Showing posts with label RESUME RIVIEW DAN RESENSI. Show all posts
Showing posts with label RESUME RIVIEW DAN RESENSI. Show all posts
Adzan | Tafsiran Ayat Ibadah, amazonaws.com
TAFSIR AYAT IBADAH “ADZAN”

.وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (Q.S. Al-Maida : 58). 
Panggilan untuk mengerjakan salat, baik salat jumat atau salat fardu adalah kalimat azan. Maka para ahli fikih telah menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mensyariatkan azan. Akan tetapi masih menjadi perselisihan antara mereka, apakah azan itu wajib atau sunah dan semuanya itu dibicarakan dalam kitab-kitab fikih. Ayat ini menyebutkan salah satu contoh pelecehan dan olok-olok orang kafir yakni: dan apabila kamu menyeru untuk salat, yakni mengumandangkan azan atau mengajak mereka salat, mereka menjadikan ajakan itu bahan ejekan dan permainan. 
Dalam tafsir Ibnu Katsir secara singkat dijelaskan bahwa inilah sifat-sifat para pengikut setan, jika mendengar azan maka mereka membelakang dan menyumbat telinganya sehingga tidak mendengar seruan. Jika sudah selesai maka mereka menghadap dan menggoda dengan mengatakan, “bacalah anu dan bacalah anu”. Terhadap sesuatu yang tidak dibaca sehingga seorang tersebut tidak mengetahui sudah berapa rakaat dia salat. Jika salah seorang diantara kamu mendapat godaan seperti itu maka sujudlah dua kali sebelum salat. Keterangan yang menyatakan seperti ini di tetapkan kesahihan-nya. Az-Zuhri berkata “ Allah menyebutkan soal azan dalam kitab-Nya” Allah berfirman “dan jika kamu mengajak untuk salat..,” demikianlah diriwayatkan oleh Hatim.
Sehubungan dengan firman Allah diatas Ashbat meriwayatkan dari As-Sadi, dia berkata, “ada seorang nasrani Madinah. Jika dia mendengar seseorang menyerukan ‘aku bersaksi bahwa Muhammad rasul Allah’ maka dia berkata ‘mudah-mudahan pendusta itu terbakar!’ pada suatu malam, pembantunya masuk kedalam rumah sambil membawa api ketika dia dan keluarganya sedang tidur. Kemudian ada percikan api yang jatuh lalu membakar rumah. sehingga nasrani dan keluarganya terbakar”. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. \
Selanjutnya, lafaz azan yang sering kita dengar biasanya dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Dawud di Bawah in :

(Abu Dawud : 241)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِيُّ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ قَالَ لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلَاةِ طَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فِي يَدِهِ فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ فَقُلْتُ نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ فَقُلْتُ لَهُ بَلَى قَالَ فَقَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ وَتَقُولُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ فَقَالَ إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقُمْ مَعَ بِلَالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ فَقُمْتُ مَعَ بِلَالٍ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهِ عَلَيْهِ وَيُؤَذِّنُ بِهِ قَالَ فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ وَيَقُولُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ قَالَ أَبُو دَاوُد هَكَذَا رِوَايَةُ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ و قَالَ فِيهِ ابْنُ إِسْحَقَ عَنْ الزُّهْرِيِّ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ و قَالَ مَعْمَرٌ وَيُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ فِيهِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَمْ يُثَنِّيَا 

Muhammad Nasib Ar-Rifai. 2011. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Terjemahan. Depok : Gema Insani.
Soft Ware Hadis Mausuah. Hadis Abu Dawud. No. 241.

