Dinasti Utsmani kalah hingga mengakibatkan Bayazid I di tahan di penjara hingga tewas. Karena kekalahan ini hampir seluruh wilayah Turki Utsmani jatuh ke tangan Timur Lenk.
Kekalahan ini juga menyebabkan terpecahnya putra-putra kerajaan. Muhammad I, Isa, Sulaiman, dan Musa. Dan pada akhirnya Muhammad I berhasil menundukkan saudara-saudara nya dan memimpin kerajaan. Muhammad I mencoba mengembalikan Wilayah Dinasti Utsmani yang sebelumnya jatuh ke tangan Timur Lenk.
Tahun 1421, Muhammad I meninggal dunia dan di gantikan oleh Murad II. Pada masa ini ekspansi wilayah  di lanjutkan dan wilayah yang berhasil di tundukkan adalah Venessia, Salonika dan Hongaria.
Puncak perluasan wilayah Dinasti Utsmani terjadi pada masa pemerintahan Muhammad II atau yang sering di kenal dengan gelar Sang Penakluk (Al-Fatih). Pada masanya di lakukan perluasan kekuasaan Islam secara besar-besaran. Prestasi yang sangat membanggakan yaitu dengan di taklukannya kota penting (Costantinopel) yang saat itu merupakan ibu kota kerajaan Romawi Timur (1453). Penaklukkan ini mengantarkan kerajaan pada suatu era baru yang besar. Raksasa baru ini berdiri mengangkang di Bosporus, satu kakinya berada di Asia dan satu lagi berada di Eropa. Setelah di taklukkan dan menjadi wilayah Islam, nama Costantinopel di ubah namanya menjadi Istanbul yang berarti (tahta islam). Dan karena ibu kota romawi timur berhasil di taklukkan akhirnya hal ini memudahkan dinasti Utsmani dalam penaklukkan wilayah-wilayah di bawahnya, yaitu Serbia dan Albania.
Ada beberapa hal yang menyulut semangat para pahlawan-pahlawan islam dalam penaklukkan kota Kostantinopel (Istanbul) :
• Karena dorongan iman kepada Tuhan yang maha esa, sekaligus di dorong dengan hadits Nabi, bahwa nantinya umat Islam akan berhasil menaklukannya.
• Karena costantinopel merupakan pusat peradaban dan kebudayaan.
• Keindahan kotanya, serta letaknya yang sangat strategis yaitu sebagai penghubung antara dua benua besar yaitu Asia dan Eropa.

Setelah menaklukkan Constantinopel tentara Usmani terus bergerak untuk terus melanjutkan perjuangan dalam perluasan wilayah Islam di Balkan hingga mencapai Danube dan Aegan. Muhammad II terus mempertahankan kekuasaanya hingga pada tahun 1449, dan setengah abad kemudian ia berhasil menguasai Yunani, Bosnia, dan Herzegovina. Keberhasilan ekspansi ini juga di dukung oleh kerja sama dengan budak-budak berkebangsaan Bizantium terdahulu. Rezim Ustmani juga melindungi Gereja Ortodoks Yunani supaya mendapatkan dukungan dari masyarakat Balkan itu sendiri.
Dalam ekspansi wilayah tahun 1514 ke bagian Anatolia bagian timur dan Iran barat Imperium Usmani bersaing dengan Kerajaan Syafawi. Imperium Usmani berhasil memukul jatuh Syafawi dan menguasai Anatolia timur dan Mesopotamia utara sekaligus menguasai jalur perdagangan penting dari Tabriz ke Aleppo dan Bursa. Dan dari sinilah Imperium Usmani terus bergerak untuk mengambil alih kekuasaan Mamluk atas Syria, Mesir dan kota kota suci muslim di Arabia.
Pada tahun 1516-1517 terjadi perang antara Kesultanan Usmani melawan Kesultanan Mamluk. Pada perang ini saling memperebutkan perdagangan rempah-rempah dan kota-kota suci Islam. Dalam perang ini, tentara Mamluk kalah senjata dengan kerajaan Turki Usmani, yang pada saat itu telah menggunakan senjata api, sedangan tentara Mamluk masih menggunakan kavaleri berpanah yang masih tradisional karena mereka sangat menjaga tradisi mereka. Akibat nya tentara Mamluk berhasil di runtuhkan oleh tentara Usman. Jatuhnya Kerajaan Mamluk menjadikan wilayah Suriah, Mesir dan Semenanjung Arab beralih kekuasaan pada Turki Usmani. Perkembangan wilayah yang awalnya hanya berada di pinggiran wilayah Islam yaitu Anatolia dan Balkan menjadi kekuasaan besar yang meliputi seluruh wilayah tradisional islam, termasuk kota Makkah, Kairo, Damaskus dan Aleppo.
Pada tahun 1526 Belgrade (Serbia) di paksa tunduk kepada pemerintahan Usmani. Dan juga melalui perjanjian Qashirin 1639, Baghdad dan Iraq jatuh berada di bawah kekuasaan usmani. 

