Showing posts with label SEJARAH ISLAM MASA KEMERDEKAAN. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH ISLAM MASA KEMERDEKAAN. Show all posts

Kesenian Islam Indonesia, encrypted-tbn0.gstatic.com
          Puji syukur saya ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan penuh pemahan diri saya sendiri dengan judul “Sejarah kebangkitan kebudayaan Islam Indonesia” dengan sebagaiamana mestinya. Sholawat serta salam tak lupa kami anjurkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW.
                                                                                                          
Makalah ini disusun agar kita bisa menambah wawasan kita semua mengenai sejarah kebangkitan kebudayaan Islam Indonesia, maka dari itu apabila ada kekurang atau kesalahan dalam penulisan makalah ini, sangat diharapkan kritik dan saran dari semua pihak supaya untuk kelancaran dalam pembelajaran dan diskusi, 


Penulis
                                                                                                                 



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.  Latar Belakang............................................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah........................................................................................ 1
C.  Tujuan Penulisan.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 2
A.  Sejarah sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia................................ 2
B.   Perkembangan Islam masa Orde Lama....................................................... 2
C.   Perkembangan Islam masa Orde Baru......................................................... 3
D.  Perkembangan Islam masa reformasi hingga Sekarang.............................. 4
BAB III PENUTUP................................................................................................. 7
A.  Kesimpulan.................................................................................................. 7
B.   Saran............................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 8




                                                                         





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Islam datang ke Indonesia dengan membawa peradaban baru yang memiliki corak keislaman secara khusus. Beberapa bentuk peradaban Islam yang mewarnai kehidupan dan pemikiran masyarakat Indonesia. Peradabaan Islam yang dibawa oleh para mubaligh Islam dari Arab dan telah mengakulturasikan peradaban Islam dengan tradisi setempat, oleh karena itu, hal tersebut membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Islam di Indonesia.
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sebagian besar beragama Islam, sehingga sudah selaknya menempatkan diri untuk membangun peradaban Islam. Kalau kita mau mengamati secara mendalam akan perkembangan Islam di Indonesia maka kita harus mengamati mulai dari masuknya Islam, penyebaran, pengalaman, perkembangan, dan kondisi yang sekarang kita alami di Indonesia. Sebab, peristiwa sejarah merupakan problematika yang meliputi dimensi waktu masa lampau, sekarang dan masa depan.
B.     Rumusan Masalah
A.              Bagaiamana sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia?
B.               Bagaimana perkembangan Islam masa Orde Lama?
C.               Bagaimana perkembangan Islam masa Orde Baru?
D.              Bagaimana perkembangan Islam masa reformasi hingga sekarang?
C.    Tujuan Penulisan
1.                   Untuk mengetahui sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia
2.                   Untuk mengetahui perkembangan Islam masa Orde Lama
3.                   Untuk mengetahui perkembangan Islam masa Orde Baru
4.                   Untuk mengetahui perkembangan Islam masa Reformasi hingga Sekarang