Resume Dinasti Bani Umayyah II di Andalusia (Spanyol), https://www.salam-online.com
A. Latar Belakang Kemunculan Bani Umayyah di Andalusia
Penaklukan Spanyol oleh pasukan Islam terjadi pada masa khalifah al-Walid bin Abdul Malik, di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dan Musa Bin Nushair. Di bawah pemerintahan kerajaan Visigoth, Cordova yang sebelumnya makmur menjadi mundur. Kemakmurannya bangkit kembali pada masa kekuasaan Islam. Pada tahun 756 M, kota ini menjadi ibukota dan pusat pemerintahan bani Umayyah di Spanyol, setelah bani Umayyah di Damaskus jatuh ke tangan Bani Abbas tahun 750 M. Bani umayyah sepenuhnya menguasai Afrika Utara pada zaman khalifah Abdul Malik setelah memkan waktu 53 tahun (30-83 H). 
Awalnya Tharif bin Malik merintis dan menyelidiki keadaan spanyol dengan menyebrangi selat antara Maroko dan Eropa itu dengan satu pasukan perang berjumlah 500 tentara berkuda yang menaiki kapal Julian. Kemelut yang ada dalam kerajaan Visigoth membuat Tharif bin Malik memenangkan pertempuran. Selanjutnya Musa bn Nushair mengirim 7000 pasukan di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad yang terdiri dari suku Barbar yang didukung Musa bin Nushair dan sebagian lagi dari orang Arab dikirim khalifah al-Walid. Pasukan itu menyebrangi selat melewati gunung tempat beristirahat dan menyiapkan pasukan, dikenal dnegan nama Gibraltar atau jabal Thariq. Kemudian pasukan Thariq mulai bertempur di suatu tempat  bernama Bakkah lalu raja Roderick dapat dikalahkan. Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibukota kerajaan Goth) ditambah dengan jumlah 5000 pasukan oleh Musa bin Nushair sehingga total pasukan menjadi 12.000 orang. Ditambah lagi orang Yahudi secara rahasia juga mengadakan persekutuan dengan kaum Muslimin. Kemenangan pertama yang dilakukan oleh Thariq bin Ziyad merupakan jalan lapang untuk menaklukkan wilayah yang lebih luas lagi. Sehingga Musa bin Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu pejuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia menyebrangi beberapa selat, satu demi satu kota yang dilewati berhasil dikuasai. Setlah Musa berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajan Gothic, Theodomir di Oriheula, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol mulai Saragossa hingga Navarre. 
Masa pemerintahan Umr bin Abdul Aziz (99 H/717 M), perluasan dilakukan untuk menaklukkan daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan yang dipimpin al-Samah namun ia gagal dan terbunuh tahun 102 H. dilanjutkan dengan penyerangan ke kota Bordesu, Poiter, dan Torus oleh Abdul Rahman bin Abdullah al-Ghafiqi, namun dihadang oleh Charles Martel sehingga pasukan mundur kembali ke Spanyol. Sesudah itu masih terdapat penyerangan-penyerangan ke Avigon dan Lyon. 
Ada dua faktor kemenangan Umat Islam di Spanyol, yaitu: faktor eksternal, kondisi dalam negeri Spanyol  sendiri. Secara politik, Spanyol terbagi dalam negara-negara kecil. Penguasa Gothic tidak toleran terhadap aliran agama Monofisit apalagi yahudi. Mereka dipaksa untuk dibaptis menurut kristen dan akan disiksa bila menolak. Rakyat terbagi atas sistem kelas, sehingga keadaanya diliputi kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Ekonomi masyarakat di sana juga dalam keadaanlumpuh dan kesejahteraan menuru. Konflik kekuasaan antara Raja Roderick dan Witiza, penguasa Toledo. Juga konflik Roderick dengan Rtu Julian mantan penguasa Septah. Tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak memiliki semangat juang. Kaum Yahudi yang bersejutu dan membantu perjuangan umat Islam. Faktor Internal, kondisi pada tubuh oenguasa, tokoh0tokoh penjuan gdan prajurit Islam. Para pemimpin bersatu, kompak dan percaya diri. Mereka cakap dsan berani serta tabah dalam setiap persoalan. Sikap toleransi, persaudaraan dan tolong menolong yang ditunjukkan prajurit Islam.

B. Periodisasi Pemerintahan Bani Umayyah Di Spanyol
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peran yang sangat besar. Masa itu berlangsung selama hampir 8 abad (711-1429 M). Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:[3]
1. Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum terkendali akibat gangguan keamanan di beberapa wilayah, karena pada masa ini adalah masa peletakkan dasar, asas dan invasi Islam di Spanyol. Hal ini ditandai dengan adanya gangguan dari berbagai pihak yang tidak senang kepada Islam. Sentralisasi kekuasaan masih di bawah Daulat Umayyah di Damaskus.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada masa ini Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur), tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama  adalah  Abdurrahman  I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kerajaan Bani Abbas, ketika Bani Abbas berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol.
Pada masa ini umat Islam di Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik, peradaban serta pendidikan. Abdurrahman mendirikan mesjid Cardova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar di Spanyol. Kemudian penerus-penerusnya yang lain seperti Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran, sedangkan Abdurrhman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pada masa Abdurrhma al-Ausath ini pemikiran filsafat mulai masuk, maka ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk dating ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III, yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya muluk at-thawaif (raja-raja kelompok). Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar ‘Khalifah”. Pada periode ini juga umat Islam di Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi Daulat Abbasiyah di Bagdad. Abdurrahman an-Nasir mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pimpinan raja-raja golongan atau al-muluk at-thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Sivilie, Toledo dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Sivilie.
5. Periode Kelima (1086-1248 M) 
Pada periode ini terdapat suatu kekuatan yang masih dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabbitun (1146-1235 M). dinasti Murabbitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama di Afrika Utara yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyifin. Pada tahun 1062 M, ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesh. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam yang tengah mempertahankan kekuasaannya dari serangan raja-raja Kristen. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti Murabbitun berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun. Dinasti Muwahhidun dating ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun’im sekitar tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota penting umat Islam di Cordova, Almeria, dan Granada jatuh di bawah kekuasaannya. Untuk beberapa decade dinasti ini mengalami banyak kemajuan.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periodeini Islam hanya berkuasa di daerah Granada di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nasir. Namun secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Pada periode ini adalah akhir dari ekstensi umat Islam di Spanyol. Menurut Harun Nasution, pada sekitar tahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerahini.

