Showing posts with label SEJARAH KESENIAN ISLAM INDONESIA. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH KESENIAN ISLAM INDONESIA. Show all posts
Tari Saman, steemitimages.com


Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Tari adalah gerakan badan yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian musik, gamelan, dan sebagainya. John Martin seorang penulis dan kritikus tari dari Amerika Serikat mengatakan bahwa, substansi baku tari adalah gerak, dan gerak merupakan pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia. Seorang ahli tari Jawa yaitu Pangeran Suryodiningrat mengatakan bahwa tari adalah gerak-gerak dari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik serta mempunyai maksud tertentu. Definisi ini dipertajam oleh Soedarsono. Secara umum pengertian dari para ahli tentang tari dapat disimpulkan sebagai gerakan badan yang diiringi suara yang ritmis dengan teratur.
Saman merupakan tari tradisonal masyarakat Gayo atau suku Gayo yang mendiami Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara, dan masyarakat Gayo yang berada di Kabupaten Aceh Timur (daerah Lukup atau Serbejadi). Sejarah tari Saman secara pasti belum dapat diketahui. Hal ini disebabkan oleh kurangnya, bahkan belum ada, para peneliti mengkaji masalah ini secara ilmiah. Selain itu, faktor utama penyebab tidak diketahuinya asal usul tari Saman adalah disebabkan oleh rendahnya budaya tulis baca pada masyarakat Gayo, pemilik asli saman ini. Masyarakat Gayo, selain yang tinggal di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, belum memiliki budaya tulis baca sehingga cerita mengenai Saman hanya disampaikan dari mulut ke mulut (istilah orang Gayo kené bekené yang artinya konon kata orang).[1]
Secara umum ada beberapa pendapat mengenai asal mula Tari saman, di antaranya yaitu:
a.       Catatan Marcopolo tahun 1292
b.      Dibuat oleh ulama bernama Syeh Saman
              c.       Seni yang dipengaruhi tarekat Samaniyah

Gayo adalah salah satu tarian tradisional yang mengakar pada suku masyarakat Gayo, yang ditarikan secara berkelompok dengan berjejer oleh kaum pria. Adapun elemen-elemen posisi atau kedudukan peserta atau pemain yang ada dalam tari Saman adalah penangkat, pengapit, penyepit, dan penupang. Karena syarat elemen tersebut harus dipenuhi, maka jumlah minimal penari saman untuk satu penampilan adalah 7 orang. 1 penangkat, sedangkan pengampit, penyepit, dan penumpang masing-masing 2.

Simbol elemen penari saman[2]
Posisi
Tugas
Penangkat
Tokoh utama dalam tari Saman atau orang yang menjadi komando dalam Saman. Penangkat secara umum melantunkan salam, sek, jangin atau syair-syair, dan memberi perintah dengan sek.
Pengapit
Tokoh pembantu penangkat yang posisinya berada di sebelah kiri dan kanan penangkat. Tugas utama
pengapit adalah membantu penangkat dalam segala hal.
Penyepit
Penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan penangkat. Sebagai penari, ia sangat berperan menjepit (menghimpit), yakni membuat kerapatan antara penari sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/bersaf (horizontal).
Penupang
Penari yang berposisi paling ujung kanan dan kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang, selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari, juga berperan menopang/menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus

Simbol gerakan tari saman[3]
Gerakan
Pengertian
Lengek
adalah gerakan menggelengkan kepala ke kiri atau ke kanan dan juga sering dilakukan sambil melakukan gelengan dengan bentuk kepala melengkung.
Linggang
adalah gerakan yang berupa goyangan badan ke kiri dan ke kanan.
Singkih
adalah gerakan memiringkan badan ke kiri atau ke kanan.
Tungkuk
adalah gerakan menundukkan kepala ke bawah.
Langak
adalah gerakan yang menadah kepala ke atas dengan sambil memukul dada.
Angguk
adalah gerakan yang berupa angguk.
Girik
adalah kepala berputar-putar seperti setengah baling-baling.
Tepok
adalah tepukan tangan. Tepok ini sangat variatif dalam Saman karena posisinya berbaur dalam lagu Saman.
Tebah
adalah pukulan ke dada. Pukulan ke dada juga bervariasi karena kadang-kadang lambat dan tidak keras, tetapi kadang-kadang cepat dan keras.
Gerutup
adalah gerak tangan tepukan yang menggebu-gebu, menepuk dada maupun hempasan tangan di paha, dengan posisi badan duduk berlutut atau berdiri di atas lutut.
Guncang
adalah gerak yang bergoyang, perpaduan gerak badan dan tepukan tangan menerpa dada dalam kualitas gerak yang tinggi dan menggebu-gebu.
Surang Saring
adalah pola gerak selang-seling atau bergantian baik untuk posisi atas (ke atas bawah) maupun selang-seling ke depan-belakang.

