Showing posts with label ISLAM DALAM KEBUDAYAAN JAWA. Show all posts
Showing posts with label ISLAM DALAM KEBUDAYAAN JAWA. Show all posts

Kesenian Islam Indonesia, encrypted-tbn0.gstatic.com
          Puji syukur saya ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan penuh pemahan diri saya sendiri dengan judul “Sejarah kebangkitan kebudayaan Islam Indonesia” dengan sebagaiamana mestinya. Sholawat serta salam tak lupa kami anjurkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW.
                                                                                                          
Makalah ini disusun agar kita bisa menambah wawasan kita semua mengenai sejarah kebangkitan kebudayaan Islam Indonesia, maka dari itu apabila ada kekurang atau kesalahan dalam penulisan makalah ini, sangat diharapkan kritik dan saran dari semua pihak supaya untuk kelancaran dalam pembelajaran dan diskusi, 


Penulis
                                                                                                                 



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.  Latar Belakang............................................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah........................................................................................ 1
C.  Tujuan Penulisan.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 2
A.  Sejarah sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia................................ 2
B.   Perkembangan Islam masa Orde Lama....................................................... 2
C.   Perkembangan Islam masa Orde Baru......................................................... 3
D.  Perkembangan Islam masa reformasi hingga Sekarang.............................. 4
BAB III PENUTUP................................................................................................. 7
A.  Kesimpulan.................................................................................................. 7
B.   Saran............................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 8




                                                                         





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Islam datang ke Indonesia dengan membawa peradaban baru yang memiliki corak keislaman secara khusus. Beberapa bentuk peradaban Islam yang mewarnai kehidupan dan pemikiran masyarakat Indonesia. Peradabaan Islam yang dibawa oleh para mubaligh Islam dari Arab dan telah mengakulturasikan peradaban Islam dengan tradisi setempat, oleh karena itu, hal tersebut membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Islam di Indonesia.
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sebagian besar beragama Islam, sehingga sudah selaknya menempatkan diri untuk membangun peradaban Islam. Kalau kita mau mengamati secara mendalam akan perkembangan Islam di Indonesia maka kita harus mengamati mulai dari masuknya Islam, penyebaran, pengalaman, perkembangan, dan kondisi yang sekarang kita alami di Indonesia. Sebab, peristiwa sejarah merupakan problematika yang meliputi dimensi waktu masa lampau, sekarang dan masa depan.
B.     Rumusan Masalah
A.              Bagaiamana sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia?
B.               Bagaimana perkembangan Islam masa Orde Lama?
C.               Bagaimana perkembangan Islam masa Orde Baru?
D.              Bagaimana perkembangan Islam masa reformasi hingga sekarang?
C.    Tujuan Penulisan
1.                   Untuk mengetahui sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia
2.                   Untuk mengetahui perkembangan Islam masa Orde Lama
3.                   Untuk mengetahui perkembangan Islam masa Orde Baru
4.                   Untuk mengetahui perkembangan Islam masa Reformasi hingga Sekarang