C. Masa Kejayaan dan Kontribusi Bani Umayyah
Ketika Al-Dakhil berkuasa, Cordova menjadi ibukota Negara. Ia membangun kembali kota ini dan memperindahnya, serta membangun benteng di sekeliling kota dan istananya. Sepeninggal al-Dakhil, Cordova terus berkambang dan menjadi salah satu kota terkemuka di dunia. Peninggalan al-Dakhl yang kini masih tegak berdiri adalah Masjid Jami Cordova.
a. Pada masa Hisyam 1 dimana ia memugar kembali jembatan tua yang dibangun oleh al-khaulani, di samping menanbah bangunan-bangunan megah dan taman-taman yang indah. Pemugaran selanjutnya dilakukan pada masa Al-Mustanshir dan Al-Manshur.
b. Pada masa Al-Mustanshir dan Al-Mu’ayyah yang merupakan perkembangan paling pesat yang terjadi pada saat itu dimana pusat kota yang dikelilingi oleh tembok dengan tujuh pintu gerbangnya, pada waktu itu sudah berada di tengah, karena berkembangnya daerah pinggiran di sekitarnya.
Kebanggaan Cordova tidak lengkap tanpa:
1. Al-Qashr al-Kabir
Adalah kota satelit yang dibangun oleh Ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa orang penggantinya.
2. Al-Rushafah
Adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun al-Dakhil di sebelah barat laut Cordova. Istana ini mencontoh bentuk istana dan taman Rushafah yang pernah dibangun oleh nenek moyangnya di Syria.
3. Masjid Jami’ Cordova
4. Jembatan Cordova
5. Al-Zahrar
Dibangun al-Nashir di sebuah bukit di pegunungan Sierra Morena sekitar tiga mil di sebelah utara Cordova. Kemegahan al-Zahra hamper menyamai al-Qashr al-kabir. Termasuk keistimewaan al-Zahra  ialah kolam-kolam marmer buatan konstantinopel berukir aneka macam bentuk, sebagian diantarannya berlapis emas.
Kecuali membangun al-Zahra, al Nashir membangun saluran air yang menembus gunung sepanjang 80 km, karena Wadi al-Kabir yang mengaliri al-Zahra dan Cordova pada musim kemarau airnya tidak bias diminum
6. Al-Zahirah
Dibangun Al-Manshur di pinggir Wadi Al-Kabir, tidak jauh dari Cordova. Di dalamnya dibangun istana besar dan indah tempat kediaman al-Manshur, gedung-gedung pemerintahan, gudang makanan dan gudang  senjata, tempat tinggal para menteri, perwira militer, dan pegawai tinggi lainnya.
Sebagaimana halnya al-Zahra, al-Zahirah dilengkapi taman-taman indah,
pasar-pasar, toko-toko, masjid-masjid, dan bangunan umum lainnya. Perkembangan al-Zahirah begitu pesat, sehingga pada satusisinya kemudian bersambung dengan Cordova, sedang sisinya yang lain bersambung dengan al-Zahra yang dalam perkembangan selanjutnya telah  menjadi bagian depan kota Cordova.

Perkembangan Bahasa dan Sastra Arab
Bahasa Arab masuk ke Andalusia bersamaan dengan masuknya Islam ke daratan itu. Syalibi yang mengutip keterangan Nicholson menyatakan bahwa pada permulaan abad IX M bahasa arab sudah menjadi bahasa resmi di Andalusia. Sejalan dengan perkembangan bahasa Arab, berkembang pula kesusastraan Arab yang dalam arti sempit, disebut adab, baik dalam bentuk puisi maupun prosa.
Diantara jenis prosa adalah khithabnah, tarrasul, maupun kartafiksi lainnya. Menurut Amer Ali ”Orang-orang Arab Andalusia adalah penyair-penyair alam. Mereka menemukan bermacam jenis puisi, yang kemudian dicontoh oleh orang-orang Kristen di Eropa selatan.
Diantara sastrawan terkemuka  Andalusia adalah:
1. Abu Amr Ahmad ibn Muhammmad ibn Abd Rabbih
Ia menekuni ilmu kedokteran dan musik, tetapi kecenderungan lebih banyak kepada sastra dan sejarah. Ia semasa dengan empat orang khalifah Umayyah yang bagi mereka telah ia ubah syair-syair, sehingga ia memperoleh kedudukan terhormat di istana.
2. Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid. Baik prosa maupun puisi, hanya beberapa potong saja yang ditemukan
3. Ibn Hazm orang penyair sufi yang banyak mengubah puisi-puisi cinta. Isi-puisi yang dihimpun dalam antologi Permata seorang dara, berisi gambaran aspek-aspek percintaan dari pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain
4. Muluk al-thawaif dianggap penyair  paling besar di Andalusia pada masa itu. Seirama dengan perkembangan syair, berkembang pula musik dan seni suara. Hasan Ibn Nafi’ yang lebih dikenal dengan panggilan Ziryab mempunyai keahlian dalam seni musik dan tarik suara, pengaruhnya masih membekas sampai sekarang, bahkan dia dianggap peletak dasar dari music Spanyol  modern.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Pemisahan Andalusia dari Bagdad secara politis, tidak berpengaruh terhadap transmisi keilmuan dan peradaban antara keduanya. Banyak muslim di Andalusia yang menuntut Ilmu di negeri Islam belahan timur itu, dan tidak sedikit pula paa ulama dari timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia.
Kebanyakan umat Islam menganut paha Maliki dimana dasar pemikiran hukumnya adalah hadits. Perhatian muslim Andalusia terhadap hadits Rasululllah saw amat besar pada waktu itu. Mahzab ini diperkenalkan pertama kali oleh Ziyad ibn Abd al-Rahman Ibn Ziyad al-lahmi. Tokoh lain yang tidak kalah populernya dalam pengembangan ilmu fiqih ialah Abu Bakar Muhmmad ibn Marwan ibn Zuhr.
Ilmu agama yang berkembang amat pesat adalah Ilmu Qira’at, yaitu ilmu yang membahas fadh-lafadh  Al-Qur’an yang baik dan benar. Abu Amr al-Dani Utsman ibn Said adalah ulama ahli Qira’at kenamaan dari Andalusia yang mewakili generasinya.
Sejalan dengan perkembangan filsafat, berkembang  pula ilmu-ilmu lain. Ilmu pasti yang banyak digemari bangsa Arab berpangkal dari buku India Sinbad yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibrahim al-Fazari.
Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak terlepas kaitannya dari kerjasama yang harmonis antara penguasa, hartawan dan ulama. Umat Islam di Negara-negara Islam pada masa itu berkeyakinan bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan umumnya, merupakan salah satu kewajiban pemerinthan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan hasrat untuk mengadakan perpustakaan-perpustakaan, di samping mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Sekolah dan perpustakaan, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan pribadi, banyak dibangun di berbagai penjuru kerajaan, sejak dari kota-kota besar hingga ke desa-desa.
Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hamper tidak  ada seorang pun penduduknya yang buta huruf. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke negara-negara  Eropa Kristen, melalui kelompok-kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di Universitas Cordova, Malaga, Granada, Sevilla atau lembaga lembaga ilmu pengetahuan lainnya di Andalusia