C. Faktor penyebab suksesnya ekspansi islam
Faktor-faktor yang menyebabkan kesuksesan dinasti Utsmani dalam perluasan wilayah:
1. Kemampuan orang turki dalam strategi perang dan diikuti dengan keinginan mendapatkan harta Ghanimah.
2. Watak orang turki yang tidak pernah mau diam daan selalu ingin maju.
3. Semangat jihad untuk mengambangkan agama.
4. Letak strategis Istanbul yang memudahkan perluasan wilayah. Istanbul juga pernah menjadi pusat peradaban (Macedonia, yunani maupun romawi timur)
Kondisi kerajaan sekitar nya yang sedang kacau sehingga memudahkan dalam penyerangan.

 BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan 
Imperium usmani adalah sebuah kerajaan yang kekuasaannya membentang luas antara benua Asia, Eropa dan Afrika. Imperium ini merupakan kerajaan muslim terbesar pada era modern. Tidak hanya itu, imperium ini juga menjadi kerajaan muslim yang berkuasa terlama sepanjang sejarah. Tidak kurang dari 36 sultan yang pernah memimpin kerajaan ini.
Perluasan wilayah yang di lakukan oleh para pemimpinnya sangat menyita banyak perhatian dari sejarawan karena kehebatan para tentara nya. Akibat kegigihan dan ketangguhan yang di miliki oleh para pemimpin dalam mempertahankan turki usmani membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah kekuasaan dapat di raih dengan cepat.




DAFTAR PUSTAKA
Maryam, Siti, et.al. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: LESFI, 2002.
http://ski2010mkspi.blogspot.com/2014/05/wilayah-wilayah-kekuasaan-turki-utsmani.html 
Hitti, Philip K. History of The Arabs. Terjemahan oleh Cecep Lukman Yasin. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA, 2006.
Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam. Terjemahan oleh Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Konflik antara Dinasti Turki Utsmani dengan Dinasti Safawiyah, wikimedia.org
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya peradaban Islam bbanyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk, sebagaimana yang telah disebut, mengancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain. Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya kerajaan besar: Utsmani di Turki, Mughal di India, dan Syafawiyah di Persia. 
Utsmani yang berdiri setelah beberapa dinasti kecil mulai hilang peradabannya, dengan cepat menjadi kerajaan besar dengan wilayah kekuasannya yang luas. Penaklukan kota Konstantinopel dan negeri Balkan merupakan tonggak yang sangat menentukan dalam sejarah Utsmani. Selain memuaskan bangsa Turki, Imperium Utsmani, dan ambisi umat Muslim, penaklukan tersebut menjadikan mereka leluasa. Rezim Utsmani menjadi pejuang Muslim terbesar untuk perjuangan agama.  Ketika kerajaan Utsmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Syafawiyah di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan Syafawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.  
Dua kerajaan besar Islam pada masa abad pertengahan yaitu Utsmani dan Syafawiyah selama masa berdirinya kedua kerajaan besar tersebut memiliki hubungan yang tidak baik karena terlibat konflik yang cukup panjang. Dinasti Turki Utsmani yang berkuasa di Anatolia sejak 1300 M, menganut mazhab Sunni sementara Dinasti Syafawiyah yang berdiri pada tahun 1501 M oleh Syah Ismail di Persia, menganut mazhab Syiah Itsna Asyariah. Perbedaan ideologi tersebut awalnya tidak menjadi permasalahan antara kedua kerajaan tersebut. Namun permusuhan di antara keduanya tak sekedar perbedaan ideologi, tetapi juga masalah teritorial. Puncak dari konflik antara dua dinasti ini tercurah pada perang Chaldiran tahun 1514 M.

B. Rumusan Masalah 
1. Bagaimana latar belakang konflik antara Dinasti Turki Utsmani dengan Dinasti Safawiyah?
2. Bagaimana keadaan dinasti Syafawiyah pasca peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M?