BAB II PEMBAHASAN
A.    Sejarah singkat peradaban Islam di Indonesia
Mengenai tempat asal Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad mansyur suryanegara mengintisarikan nya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercaya datang dari wilayah Gujarat melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Mekkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari timur tengah melalui jasa para pedagang muslim abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam dipercaya tiba di Indonesia melalui pedagang Persia yang singgah ke Gujarat untu melakukan perjalanan ke Nusantara pada abad ke-13 M.
Islam mulai memasuki wilayah indonesia sejak pertama kali negara indonesia mengadakan pemilihan umum (pemilu). Dengan cara membuat suatu wadah, yaitu mendirikan partai politik. Pada waktu itu partai yang berasaskan islam yaitu ada dua pertama, Partai Masyumi dan Partai NU. Melalui wadah ini umat islam memainkan perannya sebagai seorang politikus yang ingin menanamkan nilai-nilai islam. Dalam tesis Harun Nasution, beliau mengemukakan bahwa ada perbedaan besar antara NU dan Masyumi. Kaum modernis di dalam Masyumi pada umumnya mereka hendak membangun suatu masyarakat muslim dan sebagai akibatnya mereka mengharapkan suatu negara Islam. Kelompok yang diwakili NU lebih sering memperjuangkan suatu Negara sebagai langkah pertama dan melalui negara Islam ini mereka hendak mewujudkan suatu masyarakat Islam. Suatu perbedaan lain adalah, bahwa ulama mendapat kedudukan yang penting dalam organisasi negara konsep NU, sedangkan posisi mereka tidak begitu menonjol dalam pemikiran kaum Masyumi.[1]
B.     Perkembangan Islam Pada Masa Orde Lama
Setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden Pada 1959, berakhirlah masa Demokrasi liberal, berubah menjadi Demokrasi terpimpin Soekarno.
Timbulnya pemusatan kekuasaan mencuatkan konsekuensi yang variatif terhadap pertai-artai islam. Dengan beberapa Keppres, sejumlah Parpol dikebiri karena dianggap menciptakan pemerintahan yang tidak efektif. Beberapa tindakan seperti kristalisasi NU dan PSII, (namun Perti yang dianggap wakil kelompok NASAKOM dibiarkan tetap ada), sedangkan yang terjadi pada Masyumi, beberapa pemimpinnya yang dianggap pendukung sejati negara Islam dan oposisi yang tak berkesudahan dipenjarakan dan Masyumi di bubarkan pada 1960.
Partai islam yang tersisa (NU, Perti dll) melakukan penyesuaian diri dengan keinginan Soekarno yang didukung oleh ABRI dan PKI. Beberapa bentuk penyesuaiannya seperti pemberian gelar Waly Al-Amr al-Dahruri bi al-Syaukah kepada Soekarno oleh NU, dan Doktor Honoris Causa dari IAIN dengan promotor K.H. Saifudin Zuhri (salah satu pimpinan NU). NU mendukung beberapa manipol Usdek Soekarno, sehingga pasca dibubarkannya Masyumi, NU menjadi Partai Islam terbesar pada waktu itu. Beberapa pihak menganggap NU sebagai partai oportunis karena sikap proaktifnya. Anggapan ini kemudian dibantah oleh petinggi-petinggi Nu, merka beralasan hal ini sebagai bentuk pengimbangan terhadap kekuatan PKI. Namun tetap saja secara keseluruhan peranan partai Islam mengalami Kemerosotan. Tak ada jabatan menteri penting yang dipercayakan kepada tokoh Islam dalam masa Demokrasi Terpimpin ini. Satu-satunya kepentingan Islam yang diluruskan adalah keputusan MPRS tahun 1960 yangmemberlakukan pengajaran agama di Universitas dan perguruan tinggi. Legislasi Islam sebagai ideologi negara dianggap mepmberi pengaruh negatif terhadap pemerintahan.