D. Persamaan dan Perbedaan Dinasti Bani Umayyah I dan II
Pada masa Umayyah I, latar belakang didirikan karena adanya perjanjian antara Mu’awiyah dengan Hasan. Pusat pemerintahan Islam yang sebelumnya ada di Madinah dipindahkan ke Damaskus. Bentuk pemerintahan yang mulanya Theo-demokratis menjadi Monarki (kerajaan) yang berbasis Islam. Puncak kejayaan masa Bani Umayyah I ini pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Adapun kebijakan-kebijakan yang diberlakukan pada masa Umayyah I, sebagai berikut:
a. Pemisahan kekuasaan. Kekuasaan agama dan negara dibedakan. Agama diserahkan kepada ulama.
b. Pembagian wilayah terdapat 10 provinsi.
c. Bidang administrasi pemerintah. Ada 5 bagian sekretaris dengan tugas yang berbeda-beda dibawah pimpinan Amir (penguasa) di daerah.
d. Arabisasi. 
Pada masa Umayyah II di Spanyol membuat berbagai perubahan dalam kebijaksanaan. Dijalankan pemerintahan yang masih sama sepert bangsa Romawi yaitu sifat sentralistik. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan raja. Sehingga terjadi perubahan organisasi politikyang menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan. Sistem pemerintahan masih sama yaitu monarki. 
Pendidikan Andalusia yang berasal dari banyak unsur seperti Arab, Barbar, Spanyol Yahudi dan Slavia, sehingga lebih maju dari masa Umayyah I. hal ini menjadikan sering terjadinya hubungan timbal balik dengan cendikiawan-cendikiawan di luar Eropa terkhusus Eropa.  Pemerintahan juga memberikan kebebasan dalam beragama. Hal tersebut digunakan sebagai siasat agar tidak banyak terjadi gesekan dengan kerajaa-kerajaan kristen di Eropa. 
Dalam bidang militer, dibentuk armada militer baru yaitu shaqalibah (pasukan yang dibeli sejak belia dari kriten dan dididik dengan tradisi Islam-Arab menjadi pasukan yang setia terhadap penguasa). 

Daftar Sumber
http://syafieh.blogspot.com/2014/02/bani-umayyah-ii-perkembangan-islam-di.html#ixzz5oQyf37t5
Okti, Regita. Perkembangan Islam pada Masa Daulah Umayyah di Andalusia. https://www.kompasiana.com/regizhara/5a1579499f91ce5e6309dbf2/perkembangan-islam-pada-masa-daulah-umayyah-di-andalusia?page=all#, 
Hadil, Fajar. Sejarah Dinasti Bani Umayyah I dan II. https://www.academia.edu/31881013/SEJARAH_DINASTI_UMAYYAH_I_DAN_II,  




 Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. blogspot.com

Judul buku      : Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya
Pengarang       : Departemen Agama Indonesia; Hj. Faiqoh
Penerbit           : Dirjen Klelembagaan Islam
Tahun terbit     : 2003
Tebal Buku      : 96 halaman