BAB II PEMBAHASAN
A.    Sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia
Mengenai tempat asal Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad mansyur suryanegara mengintisarikan nya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercaya datang dari wilayah Gujarat melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Mekkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari timur tengah melalui jasa para pedagang muslim abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam dipercaya tiba di Indonesia melalui pedagang Persia yang singgah ke Gujarat untu melakukan perjalanan ke Nusantara pada abad ke-13 M.
Islam mulai memasuki wilayah indonesia sejak pertama kali negara indonesia mengadakan pemilihan umum (pemilu). Dengan cara membuat suatu wadah, yaitu mendirikan partai politik. Pada waktu itu partai yang berasaskan islam yaitu ada dua pertama, Partai Masyumi dan Partai NU. Melalui wadah ini umat islam memainkan perannya sebagai seorang politikus yang ingin menanamkan nilai-nilai islam. Dalam tesis Harun Nasution, beliau mengemukakan bahwa ada perbedaan besar antara NU dan Masyumi. Kaum modernis di dalam Masyumi pada umumnya mereka hendak membangun suatu masyarakat muslim dan sebagai akibatnya mereka mengharapkan suatu negara Islam. Kelompok yang diwakili NU lebih sering memperjuangkan suatu Negara sebagai langkah pertama dan melalui negara Islam ini mereka hendak mewujudkan suatu masyarakat Islam. Suatu perbedaan lain adalah, bahwa ulama mendapat kedudukan yang penting dalam organisasi negara konsep NU, sedangkan posisi mereka tidak begitu menonjol dalam pemikiran kaum Masyumi.[1]
B.     Perkembangan Islam Pada Masa Orde Lama
Setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden Pada 1959, berakhirlah masa Demokrasi liberal, berubah menjadi Demokrasi terpimpin Soekarno.
Timbulnya pemusatan kekuasaan mencuatkan konsekuensi yang variatif terhadap pertai-artai islam. Dengan beberapa Keppres, sejumlah Parpol dikebiri karena dianggap menciptakan pemerintahan yang tidak efektif. Beberapa tindakan seperti kristalisasi NU dan PSII, (namun Perti yang dianggap wakil kelompok NASAKOM dibiarkan tetap ada), sedangkan yang terjadi pada Masyumi, beberapa pemimpinnya yang dianggap pendukung sejati negara Islam dan oposisi yang tak berkesudahan dipenjarakan dan Masyumi di bubarkan pada 1960.
Partai islam yang tersisa (NU, Perti dll) melakukan penyesuaian diri dengan keinginan Soekarno yang didukung oleh ABRI dan PKI. Beberapa bentuk penyesuaiannya seperti pemberian gelar Waly Al-Amr al-Dahruri bi al-Syaukah kepada Soekarno oleh NU, dan Doktor Honoris Causa dari IAIN dengan promotor K.H. Saifudin Zuhri (salah satu pimpinan NU). NU mendukung beberapa manipol Usdek Soekarno, sehingga pasca dibubarkannya Masyumi, NU menjadi Partai Islam terbesar pada waktu itu. Beberapa pihak menganggap NU sebagai partai oportunis karena sikap proaktifnya. Anggapan ini kemudian dibantah oleh petinggi-petinggi Nu, merka beralasan hal ini sebagai bentuk pengimbangan terhadap kekuatan PKI. Namun tetap saja secara keseluruhan peranan partai Islam mengalami Kemerosotan. Tak ada jabatan menteri penting yang dipercayakan kepada tokoh Islam dalam masa Demokrasi Terpimpin ini. Satu-satunya kepentingan Islam yang diluruskan adalah keputusan MPRS tahun 1960 yangmemberlakukan pengajaran agama di Universitas dan perguruan tinggi. Legislasi Islam sebagai ideologi negara dianggap mepmberi pengaruh negatif terhadap pemerintahan.
Di masa Demokrasi terpimpin ini, Soekarno kembali menyuarakan ide lamanya NASAKOM (Nasionalis, Agamis,dan Komunis), suatu pemikiran yang ingin menyatukan Nasionalis “sekular”, Islam dan Komunis. Gagasan ini adalah upaya untuk meredam gejolak politik antara kelompok-kelompok tersebut. Dengan menampung ketiganya dalam satu payung, Soekarno mencoba mengendalikan tiga unsur politik ini. Namun, dengan adanya upaya ini maka implikasinya, peranan partai mengalami erosi karena , kecuali PKI yang memainkan peranan penting. Keadaan ini menimbulkan ketegangan antara Islam dan kmunisme dan munculnya ketidakpuasan dari pihak Nasionalis Sekuler dan angkatan bersenjata. Kemudian muncul semacamanggapan adanya penghianatan Soekarno terhadap Pancasila. Soekarno dianggap berselingkuh. Pancasila ditafsirkan sesuai dengan caranya sendiri. Meskipun dalam Pancasila sendiri, unsur-unsur NASAKOM ini nampak jelas ada di dalamnya. Tetapi dengan mengangkatnya dari sebuah substansi yang ada di dalam menjadi sebuah ideologi yang setara, maka penduaan ini tidak terelakkan. Indonesia harus mengangkat Pancasila sekaligus menjunjung NASAKOM-isme. Slogan-slogan, kemakmuran, kesejahteraan, nasionalisme yang agamis berusaha diserukannya , mungkin untuk mengangkat citranya.
Akhirnya masa kejatuhan kekuasaannya pun tiba. Kondisi negara berkebalikan dengan slogan-slogan Soekarno yang pada waktu itu ia gembar-gemborkan. Dengan inflasi keuangan negara sebesar 600 persen, maka era Soekarno pun berakhir, dengan gagalnya Geakan 30 September PKI tahun 1965, dimana umat Islam bersama ABRI dan golongan lain bekerjasama menumpasnya
C.    Perkembangan Islam Pada Masa Orde Baru (1966-1998)
      Pada masa kemerdekaan, tepatnya pada 3 januari 1946 didirikannya depertemen Agama yang mengurusi keperluan ummat Islam. Meskipun pada dasarnya depertemen Agama ini mengurusi keperluan ummat beragama yang ada di Indonesia, namun melihat latar belakang pendiriannya jelas untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi ummta Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini.
    Usaha partai-parti Islam untuk menegakkan Islam sebagai Idiologi negara dalam konstituante mengalami jalan buntu. Partai-partai Islam itu melakukan penyesuaian terhadap kebijakan Soekarno, tetapi secara keseluruhan peranan-peranan partai-partai Islam mengalami kemerosotan. Tidak ada jabatan menteri berposisi penting yang diserahkan kepada Islam sebagaimana yang terjadi pada masa demokrasi parlementer.Satu-satunya kepentingan Islam yang diluluskan adalah keputusan MPRS tahun 1960 yang memberlakukan pengajaran agama di Universitas dan perguruan Tinggi.
      Meskipun ummat Islam merupakan 87% penduduk Indonesia dalam kehidupan berbangsa ini, ide negara Islam secara terus-menerus ditolak. Bahkan partai-partai Islam mulai dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan selalu mengalami kekalahan, kecuali diawal pergerakan nasional.
        Kegiatan Islam semakin berkembang pada masa orde baru ini, diantaranya:
1.      Bangunan-bangunan baru Islam (Masjid dan Mushallah)
2.      Pembangunan Madrasah, Pesantren dan juga Universitas Islam.
3.      Adanya kegiatan bulan Ramadhan (Pesantren kilat)
4.      Aktivitas Sosial keagamaan.
5.      Puisitasi Islam, drama, dan pegelaran seni Islam lainnya.
Sejak ditumpasnya G 30 S/PKI pada tanggal 1 oktober 1965 bangsa Indonesia telah memasuki pase baru yang diberi nama Orde Baru. Perubahan Orde Lama menjadi Orde Baru berlangsung melalui kerjasama erat antara pihak ABRI atau tentara dan gerakan-gerakan pemuda yang disebut angkatan 1966. Sejak tahun 1966 para pemuda dam mahasiswa melakukan demontrasi dijalan-jalan sebagian secara spontan sebagian lagi atas perencanaan pihak lain mula-mula memprotes segala macam penyalahgunaan kekuasaan sampai protes terhadap Soekarno.
Sebagaimana dikemukakan diatas MPRS pada tahun 1966 telah bersidang. Pada waktu itu sedang dilakukan upaya untuk membersihkan sisa-sisa mental G 30 S/ PKI. Dalam keputusannya bidang pendidikan agama telah mengalami kemajuan. Dengan demikian sejak tahun 1966 pendidikan agama menjadi hak wajib mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Umum Negeri di seluruh Indonesia.
Sejak tahun 1966 telah terjadi perubahan besar pada bangsa Indonesia, baik menyangkut kehidupan sosial, agama maupun politik. Periode ini disebut zaman Orde Baru dan zaman munculnya angkatan baru yang disebut angkatan 66. pemerintah Orde Baru bertekad sepenuhnya untuk kembali kepada UUD 1945 dan melaksanakannya secara murni dan konsekuen. Pemerintah dan rakyat membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Berdasarkan tekad dan semangat tersebut, kehidupan beragama dan pendidikan agama khususnya, makin memperoleh tempat yang kuat dalam struktur organisasi pemerintahan dan dalam masyarakat pada umumnya. Dalam sidang-sidang MPR yang menyusun GBHN sejak tahun 1973 hingga sekrang, selalu ditegaskan bahwa pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah negeri dalam semua jenjang pendidikan, bahkan pendidikan agama sudah dikembangkan sejak Taman Kanak-Kanak (Bab V pasal 9 ayat 1 PP Nomor 2 Tahun 1989).
Pembangunan nasional memang dilaksanakan dalam rangka pembangunan warga dan masyarakat Indonesia seutuhnya. Hal ini berarti adanya keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara pembangunan bidang jasmani dan rohani, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan hidupnya secara seimbang. Pembangunan seperti ini menjadi pangkal tonggak pembangunan bidang agama.
D.    Perkembangan Peradaban Islam di Masa Reformasi dan Sekarang