C. Tujuan Masalah
1. Mendeskripsikan latar belakang terjadinya konflik antara Dinasti Turki Utsmani dengan Dinasti Syafawiyah.
2. Menjelaskan keadaan Dinasti Syafawiyah pasca peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Konflik antara Dinasti Turki Utsmani dengan Dinasti Syafawiyah
Dinasti Syafawiyah di bawah kepemimpinan Syah Ismail yang saat itu masih berusia tujuh tahun mempersiapkan pasukan bernama Qizilbash (baret merah). Kemudian pasukan tersebut digunakan untuk menyerang AK Koyunlu hingga berhasil merebut dan menduduki Tabriz, ibukota AK Koyunlu. Syah Ismail juga disebut sebagai Ismail I.  Ismail I berkuasa selama kurang lebih 23 tahun, yaitu antara tahun 1501-1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sia kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran,  Gurgan,  dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghad dan daerah barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaanya sudah meiputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Cresent). Tidak sampai di situ, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya, seperti ke Turki Utsmani.  
Syah Ismail ash-Shafawi berusaha keras menjadikan Syiah sebagai mazhab yang dianut penduduk Iran. Karena adanya ketidak puasan psikologis dari kalangan penduduk Iran yang sebagian besar berhaluan Sunni, maka Syah Ismail memandang bahwa ia harus membentuk pasukan dari kalangan orang-orang Syiah untuk menghadapi penentangan ini. Ternyata Syah Ismail mendapatkan dukungan yang kuat dan bala bantuan dari beberapa pihak. Kemudian, ia bangkitkan semangat mereka untuk menumpas orang-orang yang menentangnya dan mengokohkan mazhab Syiah di Iran. Dalam menjalankan misinya, Syah Ismail memainan politik yang licik untuk memperkuat seruan politik dan mazhabnya. Syah Ismail mengandalkan beberapa kabilah Tarlibasy yang berasal dari keturunan Turki untuk menjadi benih kekuatan militernya. Sebab, penduduk Iran pada waktu itu terdiri dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda, akibat dari gelombang peperangan yang bertubi-tubi melanda negeri tersebut, sehingga sulit untuk menyatukan semua suku bangsa yang berbeda-beda itu dalam satu tempat. Dengan kebijakannya ini, Syah Ismail ash-Shafawi berhasil mengoptimalkan kekuatan mahzabnya pada kabilah-kabilah Tarlibasy untuk dijadikan sebagai sandaran utama kekuatan pemerintah, sehingga semua kelompok lebur dalam satu kesatuan mazhab yang memungkinkannya membentuk sebuah eksistensi politik yang baru.  
Syah Ismail memimpin mazhab Syiah dan bersemangat besar untuk menyebarkan Syiah ke seluruh penjuru negeri.  Seruannya sampai ke wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Utsmaniyah. Pemikiran dan akidah sesat yang disebarkan di wilayah-wilayah itu ditentang keras oleh masyarakat Utsmani yang bermazhab Sunni. Di antara akidah-akidah yang Syiah yang rusak adalah mengkafirkan para sahabat, melaknat generasi awal Islam, mengubah Al-Qur’an serta pemikiran dan akidah-akidah lainnya yang rusak. Maka, wajar jika Sultan Salim I selaku pemimpin Negara yang berhaluan Sunni melakukan pelawanan terhadap seruan Syiah itu. 
Selama periode Syafawiyah di Persia persaingan untuk mendapatkan keuasaan antara Turki dan Persi menjadi realita. Namun demikian, Syah Ismail menjumpai saingan terberat sebagai kepala batu yaitu Sultan Turki Utsmani, Salim I. 
Ketika Syah Ismail memasuki wilayah Irak ia melakukan kejahatan besar dalam Islam yaitu, membunuh kaum muslimin beraliran Sunni dalam jumlah besar, serta menghancurkan masjid-masjid Ahlusunnah dan kuburan-kuburan mereka. Bahaya Syiah ini semakin bertambah parah pada masa-masa akhir pemerintahan Bayazid II. Ketika Sultan Salim I memegang kekuasaan, maka perangkat-perangkat keamanan Dinasti Utsmaniah melakukan pengepungan terhadap orang-orang Syiah pengikut Syah Ismail dan orang-orang yang menentang Dinasti Utsmaniah. Kemudian Sultan Salim I melakukan pembersihan terhadap para pengikut Syah Ismail, sehingga banyak para pengikut Syah Ismail dipenjara dan dibinasakan di Anatolia.  
Puncak perseteruan antara dua Dinasti besar Islam itu tertuang pada perang Chaldiran tahun 1514 M. Sultan Salim I mulai bersiap untuk menyerang Syah Ismail dengan menyiapkan pasukannya. Sultan Salim I berupaya mempercepat pertempurannya menghadapi pasukan Syiah di bawah komando Syah Ismail. Bahkan, saat Syah Ismail meminta gencatan senjata Sultan Salim I menolak permintaan tersebut dan tetap melanjutkan perjalanan ke gurun Chaldiran. 
Pada bulan Rajab 920 H atau bulan Agustus 1514 M, Sultan Salim I tiba di Chaldiran dan berhasil menduduki lokasi-lokasi strategis di gurun Chaldiran dan menguasai tempat-tempat dataran tingginya. Hal ini memungkinkan baginya untuk melancarkan serangan mematikan kepada Syah Ismail dan para tentaranya.   Sebagian Referensi mengatakan bahwa jumlah pasukan Utsmani lebih banyak dari pada pasukan Qizilbash Syafawiyah, sekita dua sampai tiga kali lipatnya. Meskipun demikian, dengan kekurangan ini pasukan Syafawi bertempur dengan sangat baik, bahkan mereka mungkin dapat memenangkan pertempuran jika Utsmani tidak mengerahkan artilerinya. Meriam dan artileri lainnya diarahkan dan mendarat di pasukan kavaleri elit Syafawiyah yang tidak berdaya menahannya. Syah Ismail mengalami kekalahan telak, sebuah kekalahan bagi pasukan Syiah Shafawi yang terjadi di wilayahnya sendiri. Ismai As Shafawi terpaksa melarikan diri pada saat Sultan Salim I hendak memasuki Tibriz, Ibukota pemerintahan Safawiyah. Setelah Sultan Salim berhasil memasuki Tibriz, ia menahan semua harta benda milik Syah Ismail dan para pembesar Qizilbash. 