Gambaran isi buku
Bab 1 pendahuluan
a.       Latar Belakang
b.      Tujuan Penyusunan
c.       Ruang Lingkup
Bab 2 sejarah Perkembangan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
a.       Pondok Pesantren
1.      Berdirinya Pondok Pesantren
2.      Pondok Pesantren dan Pemerintah
3.      Perkembangan Bentuk Pondok Pesantren
4.      Potensi dan Kelemahan Pondok Pesantren
5.      Pengembangan Pondok Pesantren
b.      Madrasah Diniyah
1.      Berdiirnya Madrasah Diniyah
2.      Bentuk-bentuk Madrasah Diniyah
3.      Potensi dan Kelemahan Madrasah Diniyah
4.      Pengembangan Madrasah Diniyah
Bab 3 penyelenggaraan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
a.       Pondok Pesantren
1.      Tipologi Pondok Pesantren
2.      Kurikulum atau Manhaj
3.      Metode Pembelajaran
4.      Masa Pembelajaran dan Syahadah
b.      Madrasah Diniyah
1.      Tipologi Madrasah Diniyah
2.      Kurikulum dan Metode Pembelajaran
3.      Masa pembelajaran dan Ijazah
Bab 4 Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah dalam Sistem Pendidikan Nasional
a.       Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dalam Sistem Pendidikan Nasional
b.      Posisi dan Peranan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah dalam Sistem Pendidikan Nasional
c.       Masalah yang dihadapi
Bab 5 Pelayanan Direktorat Pekapontren kepada Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren
a.       Visi
b.      Misi
c.       Strategi
d.      Program
Bab 6 Wajib Belajar Pendidikan Dasar di Pondok Pesantren
a.       Wajib Belajar Pendiidikan Dasar
b.      Urgensi Wajib Belajar Pendidikan Dasar
c.       Wajib Belajar Pendidikan Dasar
d.      Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Penyelenggara Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Bab 7 Pondok Pesantren dan Dakwah Islamiyah
a.       Pondok {esantren sebagai Pusat Pengembangan Dakwah
b.      Aspek-aspek dakwah lainnya
Bab 8 Pondok Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat
a.       Peranan Pondok Pesantren dalam Pengemabangan Masyarakat
b.      Penyelenggaraan Unit Usaha dan Pengembangan Keterampilan di Pondok Pesantren


Isi buku
Bab 1 Pendahuluan
      a.       Latar Belakang
Pondok pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. pendidikan di Pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikn lainnya yang sejenis. Seiring dengan perkembangannya meuncul Madrasah Diniyah, yang merupakan jenis pendidikan keagamaan yang memberikan pelajarab khusus ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Dengan keberadaan pondok pesantren dan madrasah diniyah turut beroeran dalam pengembangan masyarakat dan pusat pengembangan sumber daya manusia.
      b.      Tujuan Penyusunan
Adapun tujuan dari penyusunan buku ini adalah sebagai berikut,
1.      Mewujudkan pola pengembnagan pondok pesantren dan madrasah diniyah yang aplikatif, inovatif, fleksibel dan berkualitas, sesuai dengan karakteristik pondok pesantren dan madrasah diniyah serta tuntutan zaman.
2.      Memantapkan arah, rujukan/acuan dan framework yang jelas bagi peningkatan kualitas sumber daya dan profesioanalisme manajemen;
3.      Memantapkan posisi strategis pondok pesantren dan madrasah diniyah dalam berbagai bidang kehidupan.
4.      Memberikan alternatif yang lain dan baru dalam penyelenggaraan pondok pesantren dan madrasah diniyah secara optimal dan integral.
   c.       Ruang Lingkup
Disini diuraikan mengenai sistematika penyusunan buku. Dengan menyebutkan isi bahasan setiap babnya.


Bab II : Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah.
a.       Pondok Pesantren
1.      Berdirinya Pondok Pesantren
Pondok pesantren ini merupakan lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. pendiidkan Islam bermula ketika orang-oran yang masuk Islam ingin mengetahui lebih banyak isi ajaran agama yang beru dipeluknya. Sehingga pesantren ini menjadi tempat untuk belajar agama. Maka yang diajarkan di dalamnya berupa materiagama yang langsung digali dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab.
2.      Pondok Pesantren dan Pemerintah
Pada awalnya pesantren dianggap pemerintah Belanda sebagai kubu pertahana melawan penguasa.  Namun sejak Indonesia merdeka, perhatian pemerintah mulia tampak dengan direalisasikan dengan menjadikan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan sebagai bagian penting dalam tugas Departemen Agama.upaya penitng yang dilakukan berkaitan dengan hubungan pesantren dengan pemerintah adalah mengusahakan agar pondok pesantren menyatu dengan mainstream pendidikan di Indonesia, sehingga status bagian integral dalam sistem pendidikan nasional tidak hanya tercantum secara normatif saja tetapi juga ada dalam perwujudan nyata.
3.      Perekembangan Bentuk Pondok Pesantren
Perubahan pada bentuk pondok pesantren muncul sejak bersinggungan dengan lembaga sekolah formal. Yang didalam lembaga pendidikan formal ini cenderung mengarah pada pendidikan umum.
4.      Potensi dan Kelemahan Pondok Pesantren
a.       Potensi Pondok Pesantren
Pondok pesantren berperan sebagai pemebentuk moral bangsa. Dengan adanya figur ulama menjadi panutan bagi masyarakat sekitar. Dengan begitu minat masyarakat terhadap pesantren cukup besar, karena disamping diberikan pendidikan agama dan pelajaran umum, juga bimbingan moral.
b.      Kelemahan Pondok Pesantren
Pondok pesantren yang merupakan lembaga tradisional. Pemimpin pondok pesantren yang jika wafat maka digantikan oleh penerusnya yang belum tentu memiliki kharisma seperti pemimpin sebelumnya, maka diperlukan kaderisasi yang baik. Juga karena belum kuatnya budaya demokrasi dan disiplin, sangat berkaitan dengan watak pesantren yang independen. Kebersihan juga menjadi soal yang paling umum, karena image kumuh dan berantakan merupakan hal yang biasa ada di pondok.
5.      Pengembangan Pondok Pesantren
Sebagai akibat dari keikutsertaan dalam laju kehidupan yang terus berkembang maka pondok pesantrean juga turut berkembang dalam aspek pokonya, yaitu pendidikan dan dakwah, juga berkembang hampir semua aspek kemasyarakatan.