3.    Perkembangan tari saman
Masyarakat Gayo yakin bahwa tari Saman sudah merupakan seni yang berlangsung turun-temurun dalam masyarakat Gayo. Hal ini dapat dibuktikan bahwa di setiap kampung di daerah Gayo pasti ada tari Saman. Lebih dari itu, bahwa kampung di Daerah Gayo, terutama di Gayo Lues, selalu ada belah (bagian terkecil dari kampung). Jumlah belah pada setiap kampung berbeda-beda, tergantung pada besar kecilnya kampung tersebut, ada kampung terdiri atas dua, tiga, empat, lima, dan enam belah.[4]
Dari keberadaan tari Saman dalam masyarakat Gayo, dapat dipastikan bahwa kesenian ini mempunyai berbagai fungsi sehingga dapat berlanjut hingga kini, walaupun (mungkin saja) pada awalnya hanya dilakukan oleh masyarakat untuk hiburan semata. Kesenian Saman ini berasal dari kesenian rakyat yang mengandalkan tepuk tangan dan juga pukulan ke dada dan paha dengan bernyanyi. Kegiatan seperti ini tentu merupakan hiburan bagi anak muda yang sedang tidak bekerja.
Dalam perkembangan selanjutnya mungkin saja fungsi ini berkembang sesuai dengan kebutuhan yang ada pada masyarakat sendiri dan tidak mustahil dimanfaatkan oleh pendakwah sebagai sarana penyebaran agama. Dengan demikian, fungsi hiburan bisa berubah menjadi media pengembang agama Islam. Sebagai media pengembang agama Islam, sampai kini masih bisa kita rasakan dalam syair-syairnya, terutama sekali dalam langkah-langkah awalnya selalu dimulai dengan salam. Syair-syair Saman masih banyak yang berkaitan dengan konsep agama.[5]
Selanjutnya, Saman berfungsi sebagai hiburan atau sebagai tontonan sehingga kegiatan Saman muncul pada acara tertentu seperti hari ulang tahun, peringatan maulid, hari raya idul fitri, dan juga acara-acara peresmian. Akan tetapi, fungsi Saman sebagai hiburan tidak bisa dipisahkan fungsi ini satu-persatu karena dalam konteks hiburan syair Saman juga masih banyak yang berbau nasihat atau adat istiadat, atau juga penerapan peraturan pemerintahan. Dengan demikian, mungkin hanya wujud fisiknya saja sebagai hiburan, sedangkan wujud hakikatnya masih dapat berjalan sebagai fungsi lain.[6]
4.    Filosofi
a.       Filosofi Gerak
Duduk dengan dua bentuk mengarah kepada duduk tahiyyatul awal dan tahiyyatul akhir dalam salat.
Gerak salam artinya setiap umat muslim diwajibkan untuk selalu memberi salam kepada sesama muslim ketika bertemu.
Gerakan tunduk bermakna penghormatan terhadap sesama manusia.
Memukul dada bermakna simbol rasa patriotik atau rasa kepahlawanan yang dimiliki oleh setiap orang Gayo.
Kertek atau ketrip jari bermakna keceriaan.
Memakai daun kepies artinya menyebarkan wewangian (kebaikan).
Selang seling merupakan simbol kemajemukan sebagai khazanah dan bukan penghalang dalam mewujudkan sebuah kehidupan yang indah dalam masyarakat.
Gerak anguk atau angguk artinya berzikir. Ini bermakna kewajiban seorang hamba untuk terus selalu berzikir kepada- Nya.
Girik (kepala berputar) bermakna bahwa dunia selalu berputar. Gerak ini juga melambangkan bahwa kehidupan ini selalu bergerak dan berubah.
Lingang artinya pohon yang dihembus angin, yang bermakna bahwa segala sesuatu benda atau makhluk yang bergerak di bumi ini, tidak terjadi dengan kesendiriannya.
Tungkuk artinya bersujud berserah diri, yang bermakna bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Oleh karena itu, sepatutnyalah ia bersujud dan berserah diri hanya kepada Allah semata.
Gerak singkih artinya gerak yang menyerupai bentuk “salam” dalam shalat ke kiri dan ke kanan.
Gerak Langak artinya menadah tangan ke atas atau berdoa.
Tepuk tangan merupakan simbol dari ungkapan senang atau bahagia.[7]