a.                   Masa Reformasi
Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan. misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media massa dengan seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri.
Wajar saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan agama dengan kata lain jihad. Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi daerah masa presiden Abdurrahman Wahid.
Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam.
Peradaban islam Indonesia masa reformasi ini semakin maju. Reformasi dimulai dari kekuasaan orde baru yang melakukan KKN (korupsi kolusi dan Nepotisme) Sehingga para pemuda khususnya mahasiswa yang dikomandani oleh cendikiawan muslim Prof. DR. H.M. Amien Rais, MA berhasil menggulingkan pemerintahan orde baru dengan mundurnya presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Sejak itu mulailah komunitas Islam bangkit dengan dibentuknya poros tengah dan berhasil mengangkat tokoh – tokoh Islam panggung politik yang menguasai pemerintahan Indonesia. Amien rais menjadi ketua MPR, Akbar Tanjung menjadi ketua DPR dan K.H. Abdur rahman wahid sebagai presiden RI. Dengan hadirnya tokoh – tokoh Islam itu membuka kran politik Indonesia semakin cair, keterbukaan, demokrasi langsung, penegakan HAM dan lain – lainnya. Peradaban Islam semakin maju dengan ditandainya ormas – ormas islam semakin banyak dan berkualitas. Ormas – ormas Islam bisa mengembangkan dirinya kembali ke asas Islam dan tidak terkekang ke salah satu asas saja.
b.      Masa Sekarang
Pada masa Orde Baru (Orba), perkembangan umat Islam di Indonesia kurang begitu menggembirakan dikarenakan tekanan dari penguasa yang menghalangi laju pergerakan dan kebangkitan umat Islam. Setelah rezim Orba jatuh (Reformasi 1998), umat Islam lebih bebas untuk bergerak dalam berbagai hal, terutama politik. Terbukti dengan bermunculannya berbagai partai politik yang membawa nama Islam. Namun permasalahan umat Islam tidak berhenti begitu saja. Berbagai isu yang berkembang di kalangan umat Islam tidak jarang membawa perpecahan antar saudara seakidah.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Umat Islam yang menjadi bagian terbesar masyarakat Indonesia pun tidak terlepas dari kemajemukan. Berbagai golongan dan madzhab berkembang dalam tubuh umat Islam Indonesia. Golongan-golongan tersebut secara jelas tampak pada berbagai organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan.[1]
Baru-baru ini muncul istilah Islamfobia dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap Islam yang mengherankan di beberapa kalangan umat Islam sendiri terjadi ketakutan akan adanya penerapan syariat Islam. Beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang belum lama ini ditetapkan, di antaranya mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat (Prov. Sumbar, Kab. Padang Pariaman), Pendidikan Al-Qur’an bagi Pelajar dan Calon Pengantin (Kab. Solok, Kota Padang, Prov. Sulsel, Kab. Maros,) Pemakaian Busana Muslimah (Kab. Solok, Kota Padang, Pasaman Barat, Kab. Gowa, Kab. Sinjai), Larangan Pelacuran (Kab. Gresik, Jember, Tangerang), Peredaran Minuman Keras (Gresik, Pamekasan) [2] membuat sebagian pihak menuding adanya upaya Islamisasi undang-undang dan peraturan. Harian Republika memberitakan protes yang dilakukan oleh salah satu anggota DPR dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa Syariat Islam. Ia menilai perda-perda seperti itu inkonstitusional dan bertentangan dengan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal perda-perda tersebut tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai landasan Ideal dan landasan Konstitusional negara.3
  