b. Madrasah Diniyah
1.      Berdirinya Madrasah Diniyah
Madrasah diniyah berkembang dari bentuknya yang sederhana yaitu pengajian-pengajian di masjid, langgar dan surau. Madrasah diniyah ini ada yang diselenggarakan di pondok pesantren dan di luar pondok.
2.      Bentuk-bentuk Madrasah Diniyah
Dari segi pendekatan dan model pembelajaran yang dilakukan madrasah diniyah mengenal beberapa bentuk kegiatan pembelajaran, antara lain:
a.       pengajian anak atau remaja yaitu rombongan belajar yang mempelajari pokok ajaran agama Islam bagi anak-anak remaja.
b.      Studi Islam atau kursus agama yaitu rombongan belajar yang mempelajari pokok-pokok ajaran agama Islam
c.       Bentuk-bentuk lainnya berupa TPA, sekolah sore pengajian Islam dan lain-lain.
3.      Potensi dan Kelemahan Madrasah Diniyah
a.       Potensi Madrasah Diniyah
Sebenarnya potensi madrasah diniyah tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren, karena keduanya sama-sama lembaga pendidikan yang lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan murni dilaksanakan swasta, kekuatan utama madrasah diniyah adalah keluwesan dalam  menghadapi masalah yang timbul. Juga kebebasannya memilih pola, pendekatan, bahkan sistem pembelajaran yang dipergunakan tanpa terikat model-model tertentu.
b.      Kelemahan Madrasah Diniyah
Dilihat dari perkembangan jumlah diniyah dan jumlah siswanya yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, lembaga pemdidikan keagamaan ini tidak dapat berkembang secara optimal. Sebagian besar lembaga ini berkembang di daerah-daerah terpencil dengan kondisi ekonomi peserta didik yang rendah. Juga perhatian negara dan pemerintah yang maasih rendah.
4.      Pengembangan Madrasah Diniyah
Madrasah diniyah merupakan bagian dari lembaga pendidikan berbasis pada masyarakat yang memiliki keragaman bentuk dan kekhasan tersendiri. Maka dengan banyaknya ragam madrasah diniyah, kebijakan dasar mengatur agar mengoptimalkan pemberdayaan dan oendampingan agar semua potensi teraktualisasi.

Bab III Penyelenggaraan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
a.       Pondok Pesantren
1.      Tipologi Pondok Pesantren
Masing-masing pondok pesantren mempunyai keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lain. Namun tentu ada persamaan yang menjadi khas pesantren, yaitu lima unsur yang pasti ada dalam sebuah pondok, yaitu:
a)      Kiayi,
b)      Santri,
c)      Pengajian,
d)     Asrama,
e)      Masjid yang menjadi segala aktivitas pendidikan keagamaaan dan kemasyarakatannya.
Dalam tingkat konstitusi dengan sistem lama dan keterpengaruhan oleh sistem modern, secara garis besar pondok pesantren dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk, yaitu pondok pesantren salafiyah pondok pesantren yang menyelenggarakan pembelajaran dengan pendekatan tradisoan), pondok pesantren khalafiyah pondok pesantren yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan dengan pendekatan modern, melalui pendidikan formal), dan pondok pesantren campuran/kombinasi.
2.      Kurikulum atau Manhaj
Madrasah atau sekolah yang diselenggarakan oleh pondok pesantren menggunakan kurikulum yang sama dengan kurikulum di madrasah atau sekolah lain. Lembaga pendidikan formal yang selenggarakan oleh pondok pesantren selain madrasah dan sekolah, kurikulumnya disusun oleh pondok pesantren yang bersangkutan.
3.      Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran baku yang dipergunakan di madrasah dan sekolah tidak dipergunakan dalam pengajian kitab di pesantren-pesantren salafiyah. Metode pembelajaran di pondok salafiyah ada yang bersifat tradisional. Berikut ini metode yang diterapkan pondok salafiyah, yaitu sorogan, wetonan/bandongan,metode musyawarah/bahtsul masa’il, metode pengajian pasaran, muhafadhoh dan metode demonstrasi/praktik ibadah.
4.      Masa Pembelajaran dan Syahadah
Masa pembelajaran adalah jangka waktu tertentu yang dihabiskan untuk menempuh pendidikan di pondok pesantre. Pada saat santri dirasa cukup menerima pendidikan, baik itu berupa pengajian dan pendidikan keterampilan maka santri akan menerima ijazah. Dalam pondok pesantren, pengertian ijazah memiliki nama-nama tertentu yang tidak seragam dengan kata ijazah. Ada yang menyebutnya dengan istilah syahadan atau lainnya.
         