B. Keadaan Dinasti Syafawiyah Pasca Peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M
Sutan Salim I merasa cukup dengan kemenangannya di Chaldiran. Dia terpaksa kembali ke negaranya dan tidak melakukan pengejaran karena berapa sebab :
1. Adanya pembangkangan di barisan petinggi tentara Utsmani untuk meneruskan peperangan di Persia, setelah Sultan Salim I berhasil mewujudkan tujuannya dan mampu  melemahkan kekuatan Syah Ismail. 
2. Sultan Salim I merasa khawatir pasukannya akan jatuh ke dalam perangkap orang-orang Syafawi jika mereka terlalu dalam memasuki negeri mereka. 
3. Dia berpendapat bahwa sudah saatnya untuk menaklukkan kerajaan Mamluk. Sebab, perangkat keamanan Dinasti Utsmani mengawasi adanya surat-menyurat antara kaum Mamalik dengan orang-orang Syafawi yang menunjukan ada kerjasama untuk melawan Dinasti Utsmani.  
Kekalahan Dinasti Syafawiyah pada Perang Chaldiran, tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Syah Ismail. Akibatnya, kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan Syafawi, yaitu terjainya persainan segitiga antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk memimpin kerajaan Syafawi.  
Konflik antara Dinasti Utsmani dengan Dinasti Syafawi tidak berhenti setelah perang Chaldiran berakhir. Sepeninggal Ismail, peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M ), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M).  Pada masa tiga Raja tersebut, Dinasti Syafawi dalam  keadaan lemah. Di samping karena seringnya terjadi peperangan melawan Dinasti Utsmani, yang lebih kuat, juga karena sering  terjadi pertentangan  antara kelompok-kelompok di dalam negeri. Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja Syafawi ke lima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588-1628 M. 
Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Syafawi ialah: pertama, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan syafawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Tahmasp I. kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani. Untuk mewujudkan pernjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georigia, dan sebagian wilayah Luristan. Di samping itu, Abbas berjanji tidak akan menghina tiga Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman) dalam khotbah-khotbah Jumat. Sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia menyerahka saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai sanera di Istanbul.   
  Adapun dampak yang ditimbulkan akibat Perang Chaldiran adalah sebagai berikut:
1. Masuknya wilayah Irak bagian utara dan Diyarbakir ke dalam kekuasaan Dinasti Utsmaniah.
2. Bangsa Turki Utsmani mengamankan batas-batas Negara mereka di sebelah Timur.
3. Mazhab Sunni menjadi dominan di Asia Kecil setelah Sultan Salim I berhasil menumpas para pengikut dan pendukun Syah Ismail, ditambah kekalahan orang-orang Syiah di Chaldiran. Ini menunjukkan bahwa Dinasti Utsmaniah memiliki rasa tangung jawab terhaap Dunia Islam, khususnya setelah ia mengumumkan dirinya sebagai pelindung kaum muslimin.
4. Tumbuhnya kesadaran Dinasti Utsmaniah akan pentingnya menumpas kekuatan  yang  kedua, yakni Dinasti Mamluk.
5. Konflik bersenjata antara Dinasti Utsmaniah dengan Dinasti Syafawiyah mengakibatkan turunnya pendapatan bea cukai pemerintahan Utsmani dari jalur-jalur perdagangan yang lama di Anatolia. Pemasukan Negara mengalami penurunan setelah tahun 918 H (1512M) sebagai akibat dari peperangan-peperangan yang terjadi anatara kaum Syafawi dengan bangsa Turki Utsmani. Sebab, sebagian besar jalur perdagangan yang lama ditutup, di sampig timbulnya berbagai macam bahaya. Akibatnya, perdagangan bilateral antara wilayah-wilayah Iran dan Utsmani menjadi terbatas. Karena itu, pemasukan pemerintahan Utsmani menurun dari Sutra Persia. 
6. Bangsa Portugal memanfaatkan konflik yang terjadi antara Dinasti Syafawiyah dengan dinasti Utsmani. Mereka berusaha melakukan blokade total terhadap lautan-lautan di sebelah timur dan menutup jalan-jalan lama yang menghubungkan antara timur dan barat.
7. Orang-orang Eropa bergembira atas peperangan-peperangan yang terjadi antara bangsa Turki dan kaum Syafawi. Orang-orang Eropa berusaha memberikan bantuan kepada kaum Syiah Syafawi dalam melawan Dinasti Utsmaniyah untuk melemahkannya, sehinga Turki Utsmani tidak mampu melanjutkan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Eropa. 