BAB III
PENUTUP
    A.    Kesimpulan
          Setelah Islam datang ke Indonesia, banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan Islam mulai dari masyarakat menengah ke bawah hingga menengah ke atas. Peradaban Islam era Reformasi mulai banyak pemikiran-pemikiran tentang tatacara keagamaan, sehingga muncul berbagai macam organisasi Islam seperti, FPI dan MMI.
          Berbada dengan zaman sekarang, peradaban Islam sudah mulai berkembang. Peradaban Islam di Indonesia telah diakui dunia bahwa Indonesia adalah pusat peradaban Islam modern. Selain itu, Islam juga membawa perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik.

   B.     Saran
          Apabila dalam tulisan ini terdapat banyak kekurangan, kami sangat mengharapkan dari pembaca untuk memberi kritik dan saran demi kelancaran dalam pembelajaran.
  
DAFTAR PUSTAKA
Hasansirait.blogspot.co.id/2012/08/sejarah-peradaban-masa-reformasi
The Islamic State in Indonesia. The Rise of the Ideology, the Movement for its Creation and         the Theory of the Masjumi (harun nasution).
Pranata Islam di Indonesia, Prof. Dr. komaruddin hidayat

Baca Juga: Sejarah Pondok Pesantren, Metode Pembelajaran dan Potensinya di Indonesia


1.                 Hasansirait.blogspot.co.id/sejarah-peradaban-islam-masa-reformasi
[2]  (Republika, 17/06/2006)
3 Harian Republika (17/5/2006), Hasansirait.blogspot.co.id/sejarah-peradaban-islam-masa-reformasi


Yppq, blogspot.com


      1.1  LATAR BELAKANG
Pesantren sebagai lembaga yang mengiringi dakwah Islamiyah di Indonesia memiliki persepsi yang plural. Pesantren bisa dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah, dan yang paling populer adalah sebagai institusi pendidikan Islam yang mengalami konjungtur dan romantika kehidupan dalam menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.
Pesantren merupakan produk sejarah yang telah berdialog dengan zamannya masing-masing yang memiliki karakteristik berlainan baik menyangkut sosio-politik, sosio-kultular, sosio-ekonomi maupun sosio-religius. Antara pesantren dan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat desa, telah terjalin interaksi yang harmonis, bahkan keterlibatan mereka cukup besar dalam mendirikan pesantren. Sebaliknya kontribusi yang relatif besar acapkali dihadiahkan pesantren untuk pembangunan masyarakat desa.
Sejak awal keberadaanya sampai sekarang dan di masa yang akan datang, pondok pesantren selain berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, juga berperan sebagai pusat pengembangan masyarakat dan pusat pengembangan sumber daya manusia. Dalam posisinya yang unik ini, pondok pesantren diharapkan dapat menjadi bagian yang lebih nyata dalam sistem pendidikan nasional, sehingga lebih bermakna peranannya dalam pencerdasan masyarakat dan pembangunan bangsa.

      1.2  RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana sejarahnya berdirinya pesantren?
2.      Bagaimana metode pembelajaran didalam pesantren?
3.      Apa potensi dari pendidikan pesantren?
   