Laporan buku | Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya, i1.wp.com
Laporan buku

Pengarang       : Departemen Agama Indonesia; Hj. Faiqoh
Penerbit           : Dirjen Klelembagaan Islam
Tahun terbit     : 2003
Tebal Buku      : 96 halaman



Gambaran isi buku
Bab 1 pendahuluan
a.       Latar Belakang
b.      Tujuan Penyusunan
c.       Ruang Lingkup
Bab 2 sejarah Perkembangan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
a.       Pondok Pesantren
1.      Berdirinya Pondok Pesantren
2.      Pondok Pesantren dan Pemerintah
3.      Perkembangan Bentuk Pondok Pesantren
4.      Potensi dan Kelemahan Pondok Pesantren
5.      Pengembangan Pondok Pesantren
b.      Madrasah Diniyah
1.      Berdiirnya Madrasah Diniyah
2.      Bentuk-bentuk Madrasah Diniyah
3.      Potensi dan Kelemahan Madrasah Diniyah
4.      Pengembangan Madrasah Diniyah
Bab 3 penyelenggaraan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
a.       Pondok Pesantren
1.      Tipologi Pondok Pesantren
2.      Kurikulum atau Manhaj
3.      Metode Pembelajaran
4.      Masa Pembelajaran dan Syahadah
b.      Madrasah Diniyah
1.      Tipologi Madrasah Diniyah
2.      Kurikulum dan Metode Pembelajaran
3.      Masa pembelajaran dan Ijazah
Bab 4 Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah dalam Sistem Pendidikan Nasional
a.       Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dalam Sistem Pendidikan Nasional
b.      Posisi dan Peranan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah dalam Sistem Pendidikan Nasional
c.       Masalah yang dihadapi
Bab 5 Pelayanan Direktorat Pekapontren kepada Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren
a.       Visi
b.      Misi
c.       Strategi
d.      Program
Bab 6 Wajib Belajar Pendidikan Dasar di Pondok Pesantren
a.       Wajib Belajar Pendiidikan Dasar
b.      Urgensi Wajib Belajar Pendidikan Dasar
c.       Wajib Belajar Pendidikan Dasar
d.      Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Penyelenggara Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Bab 7 Pondok Pesantren dan Dakwah Islamiyah
a.       Pondok {esantren sebagai Pusat Pengembangan Dakwah
b.      Aspek-aspek dakwah lainnya
Bab 8 Pondok Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat
a.       Peranan Pondok Pesantren dalam Pengemabangan Masyarakat
b.      Penyelenggaraan Unit Usaha dan Pengembangan Keterampilan di Pondok Pesantren


Isi buku
 Bab 1 Pendahuluan
        a.       Latar Belakang
Pondok pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. pendidikan di Pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikn lainnya yang sejenis. Seiring dengan perkembangannya meuncul Madrasah Diniyah, yang merupakan jenis pendidikan keagamaan yang memberikan pelajarab khusus ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Dengan keberadaan pondok pesantren dan madrasah diniyah turut beroeran dalam pengembangan masyarakat dan pusat pengembangan sumber daya manusia.
b.      Tujuan Penyusunan
Adapun tujuan dari penyusunan buku ini adalah sebagai berikut,
1.      Mewujudkan pola pengembnagan pondok pesantren dan madrasah diniyah yang aplikatif, inovatif, fleksibel dan berkualitas, sesuai dengan karakteristik pondok pesantren dan madrasah diniyah serta tuntutan zaman.
2.      Memantapkan arah, rujukan/acuan dan framework yang jelas bagi peningkatan kualitas sumber daya dan profesioanalisme manajemen;
3.      Memantapkan posisi strategis pondok pesantren dan madrasah diniyah dalam berbagai bidang kehidupan.
4.      Memberikan alternatif yang lain dan baru dalam penyelenggaraan pondok pesantren dan madrasah diniyah secara optimal dan integral.
      c.       Ruang Lingkup
Disini diuraikan mengenai sistematika penyusunan buku. Dengan menyebutkan isi bahasan setiap babnya.