b.      Filosofi Syair
Kadang berdosa péh kite ku Tuhen, negon perbueten i wasni ingin ini (mungkin berdosa juga kita kepada Tuhan, melihat tingkah laku pada malam ini).
Ike gere becaya ko kén Tuhen, rui wasni uten sahan keta nejemé (kalau kamu tidak percaya kepada Tuhan, duri di hutan siapa gerangan menajamkannya).
Barik sideh péh carongni beru, baju bamu turah seluk ko. Barik sideh péh carongni bujang, songkok lintang turah cube ko (bagaimana pun cantiknya gadis, baju warna abu-abu pasti kau pakai, bagaimana pun gantengnya laki-laki, kopiah melintang pasti kau coba).
I akérat kahé dedete reman kerna tukang saman atasni denie (di akhirat nanti dada kita lembam karena pemain saman di atas dunia).
I belang laén dih edet gere ninget asal agama (di Belangkejeren lain sekali adat tidak ingat tentang agama).
I denie enti ko jengkat, i akerat kona sikse (di dunia jangan kamu sombong, di akhirat kena siksa).
I denie gati semiang kati senang kite lang-lang ho (di dunia sering sembahyang agar senang kita nanti/di akhirat) Syair ini juga mengingatkan masyarakat tentang agama.
Kén ama ine kite turah hurmet kati endepet sapaat ari Tuhente (kepada bapak dan ibu kita harus hormat agar mendapat syafaat dari Tuhan kita).[8]

Baca Juga: Divinisi dan Ruang Lingkup Kesenian Uslam Indonesia


[1] Rajab Bahry, dkk., SAMAN: Kesenian dari Tanah Gayo (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 15.
[2] Rajab Bahry, dkk., SAMAN: Kesenian dari Tanah Gayo (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 60.
[3] Rajab Bahry, dkk., SAMAN: Kesenian dari Tanah Gayo (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 61.
[4] Rajab Bahry, dkk., SAMAN: Kesenian dari Tanah Gayo (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 19
[5] Rajab Bahry, dkk., SAMAN: Kesenian dari Tanah Gayo (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 20
[6] Rajab Bahry, dkk., SAMAN: Kesenian dari Tanah Gayo (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 21
[7] Ibid., hlm. 62-63.
[8] Ibid., hlm. 65-68.