      1.3  TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui sejarah berdirinya pesantren.
2.      Mengetahui metode pembelajaran didalam pesantren.
3.      Mengetahui potensi dari pendidikan pesantren.
BAB II
PEMBAHASAN

     2.1  SEJARAH BERDIRINYA PESANTREN
Sejumlah pakar memandang pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang indegenous Indonesia.[1] Pendidikan model ini, kata Said Aqil Husein Al-Munawwar (2005: 205) telah hidup dan berada dalam budaya bangsa Indonesia pada masa Hindu-Budha dan diteruskan hingga masa kejayaan Islam. Adapun madrasah adalah bentuk pendidikan klasikal yang masuk ke Indonesia sejalan dengan arus modernisasi Islam.
Pandangan Al-Munawwar sedikit berbeda dengan tesis Karl A. Steenbrink. Berpijak dari bentuk dan sistem pesantren, ia menyimpulkan bahwa pesantren berasal dari India.[2] Sistem pesantren sudah digunakan secara umum sebagai wadah pengajaran agama Hindu Jawa. Setelah Islam tersebar di Jawa, sistem itu kemudian diambil alih oleh Islam (Streenbrink, 1983: 20). Artinya, pesantren di Jawa dan di Indonesia pada umumnya tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya agama Hindu, bukan mendahului keberadaan agama Hindu sebagaimana diungkapkan Al-Munawwar.
Di Pulau Jawa, pesantren pertama kali berdiri di zaman Walisongo. Syeikh Malik Ibrahim atau Syeikh Maulana Maghribi dianggap pendiri pertama pesantren di Pulau Jawa.[3] Muh. Said dan Junimar Affan menyebut Sunan Ampel atau Raden Rahmat sebagai pendiri pesantren pertama di Kembang Kuning, Surabaya. Bahkan Kiai Machrus Aly menginformasikan bahwa disamping Sunan Ampel (Raden Rahmat) Surabaya, ada ulama yang menggangap Sunan Gunung Jati (Syaikh Syarif Hidayatullah) di Cirebon sebagai pendiri pesantren pertama, sewaktu mengsingkan diri bersama pengikutnya dalam khalwat, beribadah secara istiqomah untuk ber-taqarrub kepada Allah.[4]
Peranan pesantren sendiri pertama-tama dapat dilihat dari eksistensi pesantren itu sendiri. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren selain dikunjungi oleh anak-anak Islam dari desa-desa sekitarnya, juga dikunjungi anak-anak Islam dari kota-kota/daerah lain yang jauh. Lebih-lebih dengan semakin tersohornya beberapa pesantren terkemuka di Pulau Jawa dengan para kiainya yang menguasai ilmu-ilmu tertentu telah menarik anak-anak Islam dari berbagai daerah dan suku bangsa Indonesia di luar Pulau Jawa untuk datang dan bermukim di pesantren tersebut.
Melihat peran penting pesantren dalam transmisi agama Islam di Indonesia, tidak berlebihan kiranya apabila Mastuhu (1994: 21) menyebut pesantren sebagai lembaga pendidikan grass root people[5] yang sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat. Manfred Ziemek, misalnya, menggangap pesantren tidak hanya merupakan pusat perubahan di bidang keagamaan, namun juga perubahan di bidang pendidikan, politik, budaya, dan sosial.[6]
Pada awal rintisannya, pesantren bukan hanya menekankan misi pendidikan, melainkan juga dakwah, justru di misi yang kedua ini lebih menonjol. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini selalu mencari lokasi yang sekiranya dapat menyalurkan dakwah tersebut tepat sasaran sehingga terjadi benturan dengan nilai yang dibawanya dengan nilai yang telah mengakar di masyarakat setempat. Mastuhu melaporkan bahwa pada periode awalnya pesantren berjuang melawan agama dan kepercayaan serba Tuhan dan takhayul, pesantren tampil membawakan agama tauhid.[7] Selain itu terkadang pesantren juga menghadapi penyerangan penguasa yang merasa tersaingi kewibawaanya. Sebagai contoh, Raden Paku (Sunan Giri) sewaktu merintis pondok pesantren di kedaton pernah terancam pembunuhan atas perintah Raja Majapahit.
Giliran selanjutnya, pesantren berhadapan dengan tindakan tiran kaum kolonial Belanda. Imperialis yang menguasai Indonesia menguasai ekonomi, politik dan militer yang juga mengemban misi penyebaran agama Kristen. Bagi Belanda pesantren merupakan antitesis terhadap gerak kristenisasi dan upaya pembodohan masyarakat. Anggapan demikian merupakan basis argumentatif baginya untuk menekan pertumbuhan pesantren. Sutari Imam Barnadib menuturkan bahwa penjajah malah menghalangi perkembangan agama Islam sehingga pondok pesantren tidak dapat berkembang secara normal. Bahkan pada 1882 Belanda membentuk Pristeranden yang bertugas mengawasi pengajaran agama di pesantren.[8]
Kemudian pada awal penjajahan Jepang, pesantren berkonfrontasi dengan imperialis baru ini lantaran penolakan Kiai Hasyim Asy’ari yang kemudian diikuti kiai-kiai pesantren lainnya terhadap Saikeree[9] dengan cara membungkukkan badan 90 derajat menghadap Tokyo setiap pagi pukul 07.00, sehingga mereka ditangkap dan dipenjara pihak Jepang. Ribuan santri dan kiai kemudian berdemonstrasi mendatangi penjara, membangkitkan dunia pesantren untuk memulai gerakan bawah tanah menentang Jepang.
Ketahanan pesantren ini menjadi lebih menarik jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan serupa di negara lain. Abdurrahman Wahid membuat perbandingan bahwa pada masa silam, pesantren di Indonesia dapat merespon tantangan zamannya dengan sukses. Ini berarti ada langkah strategis yang ditempuh pesantren dalam menahan tekanan sistem sekolah sekuler dari Barat.
Pada saat yang sama, tidak sedikit ditemukan pesantren telah menginovasi diri, sehinga terjadilah perubahan-perubahan didalamnya, baik ditinjau dari materi yang diajarkan, metode, dan manajemen pengelolaanya, sehingga pada saat sekarang pesantren tidak lagi semata-mata suatu lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama semata, tetapi juga pengembangan terhadap berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti ilmu umum, melalui lembga pendidikan formal yang didirikannya.
Dalam rangka itulah, pada perkembangan mutakhir ini tampaknya pesantren sedang dan telah mempunyai kecenderungan baru dalam rangka inovasi tehadap sistem yang selama ini digunakan, yaitu:
1.      Mulai akrab dengan metodologi modern.
2.      Semakin berorientasi pada pendidikan yang fungsional, artinya terbuka atas perkembangan diluar dirinya.
3.      Diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan ketergantungannya dengan kiai tidak absolut, dan sekaligus dapat membekali santri dengan berbagai pengetahuan diluar pelajaran agama maupun keterampilan yang diperlukan dalam dunia modern.
4.      Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.
Hal ini mengasumsikan bahwa pada dasarnya pesantren kini sudah dan sedang mengalami transformasi kultur, sistem dan nilai (Mujib & Muzakir, 2006: 237)