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dinasti Turki Utsmani yang berkuasa di Anatolia sejak 1300 M, menganut mazhab Sunni sementara Dinasti Syafawiyah yang berdiri pada tahun 1501 M oleh Syah Ismail di Persia, menganut mazhab Syiah Itsna Asyariah. Kedua kerajaan besar Islam ini terlibat konflik yang panjang. Perbedaan ideologi tersebut awalnya tidak menjadi permasalahan antara kedua kerajaan tersebut. Namun permusuhan di antara keduanya tak sekedar perbedaan ideologi, tetapi juga masalah teritorial. Puncak dari konflik antara dua dinasti ini tercurah pada perang Chaldiran tahun 1514 M yang dimenangkan oleh pasukan Utsmani dibawah perintah Sultan Salim I. Beberapa perang antara Dinasti Utsmani dengan inasti Saywafi masih terjadi setelah perang Chaldiran. Namun pada pemerintahan Abbas I, raja kelima dinasti Syafawiyah mengadakan perjanjian damai dengan dinasti Turki Utsmani yang isinya adalah: pertama, menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan. Kedua, Abbas berjanji tidak akan menghina tiga Khalifah pertama Islam (Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman) dalam khotbah-khotbah Jumat. 

DAFTAR PUSTAKA
  Karim, M. Abdul, 2012, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.
  Lapidus, Ira M, 2000, Sejarah Sosial Umat Islam: Bagian Satu dan Dua, terj. Ghufron A. Mas’adi, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
  Maryam, Siti dkk, 2012, Sejarah Peradaban Islam: dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : Lesfi.
  Ash-Shalabi, Ali Muhammad, 2017, Sejarah Daulah Utsmaniyah: Faktor-faktor Kebangkitan dan Sebab-sebab Keruntuhan, Jakarta : Ummul Qura.
  Yatim, Badri, 2008, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah jilid 2, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Internet:
  https://ganaislamika.com/dinasti-safawi-4-pertempuran-chaldiran/#_ftn1 diunduh pada tanggal 24 Maret 2019, pukul 10.26 wib


 Sejarah, Perkembangan, Dan Runtuhnya Kesultanan Delhi, wikimedia.org
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terbentuknya Kesultanan Delhi (1206-1526) mengawali kukuhnya pengaruh Islam di Anak Benua India sejak abad ke-13. Ada lima dinasti yang mengisi imperium ini, yaituMamluk (1206-1290), Khalji (1290-1320), Tughluq (1320-1414), Sayyid (1414-1415), dan Lodi (1451-1526). Pendiri Kesultanan Delhi sekaligus yang mengawali Dinasti Mamluk adalah Qutb al-Din Aibak, bekas budak Sultan Ghurid, Muizzuddin Muhammad. Nama Mamluk dalam bahasa Arab berarti yang-dimiliki atau budak.
Kesultanan Delhi meletakkan dasar pengaruh Islam dalam keanekaragaman budaya di Anak Benua India. Sejak awal dekade 1200, banyak kesultanan Islam teracam bayang banyang penyerbuan pasukan Mongol. Salah satunya adalah Khursasan yang saat itu menjadi pusat keunggulan dalam masa keemasan dunia Islam. Setelah Mongol menguasai Khurasan, banyak sarjana muslim yang hijrah ke wilayah Dinasi Mamluk di India Utara. 

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah dan perkembangan Kesultanan Delhi di bawah Dinasti Mamluk ?
2. Bagaimana perkembangan dan kehancuran Dinasti Dinasti Di Delhi ?