Kesenian Islam, blogspot.com

Pengantar

            Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan beribu nikmat kepada kami, begitupun shalawat beserta salam tiada yang berhak menjadi hilir kecuali baginda Rasulullah SAW, semoga rahmat dan hidayah dapat tercurahkan kepada kita semua. Tanpa nikmat, hidayah, inayah serta iradah-Nya, mustahil kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Beberapa kalimat yang kami sumbangkan dari daya pikir yang lemah ini, terkumpullah kini menjadi satu makalah.
            Dalam aspek manapun, makalah ini belum memenuhi kebenaran yang sempurna, bahkan nanti pembaca mungkin dengan mudah akan menemukan kesalahan. Itu semua murni karena ketidaktahuan serta keteledoran kami. Namun, dari segala kekurangan sudah kami saring menjadi seminimal mungkin, kamipun menaruh harapan yang begitu agung dalam penyusunan makalah ini.
            Setidaknya, dalam penyusunan makalah ini kami tidak mendasarkan pada pemikiran kami sendiri, ada banyak rujukan buku yang kami gunakan, sehingga kami berharap akan banyak manfaat yang dapat pembaca ambil dari makalah ini.
            Pada akhirnya, makalah yang kami susun ini, kami persembahkan kepada khususnya Dra. Soraya Adnani, M. Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Kesenin Islam Indonesia yang memberi kami kesempatan untuk menyusun makalah ini, dan yang terakhir kepada teman-teman mahasiswa yang seperjuangan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan agama. Semoga Allah memberkati makalah kami. Aamiin.

                                                                                                Sleman, 24 Maret 2017


                                                                                                Irfan Hamid




BAB. I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

          Pengertian seni secara umum dikemukakan oleh 2 tokoh sebagai berikut; Seni adalah salah satu unsur kebudayaan yang bersifat universal (Koentjaraningrat, 1990: 204). Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam pembentukan kebutuhan hidupnya. Kesenian merupakan sesuatu yang hidup selaras dengan mekarnya rasa keindahan yang tumbuh dalam sanubari manusia dari masa ke masa, dan hanya dapat dinilai dengan ukuran rasa 9Haryono, 1999: 92).[1]
          Sedangkan Seni Islam adalah seni yang mengungkapkan sikap pengabdian kepada Allah. Di sini kita sudah dapat membedakan seni yang dihasilkan jika dibandingkan dengan pengertian seni secara umum. Seni islam juga memiliki kriteria yang harus dipenuhi, diantaranya:
- Seni yang mengungkapkan pandangan hidup umat Muslim,
- Seni yang diciptakan desainer Muslim,
- Seni yang sesuai dengan bayangan seorang Muslim, dan
- Segala bentuk seni yang mengarah pada nilai keislaman.
Belum lagi pendapat para ulama mengenai syarat-syarat berseni dalam Islam yang semakin memperjelas perbedaan seni umum dan seni islam.
          Jenis seni islam sebenarnya tidak jauh dengan seni umum, yaitu meliputi seni rupa, seni musik, seni pertunjukkan, seni sastra, dan seni film/sinema. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara khusus Seni Pertunjukkan Islam Indonesia, dikerucutkan lagi pada periode klasik. Untuk memperjelas gambaran tentang seni yang kami bahas, kami telah membuat bagan/peta konsep mengenai seni di bawah ini:
Gambar Peta Konsep Seni

B. Rumusan Masalah

1.    Bagaimana definisi[2] dan ruang lingkup Seni Pertunjukkan Islam?
2.    Bagaimana periodisasi Seni Pertunjukkan?
3.    Bagaimana perkembangan Seni Pertunjukkan Islam Indonesia Klasik?
4.    Apa saja contoh Seni Pertunjukkan Islam Indonesia?

C. Tujuan

1.    Mengetahui definisi dan ruang lingkup Seni Pertunjukkan Islam
2.    Mengetahui periodisasi Seni Pertunjukkan
3.    Mengetahui perkembangan Seni Pertunjukkan Islam Indonesia Klasik
4.    Mengetahui contoh Seni Pertunjukkan Islam Indonesia