     2.2  METODE PEMBELAJARAN DALAM PESANTREN
Pada sebuah lembaga pendidikan, kurikulum merupakan salah satu komponen utama yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolak-ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan.[10] Penyampaian materi tidak berarti apapun tanpa melibatkan metode. Metode selalu mengikuti materi, dalam arti menyesuaikan dengan bentuk dan coraknya, sehingga metode mengalami transformasi bila materi yang disampaikan berubah.[11]
Pola pendidikan dan pengajaran di pesantren sangat erat kaitannya dengan tipologinya. Pada sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat tradisional dan modern oleh kalangan pesantren dan masyarakat lebih dikenal dengan istilah pesantren salaf dan pesantren kalaf.
            1.      Pondok Pesantren Salaf
Pondok pesantren yang menyelenggarakan pengajaran al-Quran dengan ilmu-ilmu agama Islam yang kegiatan pendidikan dan pengajarannya sebagaimana berlangsung sejak awal pertumbuhan. Penjenjangan dilakukan dengan cara memberikan kitab pegangan yang lebih tinggi dengan funun (tema kitab) yang sama, setelah tamatnya suatu kitab.[12] Dalam pembelajaran sistem salaf, terlebih dahulu antri diarahkan untuk menguasai pengajian dasar secara individual.
Pondok pesantren salaf sebenarnya telah pula menyerap sistem klasikal, tetapi tidak dengan batas-batas fisik yang jelas sebagaimana sistem klasikal pada pesantren modern.[13] Metode pembelajaran yang menjadi ciri utama pembelajaran di pondok pesantren Salaf adalah:
a.       Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (Bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan. Sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kiai atau pembantunya. Sistem sorogan termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai, membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembalajaran.
b.      Wetonan/Bandongan
Wetonan berasal dari Bahasa Jawa wektu yang berarti waktu, sebab pengajian ini diberikan pada waktu tertentu. Istilah wetonan di Jawa Barat disebut sebagai Bandongan. Metode ini dilakukan dengan cara guru membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas buku-buku Islam dalam Bahasa Arab sedang sekelompok santri mendengarkannya.
c.       Musyawarah/Bahtsul Masa’il
Meode pembelajaran yang lebih mirip dengan seminar atau diskusi. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh kiai atau ustad untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang ditentukan sebelumnya.
d.      Pasaran
Kegiatan belajar para santri melalui pengajian materi (kitab) tertentu pada seorang kiai/ustaz yang dilakukan secara terus menerus (maraton) selama waktu tertentu. Metode ini lebih mirip ke metode Bandongan, tetapi targetnya adalah selesainya kitab yang dipelajari. Pengajian Pasaran dahulu banyak dilakukandi pesantren-pesantren tua di Jawa, dan dilakukan oleh kiai-kiai yang senior dibidangnya.
e.       Hapalan/Muhafazhah
Metode yang menghafal suatu teks tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan kiai/ustaz. Para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan dalam kurun waktu tertentu. Hafalan ini secara periodik kemudian dibacakan dihadapan kiai/ustaz tergantung kepada petunjuk yang telah diberikan.
f.        Metode demonstrasi/praktek ibadah
Cara pembelajaran ynag dilakukan dengan mendemonstrasikan suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan ataupun kelompok dibawah petunjuk atau bimbingan kiai/ustaz.