PEMBAHASAN

A. Sejarah Dan Perkembangan Kesultanan Delhi
Kesultanan ini didirikan pada 1206 oleh Qutub al-Din Aibak, Pengganti Muhammad Ghuri yang bergelar Qutbuddin, memulai karirnya sebagai budak. Karena ia cerdas dan mahir dalam berbagai ilmu terutama dibidang kemiliteran, maka Ghuri mengangkatnya sebagai kepala pengurusan kuda-kuda perang di istana. Setelah ia dibebaskan dalam belenggu perbudakan, Aibak dinikahkan dengan putrinya, dan diangkat menjadi panglima perang saat Ghurri menaklukan India di peperangan Tarin II. Sebelum Ghurri pulang ke Ghur, Qutub al-Din di tetapkan menjadi wakil tetap Ghurri di India. Setelah Ghurri wafat dan tidak ada yang datanag dari Ghur untuk memerintah India maka para pembesar istana mengangkat Aibak sebagai sultan di India. 
Aibak Mendirikan Masjid Raya Delhi yang bernama Quwat al-Islam, dan membangun sebuah menara yang besar dan diberi nama Qutub Minar atas nama guru Spiritualnya, seorang ulama besar dan sufi dari tarekat Chistiyah  yaitu Qutub al-Din Baktiar Ka’ki , yang sampai saat ini berdiri dengan megah dan menjadi perhatian para wisatawan karena kehebatan nilai arsitekturnya. Di Azmir didirikannya pula sebuah masjid raya yang memakai namanya.
Setelah Aibak wafat, putranya Aram Syah menjadi sultan, karean ia tidak cakap dan tidak punya kemampuan sama sekali dalam urusan negara , maka para pembesar istana Delhi mengangkat seorang raja Islam yang besar bernama Iltutmish (1211-1236). Dia juga karirnya sama dengan Aibak sebagai budak, ia menantu Aibak juga sedang menjabat menjadi gubernur Badaun. Dia adalah seorang raja Islam yang besar, pandai mengatur negara, dan berjasa. Ia melanjutkan kekuasaan dan perluasan kekuasaan Islam ke wilayah Utara dengan menaklukan negri Malwa. Jasa Iltutmish yang paling besar adalah karena kekuatan pribadinya, kuat persiapan, dan pertahanannya dapat membendung penjarahan Bangsa Mongol yang telah menghancurkan Samarkand, Bukhara, dan tanah Islam yang lain, yang dipimpin oleh Chengis Khan. 
Sebelum wafat, Iltutmish menunjuk putrinya, Razia sebagai pengganti dengan alasan semua anak laki-lakinya tidak ada yang mampu. Para pembesar istana yang keberatan dengan sultan perempuan menganggkat Rukunuddin Firuz sebagai sultan, ternyata ia tidak mampu maka Razia diangkat kembali sebagai penguasa Delhi. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan dimana mana yang menolak sultan perempuan, akhirnya Razia jatuh dari kekuasaannya dan diganti oleh Bahram Shah, putra dari Iltutmish. Sama seperti saudaranya ia pun tak mampu memimpin. Pamannya Nasiruddin, naik menjadi sultan pada 1246 M.
Sultan Nasiruddin (1246-1266) adalah sultan yang saleh dan paling baik pribadinya antara penguasa abad 13 M. ia hidup dengan menulis al- Qur’an dan menjahit topi pada waktu senggang. Ia juga tidak pernah menerima satu sen pun uang negara sebagai gaji, namun ia tidak memiliki anak laki laki. Sebagai penggantinya ia menunjk Ghiasuddin Balban (1266-1287) seorang pahlawan dan bekas budak sultan Iltutmish. Ia terkenal sebagai seorang raja dengan tangan besi, tetapi pada zamannya kebudayaan amat berkembang di Delhi. Lebih dari 15 orang raja dari luar Delhi, terutama bagian Iran mendapat perlindungan disana sebab segan kepada Bangsa Mongol, yang memerangi negri-negri mereka dibawah pimpinan keturunan Chengis Khan. Ia juga berjasa dapat menahan serangan Bangsa Mongol ke anak benua India. Balban dapat mengusir mereka, jasanya itu tidak bisa dilupakan oleh raja raja Islam sehingga ia diakui sebagai sultan (1266-1287). Harapan Sultan Balban akan memimpin kesultanan Delhi tidak terwujud, dikarnakan pangeran Muhammad yang ahli dalam urusan pemerintahan gugur dalam serangan bertubi tubi Bangsa Mongol, Sultan yang brkabung ini akhirnya meninggal. Putranya Bughra Khan menolak tawaran kursi Kesultanan Delhi sebab kondisi cuaca dan kesehatannya . Akhirnya cucunya, Kaikobad putra Bughra Khan diangkat menjadi sultan. Sultan Kaikobad tidak mampu menjalankan roda kepemerintahan dengan baik, akhrirnya para pembesar istana bersekongkol dan berhasil menjatuhkannya dengan menggantikan putranya Kaimus yang baru berumur tiga tahun menjadi sultan. Dengan sultan balita maka situasi sudah sangat kacau dan akhirnya dinasti ini berakhir dan berdiri Dinasti Khalji.