BAB. II
PEMBAHASAN

A. Difinisi dan Ruang Lingkup Seni Pertunjukan Islam

          Seni pertunjukkan (Performance Art) adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Seni ini mencakup seni mainstream seperti teater, tari, musik, dan sirkus. Pertunjukkan biasanya melibatkan empat unsur yaitu waktu, ruang, tubuh seniman, dan hubungan seniman dengan penonton.[3] Berkenaan hubungan dengan penonton, maka sudah jelas bahwa seni pertunjukkan dilakukan dihadapan penonton saat seni ini ditampilkan.[4]
          Batasan atau ruang lingkup seni pertunjukkan adalah segala ungkapan seni yang substansi dasarnya adalah yang digelarkan langsung di hadapan penonton. Seni pertunjukkan dipilah ke dalam:
1. Musik (Vokal, instrumen, gabungan)
2. Tari (representasional dan non- representasional)
3. Teater (dengan orang atau boneka/wayang sebagai dramatis personae).[5]
Pembagian tersebur sebenarnya merupakan rekaan untuk membuat pengelompokkan secara sistematis agar memudahkan pemahamannya.
          Setelah didapati definisi dan ruang lingkup seni pertunjukkan secara umum, maka kami akan memaparkan Seni Pertunjukkan dalam Islam. Pengertian ini bisa disimpulkan dengan menggabungkan pengertian Seni Pertunjukkan dan pengertian Seni Islam. Maka dari itu didapatlah pengertian Seni Pertunjukkan Islam adalah pertunjukkan yang memiliki kandungan pesan keislaman dan dilakukan atas dasar ungkapan pengabdian kepada Allah,[6]  serta tidak melanggar syariat Islam.

B.  Periodisasi Seni Pertunjukkan

          Seperti sejarah seni yang lain, seni pertunjukkan di Indonesia juga mengalami perkembangan. Perkembangan seni pertunjukkan Indonesia dapat dikatakan sejalan dengan sosial-politik yang sedang mendominasi di Indonesia. Berikut adalah pembabakan atau periode-periode seni pertunjukkan yang pernah ada di Indonesia:
1.    Zaman Pra-Sejarah Awal: Zaman ini ditandai oleh kehidupan manusia yang belum menetap. Zaman ini juga disebut Paleo dan Meso-lithik. Pada zaman ini di Indonesia tidak ditemukan data mengenai kemungkinan adanya seni pertunjukkan, berbeda dengan Eropa Paleo-lithik di mana terdapat lukisan gua yang menggambarkan figur manusia dengan sikap seperti menari.
2.    Zaman Pra-Sejarah Akhir: Zaman ini disebut masa Neolitik dan Perunggu-Besi. Pada beberapa benda logam hasil zaman ini terdapat sejumlah penggambaran yang ditafsirkan (secara etnografik) sebagai gambar orang menari dengan hiasan kepala berupa bulu-bulu dan topeng. Bukti lain juga terdapat pada nekara, sarkofagus, dan menhir berpahat topeng yang digunakan saat menari.
3.    Zaman Hindu-Budha: Zaman ini memperlihatkan lonjakan data seni pertunjukkan karena didukung sumber-sumber tertulis. Selain itu juga relief candi dengan jelas memperlihatkan adegan menari dan bermain musik. Di sana-sini banyak penggalan karya sastra memberikan deskripsi mengenai pertunjukkan.
4.    Zaman Islam: Zaman ini memperlihatkan suatu masukan tersendiri dalam perkembangan seni pertunjukkan Indonesia. Seni Pertunjukkan Islam ini agaknya melanjutkan dan memodifikasi seni yang telah ada pada Zaman Hindu-Budha. Unsur Hindu-Budha banyak terbawa dalam seni pertunjukkan namun juga terlihat unsur Islam yang jelas.
5.    Zaman Kolonial: Bersamaan dengan kedatangan bangsa Eropa, bangsa Indonesia diperkenalkan dengan gagasan-gagasan baru, seperti prinsip-prinsip keilmiahan, pendidikan formal, serta bentuk kesenian Eropa. Dalam seni pertunjukkan, ragam baru yang diperkenalkan adalah apa yang disebut Toneel dan musik diatonik.
6.    Zaman Kemerdekaan: Zaman ini memperlihatkan kekhasan dalam perkembangan seni, termasuk seni pertunjukkan. Di satu sisi bentuk-bentuk baru yang khususnya diambil alih dari kebudayaan Eropa digunakan untuk mengembangkan ragam kesenian baru sebagai “Kesenian Nasional”.[7]

          Dari 6 periode seni pertunjukkan di atas, kami akan membahas lebih dalam periode ke 4 yaitu saat seni pertunjukkan islam di Indonesia baru bermula. Dengan kata lain pembahasan akan menitikberatkan pada masa klasik.