              2.   Pondok Pesantren Kalaf
Pondok pesantren ini selain menyelenggarakan kegiatan kepesantrenan, juga menyelenggarakan pendidikan formal (jalur sekolah) baik umum maupun madrasah. Biasanya memiliki kurikulum pondok pesantren yang berjenjang dan klasikal, dan bahkan di sebagian kecil berdasar pada kurikulum mandiri, bukan dari Departemen Pendidikan Nasional atau Departemen Agama.[14]
Pimpinan-pimpinan pesantren yang tergabung dalam Rabithat Ma’ahid[15] telah mempraktekan metode-metode yang sangat beragam, kemudia mereka menetapkannya dalam muktamar ke-1 pada 1959, yang meliputi metode tanya jawab, diskusi, imla’, muthala’ah/recital, proyek, dialog, karyawisata, hafalan/verbalisme, sosiodrama, widyawisata, problem solving, pemberian situasi, pembiasaan/habituasi, dramatisasi (percontohan tingkah laku), reinfroment, stimulus-respon, dan sistem modul (meskipun agak sulit).[16]
Beberapa pesantren Kalaf menerapkan metode muhawarah, yaitu suatu kegiatan berlatih bercakap-cakap dengan Bahasa Arab yang diwajibkan di pesantren kepada santri selama mereka tinggal di pondok. Frekuensi penerapan metode yang dalam Bahasa Inggris disebut conversation ini tidak ada keragaman di kalangan pesantren.
Kemudia metode mudzakarah, yaitu metode pertemuan secara ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyyah seperti aqidah, ibadah, dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi ini dapat mengembangkan semangat intelektual santri. Namun metode ini belum bisa diterapkan secara optimal, karena selalu dibatasi oleh mahzab tertentu. Contoh dalam materi aqidah atau kalam dibatasi pada paham Asy’ariyyah, sedangkan dalam ibadah dibatasi pada pemaham fiqhiyyah Imam Syafi’i.

    2.3  POTENSI PESANTREN
Pesantren adalah lembaga yang merupakan wujud proses perkembangan sistem pendidikan nasional. Dari segi historis pesantren tidak hanya identik denganmakna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia.[17] Pesantren memiliki karakteristik yang khusus dan potensi yang dimiliki para santri meliputi:
1.      Pondok pesantren sebagai pusat pengembangan dakwah
Pada awal pertumbuhannya, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, pondok pesantren berkembang menjadi satu kesatuan sistem yang menampung berbagai fungsi. Pondok pesantren, selain menyelenggarakan fungsi sebagai tempat untuk mendalami dan mengkaji berbagai ajaran dan ilmu pengetahuan Islam, juga menjalankan fungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat dan pusat pemberdayaan sumber daya manusia.
            Meskipun berbagai fungsi telah diperankan oleh pondok pesantren, dalam kenyataannya fungsi tafaqquh fiddin[18] masih tetap merupakan fungsi utama pondok pesantren. Melalui upaya tafaqquh fiddin inilah lahir ulama dan kyai yang menjadi pemimpin agama dan pemimpin masyarakat.
2.      Pondok pesantren sebagai pengembangan sumber daya umat
Pesantren sebagai bagian dari pendidikan Islam harus senantiasa memerankan fungsi dan misi profetis diatas dalam peningkatan kualitas SDU yang dimiliki, baik dalam penguasaan sains dan teknologi maupun dalam hal karakter, sikap moral, penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Dengan kata lain, pesantren secara ideal harus berfungsi dan berperan membina dan menyiapkan santri yang berilmu, berteknologi, berketerampilan tinggi dan sekaligus beriman dan beramal shaleh.
Dengan demikian, keunggulan SDU yang ingin dicapai pesantren adalah terwujudnya generasi muda yang berkualitas tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek psikomotorik dan afektif. Tetapi sesuai dengan sifat distingtifnya sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang mempunyai subkultur yang distingtif pula, pesantren harus lebih  mengorientasikan peningkatan kualitas santrinya kearah penugasan ilmu-ilmu agama Islam (Azyumardi Azra, 2004: 48)
3.      Pondok pesantren sebagai pengembang keterampilan
Dengan anggapan dasar bahwa tidak semua lulusan atau keluaran pondok pesantren akan menjadi kiai atau ulama, dan memilih lapangan pekerjaan di bidang agama, maka keahlian-keahlian lain seperti pendidikan keterampilan perlu diberikan kepada santri sebelum santri terjun ke tengah masyarakat yang sebenarnya.
Perkenalan atau atau persentuhan dunia pondok pesantren dengan berbagai bidang keterampilan dan usaha pemberdayaan masyarakat sangatlah menguntungkan dan amat strategis. Atas dasar tesebut dilakukan pemilihan terhadap jenis-jenis dan macam usaha yang dapat didirikan di pondok pesantren,diantaranya: Bidang niaga, koperasi, pertanian, industri kecil, dan lain sebagainya.