- Dinasti Khalji 1290-1320 M
Dinasti Khalji asal dari nama Khalj, daerah pegunungan di Afganistan. Mereka sangat berjasa dalam islamisasi di Asia terutama di India. Saah seorang tentara Khalji menyelamatkan Muhammad Ghurri dari ambang kematian, saat ia diserang oleh musuh dalam perjalanan pulang setelah kalah di perang Tarin I. pada 1290 M, dan setelah Balban wafat (1287), tidak ada orang kuat lagi yang mempertahakan kekuasaan mereka,sehingga masuklah kekuatan baru dari Afganistan, yaitu Dinasti Khalji. Sultan pertama adalah Sultan Jalauddin Firuz (1290-1296 M) naik tahta. Sultan naik tahta dengan menginjak usia 75 tahun, sesungguhnya sultan tidak sanggup lagi memberikan perlawanan kepada bangsa Mongol. Oleh karena itu orang yang paling terkenal dan kuat, Alaudin Khalji naik tahta dengan membunuh paman dan mertuanya sendiri. Karena, saat ini negara dalam keadaan kacau dan dikhawatirkan orang-orang penjahat dari daerah pegunungan Mewat yang sudah menguasai Delhi. Setelah naik tahta Alauddin Khalji berulang kali menghadapi serangan baik dari musuh dalam negri maupun serangan bertubi tubi dari luar. Pada masa oitu kekuasaanya meliputi hampir seluruh wilayah India, oleh karena itu ia dijuluki sang penakluk Asia. 
Pada tahun tahun setelahnya kesehatan sultan terganggu,  ia cepat marah dan ketagihan minum minuman keras.  Pemerintahan diserahkan kepada panglima Malik Kafur, yang menaklukan Deccan dan India bagian Selatan lainnya. Tanda tanda kekacauan sudah terlihat dalam kekacauan itu sultan meninggal akibat terlalu banyak minum minuman keras. Putra sultan, Qutubuddin Mubarak Khalji berhasil merebut istana dan mengangkat dirinya sebagai sultan. Ia  memerintah selama dua tahun selaku raja yang ganas dan buas. Perbuatan merampas, membunuh, dan memperkosa tidak berkeputusan lagi. Perbuatannya yang sewenang wenang diberantas oleh gubernurnya Khusru seorang Hindu.
Sultan Mubarak dibunuh dan Khursu mengangkat dirinya menjadi sultan dengan nama Nasiruddin. Tetapi kenyataannya ia lebih buaas lagi dari sultan yang digantinya. Delhi mengalami pemerintahan yang selama satu tahun rakyat selalu ditindas. Pengharapan terletak pada Ghazi Malik, seorang panglima sultan yang mempertahankan batas utara dalam serangan Bangsa Mongol yang mendesak lembah India pada masa itu. Atas permintaan kaum ningrat ia memberantas Khusru dan para pengikutnya. Kesultanan Delhi dipersembahkan oleh pembesar pembesar kepada Ghazi Malik dari Bani Tughluq.

- Dinasti Tughlaq 1320-1414 M
Tahun 1320 M, Dinasti Tughlaq didirikan oleh Ghazi Malik yang mampu mengalahkan Dinasti Khalji. Ia merupakan pemipin dari suku Qarauna yang berdiam di antara pegunungan Sind dan Turkistan. Sultan ini mati dengan cara yang kontroversial. Putranya Juna Khan  membuat panggung untuk menyambut ayahnya yang baru pulang dari Bangla. Namun, panggungnya roboh dan sultan mati diinjak oleh gajah. 
Salah seorang raja dari dinasti ini Muhammad ibn Tughlaq terkenal dengan tidak konsisten dalam memutuskan dekrit sehingga rakyat India, baik yang Islam apalagi yang Hindu tidak tahan lagi. Muhammad ibn Tughlaq juga terkenal dengan gagasan lima butir yang terpuji, namun semuanya gagal. Yaitu, proyek pemindahan ibu kota Delhi ke Deogir, dengan alasan untuk mensejahterakan rakyat di daerah selatan dan mengislamkan daerah tersebut, namun setelah pindah ke Deogir, Delhi dikuasai oleh para penjahat, oleh karena itu ia memutuskan untuk kembali. Yang kedua, ekspedisi ke Khurasan, persiapan selama setahun dengan merekrut 370.000 orang dibatalkan. Sebab, ia bekerja sama dengan penguasa Mongol dan penguasa Mesir untuk mengalahkan Khurasan yang dipimpin oleh Abu Sa’id. Namun, usaha ini gagal karena penguasa Mongol telah berganti kekuasaaan dan penguasa Mesir membelot kepada Abu Sa’id. Yang ketiga, adalah usaha penaklukan Qarachil, orang Mewat sering kali mengacau dan mengganggu keamanan di daerah tersebut. Akhirnya, sultan mengirim 100.000 pasukan tentara, namun usaha inipun gagal disebabkan tidak berhasil mendapaatkan informasi kekuatan musuh yang benar. Di samping itu juga cuaca buruk hujan es, maka hampir seluruh tentaranya mati. Yang keempat, mencetak mata uang. Sultan terpengaruh dengan mata uang kertas dari China. Hal ini karena orang Hindu mencetak uang palsu di rumahnya. Sultan akhirnya menarik mata uang baik yang dipalsukan atau tidak. Yang kelima, penambahan pajak di Doab, Karena proyek proyek gagal, maka ia menarik pajak untuk menutupi anggaran guna mengganti mata uang perunggu yang diganti dengan emas. Namun, proyek ini mengalami kegagalan karean para petani membakar sawah dan ari ke hutan. Karena para petugan penarik pajak melipatgandakan pungutan pajak tidak sesuai dengan ketetapan sultan. Karena kondisi yang demikian, maka kemudian banyak bermunculan pemberontakan. Akibatnya raja raja dari kekuasaan Delhi melepaskan diri. Yang tersisa hanyalah Doab dan Punjab. Muhammad Shah tidak dapat mempertahankan kekuasaannya lagi hingga akhirnya ia wafat. Ia digantikan oleh Firuz Shah. Sultan Firuz wafat dalam usia 90 tahun sesudah memerintah selama 42 tahun. Dengan wafatnya, kerajaan yang mulai rapuh itu pecah belah dalam beberapa kerajaan kecil yang dikuasai oleh panglima-panglima, bergelar sayyid. Khizir Khan mengalahkan sultan terakhir dari dinasti ini, maka berdirilah Dinasti Sayyed.