C.  Perkembangan Seni Pertunjukkan Islam Indonesia Klasik

          Agama Islam sendiri tidak banyak masuk ke dunia kesenian untuk akhirnya menumbuhkan kaidah-kaidah seni yang khas Islam. Satu-satunya yang diatur adalah seni membaca Al-qur’an (Qiroah), merupakan satu-satunya yang tanpa ragu dikatakan seni Islam. Perwujudan seni lain misalnya musik dalam arti luas, seni rupa, arsitektur, tari, dll, pada umumnya dianggap bercorak Islam karena perkembangannya bertaut dengan sejarah penyebaran agama Islam. Di Indonesia misalnya, corak seni Islam dikenali karena diperkenalkan bersamaan dengan upaya memperkenalkan agama Islam. Sedangkan bahan dasar seninya adalah kebudayaan di luar Islam yang sudah ada di Indonesia yang kemudian dimasuki corak Islam dalam isi dari seni tersebut.[8]
          Tidak bermaksud mengunggulkan suatu daerah dan mendiskreditkan daerah lain, namun realitanya secara umum perkembangan seni pertunjukkan di Indonesia tergambar dari apa yang terjadi di Pulau Jawa. Perkembangan ini dapat dibagi dalam tiga golongan sebagai berikut:
1. Golongan pertama: adalah bentuk seni lama yang telah berakar pada wilayah jawa, yang dimasuki nilai islam. Hasilnya adalah seni yang tampak luarnya bukan dari Islam namun isi atau hakikatnya adalah bernilai islam. Contohnya adalah wayang kulit, wayang golek, wayang krucil, dll.
2. Golongan kedua: adalah bentuk-bentuk pengungkapan baru beserta sarananya yang baru pula, yang diperkenalkan bersamaan dengan perkenalan terhadap agama Islam. Pertunjukan-pertunjukan jenis Rodat, Saman, Slawatan, dan sebangsanya adalah contoh dari golongan ini.
3. Golongan ketiga: Bentuk baru sama sekali yang tak terkait erat tradisi, dan orang awam akan sulit mengidentifikasikan golongan ini sebagai seni Islam. Karena tidak ada tanda-tanda luarnya yang dapat dikatakan sebagai “cap” Islam. Golongan inilah yang menjadi seni pertunjukkan modern, kontemporer, atau baru.[9]
Dari tiga golongan di atas, kami tidak akan memperdalam bahasan ke golongan ke tiga, karena golongan ketiga merupakan seni pertunjukkan islam modern.
          Mengenai perkembangan awal seni pertunjukkan, ada beberapa pendapat di antaranya: pertama, menurut Umar Kayam, seni pertunjukkan lahir dan dinikmati oleh masyarakat, ini membuat seni pertunjukkan terikat dengan sistem kekuasaan, kepercayaan, sosial, dan sebagainya. Kedua, menurut Brandon pertunjukkan tradisional yang masih bisa dinikmati sekarang sebenarnya adalah bentuk ritual dari masa prasejarah. Ketiga, menurut Djelantik munculnya seni pertunjukan asal mulanya dari kegiatan ritual yang dibutuhkan manusia.[10]
             Masuknya Islam ke Indonesia, atau jawa khususnya dipaksa bertemu dengan adat setempat yang sangat mendalam dan dicintai masyarakat Jawa. Adat ini kental akan ciri seni yang estetik, simbolik, dan hiburan yang dipandu oleh sistem nilai tertentu. Pada sisi lain, syiar agama Islam pada waktu itu masih harus diperkenalkan dengan intensif pada masyarakat Jawa. Syiar Islam ini memerlukan sarana yang efektif dan juga memerlukan situasi kebatinan yang damai, yang diupayakan tanpa harus merombak sepenuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat Jawa. Seperti contoh seni pertunjukkan, orang Jawa tanpa wayang bisa seakan tercerabut jati dirinya. Maka, wayang itulah yang rupanya ‘dimasuki’ dan ‘digunakan’ untuk Syiar agama Islam tersebut.[11]