Bab II : Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah.
a.       Pondok Pesantren
1.      Berdirinya Pondok Pesantren
Pondok pesantren ini merupakan lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. pendiidkan Islam bermula ketika orang-oran yang masuk Islam ingin mengetahui lebih banyak isi ajaran agama yang beru dipeluknya. Sehingga pesantren ini menjadi tempat untuk belajar agama. Maka yang diajarkan di dalamnya berupa materiagama yang langsung digali dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab.
2.      Pondok Pesantren dan Pemerintah
Pada awalnya pesantren dianggap pemerintah Belanda sebagai kubu pertahana melawan penguasa.  Namun sejak Indonesia merdeka, perhatian pemerintah mulia tampak dengan direalisasikan dengan menjadikan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan sebagai bagian penting dalam tugas Departemen Agama.upaya penitng yang dilakukan berkaitan dengan hubungan pesantren dengan pemerintah adalah mengusahakan agar pondok pesantren menyatu dengan mainstream pendidikan di Indonesia, sehingga status bagian integral dalam sistem pendidikan nasional tidak hanya tercantum secara normatif saja tetapi juga ada dalam perwujudan nyata.
3.      Perekembangan Bentuk Pondok Pesantren
Perubahan pada bentuk pondok pesantren muncul sejak bersinggungan dengan lembaga sekolah formal. Yang didalam lembaga pendidikan formal ini cenderung mengarah pada pendidikan umum.
4.      Potensi dan Kelemahan Pondok Pesantren
a.       Potensi Pondok Pesantren
Pondok pesantren berperan sebagai pemebentuk moral bangsa. Dengan adanya figur ulama menjadi panutan bagi masyarakat sekitar. Dengan begitu minat masyarakat terhadap pesantren cukup besar, karena disamping diberikan pendidikan agama dan pelajaran umum, juga bimbingan moral.
b.      Kelemahan Pondok Pesantren
Pondok pesantren yang merupakan lembaga tradisional. Pemimpin pondok pesantren yang jika wafat maka digantikan oleh penerusnya yang belum tentu memiliki kharisma seperti pemimpin sebelumnya, maka diperlukan kaderisasi yang baik. Juga karena belum kuatnya budaya demokrasi dan disiplin, sangat berkaitan dengan watak pesantren yang independen. Kebersihan juga menjadi soal yang paling umum, karena image kumuh dan berantakan merupakan hal yang biasa ada di pondok.
5.      Pengembangan Pondok Pesantren
Sebagai akibat dari keikutsertaan dalam laju kehidupan yang terus berkembang maka pondok pesantrean juga turut berkembang dalam aspek pokonya, yaitu pendidikan dan dakwah, juga berkembang hampir semua aspek kemasyarakatan.
b. Madrasah Diniyah
1.      Berdirinya Madrasah Diniyah
Madrasah diniyah berkembang dari bentuknya yang sederhana yaitu pengajian-pengajian di masjid, langgar dan surau. Madrasah diniyah ini ada yang diselenggarakan di pondok pesantren dan di luar pondok.
2.      Bentuk-bentuk Madrasah Diniyah
Dari segi pendekatan dan model pembelajaran yang dilakukan madrasah diniyah mengenal beberapa bentuk kegiatan pembelajaran, antara lain:
a.       pengajian anak atau remaja yaitu rombongan belajar yang mempelajari pokok ajaran agama Islam bagi anak-anak remaja.
b.      Studi Islam atau kursus agama yaitu rombongan belajar yang mempelajari pokok-pokok ajaran agama Islam
c.       Bentuk-bentuk lainnya berupa TPA, sekolah sore pengajian Islam dan lain-lain.
3.      Potensi dan Kelemahan Madrasah Diniyah
a.       Potensi Madrasah Diniyah
Sebenarnya potensi madrasah diniyah tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren, karena keduanya sama-sama lembaga pendidikan yang lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan murni dilaksanakan swasta, kekuatan utama madrasah diniyah adalah keluwesan dalam  menghadapi masalah yang timbul. Juga kebebasannya memilih pola, pendekatan, bahkan sistem pembelajaran yang dipergunakan tanpa terikat model-model tertentu.
b.      Kelemahan Madrasah Diniyah
Dilihat dari perkembangan jumlah diniyah dan jumlah siswanya yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, lembaga pemdidikan keagamaan ini tidak dapat berkembang secara optimal. Sebagian besar lembaga ini berkembang di daerah-daerah terpencil dengan kondisi ekonomi peserta didik yang rendah. Juga perhatian negara dan pemerintah yang maasih rendah.
4.      Pengembangan Madrasah Diniyah
Madrasah diniyah merupakan bagian dari lembaga pendidikan berbasis pada masyarakat yang memiliki keragaman bentuk dan kekhasan tersendiri. Maka dengan banyaknya ragam madrasah diniyah, kebijakan dasar mengatur agar mengoptimalkan pemberdayaan dan oendampingan agar semua potensi teraktualisasi.

Bab III Penyelenggaraan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
       a.       Pondok Pesantren
1.      Tipologi Pondok Pesantren
Masing-masing pondok pesantren mempunyai keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lain. Namun tentu ada persamaan yang menjadi khas pesantren, yaitu lima unsur yang pasti ada dalam sebuah pondok, yaitu:
a)      Kiayi,
b)      Santri,
c)      Pengajian,
d)     Asrama,
e)      Masjid yang menjadi segala aktivitas pendidikan keagamaaan dan kemasyarakatannya.
Dalam tingkat konstitusi dengan sistem lama dan keterpengaruhan oleh sistem modern, secara garis besar pondok pesantren dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk, yaitu pondok pesantren salafiyah pondok pesantren yang menyelenggarakan pembelajaran dengan pendekatan tradisoan), pondok pesantren khalafiyah pondok pesantren yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan dengan pendekatan modern, melalui pendidikan formal), dan pondok pesantren campuran/kombinasi.
2.      Kurikulum atau Manhaj
Madrasah atau sekolah yang diselenggarakan oleh pondok pesantren menggunakan kurikulum yang sama dengan kurikulum di madrasah atau sekolah lain. Lembaga pendidikan formal yang selenggarakan oleh pondok pesantren selain madrasah dan sekolah, kurikulumnya disusun oleh pondok pesantren yang bersangkutan.
3.      Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran baku yang dipergunakan di madrasah dan sekolah tidak dipergunakan dalam pengajian kitab di pesantren-pesantren salafiyah. Metode pembelajaran di pondok salafiyah ada yang bersifat tradisional. Berikut ini metode yang diterapkan pondok salafiyah, yaitu sorogan, wetonan/bandongan,metode musyawarah/bahtsul masa’il, metode pengajian pasaran, muhafadhoh dan metode demonstrasi/praktik ibadah.
4.      Masa Pembelajaran dan Syahadah
Masa pembelajaran adalah jangka waktu tertentu yang dihabiskan untuk menempuh pendidikan di pondok pesantre. Pada saat santri dirasa cukup menerima pendidikan, baik itu berupa pengajian dan pendidikan keterampilan maka santri akan menerima ijazah. Dalam pondok pesantren, pengertian ijazah memiliki nama-nama tertentu yang tidak seragam dengan kata ijazah. Ada yang menyebutnya dengan istilah syahadan atau lainnya.

Baca Juga: Contoh Laporan Buku