BAB III
PENUTUP

3.1    KESIMPULAN
Pesantren sebagai lembaga yang mengiringi dakwah Islamiyah di Indonesia memiliki persepsi yang plural. Pesantren bisa dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pendidikan moral, lembaga dakwah, dan yang paling populer adalah sebagai institusi pendidikan Islam yang mengalami konjungtur dan romantika kehidupan dalam menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh dan berkembang telah nendapat pengakuan dari masyarakat sekitar. Keunikan sistem pondok pesantren dengan segala potensi yang dimilikinya menjadikan pondok pesantren tetap mampu bertahan dan dianggap sebagai solusi alternatif bagi kehidupan masyarakat modern.

3.2    SARAN
Pesantren seharusnya menempatkan globalisasi sebagai tantangan, bukan ancaman yang dapat membumi hanguskan peradaban  pesantren. Pesantren tidak akan musnah hanya gara-gara globalisasi. Eksistensi pesantren sudah teruji disetiap dinamika zaman yang silih berganti. Namun tidak berarti pesantren bisa tinggal diam atau bersikap acuh tak acuh terhadap globalisasi. Sebaliknya, pesantren harus meresponnya dengan melakukan reevaluasi dan reorientasi amal usahanya bagi bangsa ini.



DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, Dirjen Kelembagaan Islam. 2003. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah: Pertumbuhan dan Perkembangannya. Indonesia: Departemen Agama Indonesia
Suharto, H. Babun. 2011. Dari Pesantren untuk Umat: Reinvetating Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi. Surabaya: Imtiyaz
Qomar, Mujamil. 2005. Pesantren dan Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga
Nawawi. Jan-Juni 2006. Sejarah dan Perkembangan Pesantren. Ibda’ P3M STAIN Purwokerto. Volume 4
Asifudin, Ahmad Janan. 2008. Pondok Pesantren dalam Perjalanan Sejarah. Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga. Diunduh pada 22 Oktober 2017 pada pukul 17.22 http://digilib.uinsuka.ac.id/442/1/06.%20Ahmad%20Janan%20Asifudin%20%20PONDOK%20PESANTREN%20DALAM%20PERJALANAN%20%20SEJARAH.pdf
Sanada, Hasif. Diunduh pada 24 Oktober 2017 pukul 01.56. Potensi Pondok Pesantren dan Upaya Pengembangan dan Pembinaannya.  http://hasifsanada.blogspot.com/2015/05/potensi-pondok-pesantren-dan-upaya.html




[1]  Bahwa pondok pesantren merupakan hasil pemikiran dan kebudayaan asli pribumi Indonesia.
[2]  Babun Suharto, Dari Pesantren untuk Umat, Imtiyaz, Surabaya, 2011, hlm. 20
[3]  Ahmad Janan Asifudin, Pondok Pesantren dalam Perjalanan Sejarah, digilib.uin-suka.ac.id, 2008, hlm. 55, diunduh pada 22 Oktober 2017 pukul 17.22
[4]  Mujamil Qomar, Pesantren dan Transformasi Metodologi menuju Demokratis Institusi, Erlangga, Jakarta, 2005, hlm. 8
[5]  Pesantren merasakan dan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
[6]  Babun Suharto, Dari Pesantren untuk Umat, hlm. 33
[7]  Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi Institusi, hlm. 11
[8]  Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi Institusi, hlm. 12
[9]  Penghormatan terhadap kaisar Jepang Tenno Haika sebagai keturunan Dewa Amaterasu.
[10]  Nawawi, Sejarah dan Perkembangan Pesantren, Ibda’, Jan-Juni 2006, hlm. 5
[11]  Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi menuju demokratisasi institusi, hlm. 141
[12]  Hasif Sanada, “Potensi Pondok Pesantren dan Upaya Pengembangan dan Pembinaanya”, diakses dari http://hasifsanada.blogspot.com/2015/05/potensi-pondok-pesantren-dan-upaya.html, pada tanggal 24 Oktober 2017 pukul 01.56
[13]  Dirjen Kelembagaan Islam, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah: Pertumbuhan dan Perkembangannya, Departemen Agama Indonesia, Indonesia, 2003, hlm. 38
[14]  Hasif Sanada, “Potensi Pondok Pesantren dan Upaya Pengembangan dan Pembinaanya”, diakses dari http://hasifsanada.blogspot.com/2015/05/potensi-pondok-pesantren-dan-upaya.html, pada tanggal 24 Oktober 2017 pukul 01.56
[15]  Lembaga Nahdlatul Ulama dengan basis pokok utama pondok pesantren, sering disebut Rabithat Ma’ahid Islamiyah (RMI).
[16]  Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi Institusi, hlm. 152
[17]  Hasif Sanada, “Potensi Pondok Pesantren dan Upaya Pengembangan dan Pembinaanya”, diakses dari http://hasifsanada.blogspot.com/2015/05/potensi-pondok-pesantren-dan-upaya.html, diunduh pada 24 Oktober 2017 pukul 01.56
[18]  Dalam pengertian terbatas dapat diartikan sebagai upaya memperdalam ilmu-ilmu keislaman melalui kitab-kitab klasik atau modern berbahasa Arab.