D.  Contoh Seni Pertunjukkan Islam Indonesia

1.    Wayang
Kesenian wayang sendiri awalnya sangat kental dengan ajaran Hindu melalui epik Ramayana dan Mahabarata. Tapi seiring masuknya Islam yang dibawa oleh saudagar dari Arab, Gujarat, dan Cina, telah banyak perubahan yang terjadi pada kesenian wayang ini. Perubahan dalam sistem pewayangan jawa secara baku terutama oleh para walisongo. Hal ini disebabkan wayang pada saat itu dijadikan sebagai media dakwah dalam menyebarkan ajaran Islam.
Sebelum Walisongo menggunakan wayang sebagai media dakwah mereka, sempat terjadi perdebatan diantara mereka mengenai adanya unsur-unsur yang bertentangan dengan aqidah,doktrin keesaan tuhan dalam Islam.Selanjutnya para Wali melakukan berbagai penyesuaian agar lebih sesuai dengan ajaran Islam.Bentuk wayangpun diubah yang awalnya berbentuk menyerupai manusia menjadi bentuk yang baru. Wajahnya miring, leher dibuat memanjang.
Salah satu yang mendorong adanya perubahan dalam kesenian wayang adalah raden Patah. Pendiri dan Sultan pertama kerajaan Demak ini meminta para wali agar mengubah beberapa aturan wayang. Atas dasar itu para wali secara gotong royong melakukan sejumlah perubahan. Wayang beber karya Prabangkara (zaman Majapahit) yang dahulunya berbentuk seperti manusia asli dimodifikasi sedemikian rupa dari kulit kerbau yang ditipiskan, dibuat menyamping, tangan dipanjangkan dan digapit dengan penguat tanduk.
Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral ke-Islaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.[12]
Berikut adalah jenis-jenis wayang:
a.    Wayang beber
          Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang tertua di Indonesia. Dalam pertunjukan narasi ini, lembaran gambar panjang dijelaskan oleh seorang dalang. Wayang beber tertua dapat ditemukan di Pacitan, Donorojo, Jawa Timur. Selain dari kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, wayang beber juga menggunakan kisah-kisah dari cerita rakyat, seperti kisah asmara Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.
b.    Wayang kulit
          Di Jawa Tengah dan Timur, jenis wayang yang paling populer adalah wayang kulit atau  wayang kulit purwa. Wayang ini berbentuk pipih dan terbuat dari kulit kerbau atau kambing. Lengan dan kakinya bisa digerakkan. Di Bali dan Jawa, pertunjukan wayang kulit sering kali menggabungkan cerita-cerita Hindu dengan Budha dan Islam. Selain kisah-kisah religius, cerita-cerita rakyat serta mitos sering digunakan.

c.    Wayang Klitik (atau Karucil)
          Bentuk wayang ini mirip dengan wayang kulit, namun terbuat dari kayu, bukan kulit. Mereka juga menggunakan bayangan dalam pertunjukannya. Kata “klitik” berasal dari suara kayu yang bersentuhan di saat wayang digerakkan atau saat adegan perkelahian, misalnya. Kisah-kisah yang digunakan dalam drama wayang ini berasal dari kerajaan-kerajaan Jawa Timur, seperti Kerajaan Jenggala , Kediri, dan Majapahit. Cerita yang paling populer adalah tentang Damarwulan. Cerita ini dipenuhi dengan kisah perseturan asmara dan sangat digemari oleh publik.
d.    Wayang golek
          Pertunjukan ini dilakukan menggunakan wayang tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Jenis wayang ini paling populer di Jawa Barat. Ada 2 macam wayang golek, yaitu wayang golek papak cepak dan wayang golek purwa. Wayang golek yang banyak dikenal orang adalah wayang golek purwa. Kisah-kisah yang digunakan sering mengacu pada tradisi Jawa dan Islam, seperti kisah Pangeran Panji, Darmawulan, dan Amir Hamzah, pamannya Nabi Muhammad a.s.
e.    Wayang wong
          Jenis wayang ini adalah sebuah drama tari yang menggunakan manusia untuk memerankan tokoh-tokoh yang didasarkan pada kisah-kisah wayang tradisional. Cerita yang sering digunakan adalah  Smaradahana. Awalnya, wayang wong dipertunjukkan sebagai hiburan para bangsawan, namun kini menyebar menjadi bentuk kesenian populer[13]