- Dinasti Sayyed 1414-14
Setelah Khizir Shan berhasil menguasai Delhi, ia mengangkat dirinya sebagi sultan. Ia seorang yang alim dan juga tidak pernah ingkar janji ia juga seorang yang berani dan sangat mampu dalam urusan kepemerintahan. Ia wafat pada 1421 M. 
Setelah Khizir Khan, naiklah anaknya, Mubarak Shah. Ia adalah raja yang sangat baik. Namjun ia tebunuh pada 1434 M oleh seorang bangsawan bernama Sadrul Mulk. Keponakan Mubarak, Muhammad Shah, naik tahta. Ia kemudian membalas kematian pamannya dengan memerintahkan tentaranya untuk menangkap dan membunuh Sadrul Mulk. Muhammad Shah digantikan oleh anaknya, Alauddin Alam Shah, yang merupakan raja terakhir dan terlemah dalam dinastinya. Ia secara sukarela menyerahkan tahtanya ke Bahrul Lodi dengan kesepakatan bersahabat membolehkan raja terakhir dari Dinasti Sayyid hidup dengan damai sampai akhir hayatnya pada 1478 M.

- Dinasti Lodi 1451-1526 M
Bahlul Lodi yang naik tahta pada 1451 M adalah seorang raja yang sangat pandai dalam keagamaan, bijaksana, bangsawan, dab sangat mampu. Penaklukan Jaunpur adalah aksi yang menonjol semasa kepemimpinannya. Ia bertahta selama 38 tahun dan meninggal pada 1389 M. Nizam Khan, putra kedua Bahlul Lodi, menggantikannya dengan gelar Sikander Lodi. Ia adalah seorang administrator yang ulung. Ia meninggak pada 1517 M setelah berhasil memimpin selama 28 tahun. Sikandar Lodi merupakan raja yang paling mampu dan paling besar dalam dinasti Lodi. Ia memperluas wilayah kekuasaan ayahnya ke segala arah. Ia adalah seorang yang alim dan berusaha untuk hidupsesuai dengan hokum islam. Ia terkenal dermawan, menyantuni rakyat miskin, dan yang membutuhkan. Ia juga teladan dalam ilmu pengetahuan dan memerintahkan penerjemah karya sangsekerta dalam bidang obat-obatan ke bahasa Persia.

Setelah kematian Sikandar Lodi, putranya Ibrahim Lodi naik tahta. Tetapi, terjadi pemberontakan dari adiknya sendiri, Jalal Khan. Selama kepemimpinannya, ia banyak menangkap dan memenjarakan bangsawan yang menentang nya. Hal ini memicu terjadinya lebih banyak pemberontakan. Beberapa wilayah menyatakan kemerdekaannya. Pada 1525 M, Babur penguasa Farghana (Afganistan), menyerang India. Pada 1526 M, terjadi pertempuran sengit atara Babur dengan Ibrahim Lodi. Lodi terbunuh dan kekuasaannya beralih ke tangan Babur, yang mendirikan Dinati Mughal. 

PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejak Islam menaklukan India sampai berdirinya Dinasti Mughal para sultan berusaha supaya mendapat pengakuan khalifah dari pusat.Ia memiliki dua kekuasaan politik dan spiritual, dari kesultanan Delhi semuanya selalu berusaha agar memperoleh gelar sebagai pengakuan dan tanda-tanda yang lain untuk legitimasi kekuasaan dari pusat kekhalifahan Abbasyiah. Kecuali, Sultan Mubarak Khalji yang memutuskan ikatan dengan kekhalifahan di pusat dan menyatakan bahwa ia adalah penguasa yang mutlak. Demi stabilitas politik sultan-sultan di india merasa bangga apabila mendapat pengakuan dari khalifah pusat. Hubungan dengan Khalifah diputuskan secara resmi sejak Dinasti Mughal. 


DAFTAR PUSTAKA
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/01/20/p2uba9385-jatuh-bangun-kesultanan-delhi-di-india
https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/01/20/p2ubk3385-legasi-kesultanan-delhi
M. Abdul Karim, Sejarah Dan Pemikiran Islam ( Yogyakarta: Bangkasara, cet VII, 2017)