2.   Tari Zapin
Zapin berasal dari bahasa arab yaitu "Zafn" yang mempunyai arti pergerakan kaki cepat mengikut rentak pukulan. Diperkirakan berasal dari Yaman, Zapin merupakan khazanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh Arab. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan.
Musik pengiringnya terdiri atas dua alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
Tari Zapin sangat ragam gerak tarinya, walaupun pada dasarnya gerak dasar zapin-nya sama, ditarikan oleh rakyat di pesisir timur dan barat Sumatera, Semenanjung Malaysia, Sarawak, Kepulauan Riau, pesisir Kalimantan dan Brunei Darussalam.[14]
3.    Tari Piring
Pada awalnya, Tari Piring ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan di dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.
 Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.
Pada awalnya Tari Piring diperuntukkan buat sesembahan para dewa, dibarengi dengan penyediaan sesaji dalam bentuk makanan yang lezat-lezat. Tarian ini dibawakan oleh beberapa perempuan yang dengan penampilan khusus, berbusana indah, sopan, tertib, dan lemah lembut.
Dalam perjalanannya, orientasi atau tujuan sesembahan Tari Piring bergeser drastis. Ketika Islam datang, orientasi penyajian tidak lagi tertuju pada para dewa, namun dipersembahkan kepada para raja dan pejabat, khususnya saat ada pertemuan atau forum khusus dan istimewa lainnya.[15]





BAB. III
PENUTUP

Kesimpulan

            Seni Pertunjukkan Islam adalah pertunjukkan yang memiliki kandungan pesan keislaman dan dilakukan atas dasar ungkapan pengabdian kepada Allah,  serta tidak melanggar syariat Islam. Seni pertunjukkan di Indonesia berlangsung beberapa periode dari masa Paleolithikum, Neolithikum, hingga masa modern (termasuk di dalamnya masa Islam). Di Indonesia seni pertunjukan islam klasik terjadi pada masa masuknya agama Islam. Saat itu para wali menggunakan seni pertunjukan yang sudah dimiliki masyarakat untul disisipi nilai ketauhidan. Contoh konkret dari seni pertunjukan Islam adalah wayang dan tari-tarian yang ketika masa pra-islam kebanyakan dipakai sebagai ritual Hindu-Buddha, dan malanggar syariat. Namun setelah Islam masuk justru seni ini dijadikan sebagai ‘tombak’ untuk mentauhidkan orang Indonesia pra-islam.

Daftar Pustaka


Djaenuderadjat, Endjat, dkk. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan           Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. Jakarta: Rajawali Pers.

Sujarno. 2003. Seni Pertunjukan Tradisional, Fungsi dan Tantangannya (Yogyakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.


http://tari-piring.blogspot.co.id/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tari_Zapin






[1] Sujarno, Seni Pertunjukan Tradisional, Fungsi dan Tantangannya (Yogyakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003), hlm. 23
[2] Dalam KBBI, Definisi berarti “…rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.”
[5] Endjat Djaenuderadjat, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 3
[6] Endjat Djaenuderadjat, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 77-78
[7] Endjat Djaenuderadjat, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 16-18
[8] Endjat Djaenuderadjat, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 77
[9] Endjat Djaenuderadjat, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 78
[10] Sujarno, Seni Pertunjukan Tradisional, Fungsi dan Tantangannya (Yogyakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003), hlm. 23
[11] Endjat Djaenuderadjat, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukkan dan Seni Media, Editor: Mukhlis PaEni. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 98
[12] Dikutip dari, https://topiknugroho.wordpress.com/2011/12/15/kesenian-wayang-kulit-dalam-islam/ (pada tanggal 3/4/17, pukul 21:11)
[13] Dikutip dari, http://belindomag.nl/id/seni-budaya/5-macam-wayang-indonesia (pada tanggal 3/4/17, pukul 22:04)
[15] Dikuti dari, http://tari-piring.blogspot.co.id/ (pada tanggal 3/4/17, pikul 22:00)