Di masa Demokrasi terpimpin ini, Soekarno kembali menyuarakan ide lamanya NASAKOM (Nasionalis, Agamis,dan Komunis), suatu pemikiran yang ingin menyatukan Nasionalis “sekular”, Islam dan Komunis. Gagasan ini adalah upaya untuk meredam gejolak politik antara kelompok-kelompok tersebut. Dengan menampung ketiganya dalam satu payung, Soekarno mencoba mengendalikan tiga unsur politik ini. Namun, dengan adanya upaya ini maka implikasinya, peranan partai mengalami erosi karena , kecuali PKI yang memainkan peranan penting. Keadaan ini menimbulkan ketegangan antara Islam dan kmunisme dan munculnya ketidakpuasan dari pihak Nasionalis Sekuler dan angkatan bersenjata. Kemudian muncul semacamanggapan adanya penghianatan Soekarno terhadap Pancasila. Soekarno dianggap berselingkuh. Pancasila ditafsirkan sesuai dengan caranya sendiri. Meskipun dalam Pancasila sendiri, unsur-unsur NASAKOM ini nampak jelas ada di dalamnya. Tetapi dengan mengangkatnya dari sebuah substansi yang ada di dalam menjadi sebuah ideologi yang setara, maka penduaan ini tidak terelakkan. Indonesia harus mengangkat Pancasila sekaligus menjunjung NASAKOM-isme. Slogan-slogan, kemakmuran, kesejahteraan, nasionalisme yang agamis berusaha diserukannya , mungkin untuk mengangkat citranya.
Akhirnya masa kejatuhan kekuasaannya pun tiba. Kondisi negara berkebalikan dengan slogan-slogan Soekarno yang pada waktu itu ia gembar-gemborkan. Dengan inflasi keuangan negara sebesar 600 persen, maka era Soekarno pun berakhir, dengan gagalnya Geakan 30 September PKI tahun 1965, dimana umat Islam bersama ABRI dan golongan lain bekerjasama menumpasnya
C.    Perkembangan Islam Pada Masa Orde Baru (1966-1998)
      Pada masa kemerdekaan, tepatnya pada 3 januari 1946 didirikannya depertemen Agama yang mengurusi keperluan ummat Islam. Meskipun pada dasarnya depertemen Agama ini mengurusi keperluan ummat beragama yang ada di Indonesia, namun melihat latar belakang pendiriannya jelas untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi ummta Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini.
    Usaha partai-parti Islam untuk menegakkan Islam sebagai Idiologi negara dalam konstituante mengalami jalan buntu. Partai-partai Islam itu melakukan penyesuaian terhadap kebijakan Soekarno, tetapi secara keseluruhan peranan-peranan partai-partai Islam mengalami kemerosotan. Tidak ada jabatan menteri berposisi penting yang diserahkan kepada Islam sebagaimana yang terjadi pada masa demokrasi parlementer.Satu-satunya kepentingan Islam yang diluluskan adalah keputusan MPRS tahun 1960 yang memberlakukan pengajaran agama di Universitas dan perguruan Tinggi.
      Meskipun ummat Islam merupakan 87% penduduk Indonesia dalam kehidupan berbangsa ini, ide negara Islam secara terus-menerus ditolak. Bahkan partai-partai Islam mulai dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan selalu mengalami kekalahan, kecuali diawal pergerakan nasional.
        Kegiatan Islam semakin berkembang pada masa orde baru ini, diantaranya:
1.      Bangunan-bangunan baru Islam (Masjid dan Mushallah)
2.      Pembangunan Madrasah, Pesantren dan juga Universitas Islam.
3.      Adanya kegiatan bulan Ramadhan (Pesantren kilat)
4.      Aktivitas Sosial keagamaan.
5.      Puisitasi Islam, drama, dan pegelaran seni Islam lainnya.
Sejak ditumpasnya G 30 S/PKI pada tanggal 1 oktober 1965 bangsa Indonesia telah memasuki pase baru yang diberi nama Orde Baru. Perubahan Orde Lama menjadi Orde Baru berlangsung melalui kerjasama erat antara pihak ABRI atau tentara dan gerakan-gerakan pemuda yang disebut angkatan 1966. Sejak tahun 1966 para pemuda dam mahasiswa melakukan demontrasi dijalan-jalan sebagian secara spontan sebagian lagi atas perencanaan pihak lain mula-mula memprotes segala macam penyalahgunaan kekuasaan sampai protes terhadap Soekarno.
Sebagaimana dikemukakan diatas MPRS pada tahun 1966 telah bersidang. Pada waktu itu sedang dilakukan upaya untuk membersihkan sisa-sisa mental G 30 S/ PKI. Dalam keputusannya bidang pendidikan agama telah mengalami kemajuan. Dengan demikian sejak tahun 1966 pendidikan agama menjadi hak wajib mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Umum Negeri di seluruh Indonesia.
Sejak tahun 1966 telah terjadi perubahan besar pada bangsa Indonesia, baik menyangkut kehidupan sosial, agama maupun politik. Periode ini disebut zaman Orde Baru dan zaman munculnya angkatan baru yang disebut angkatan 66. pemerintah Orde Baru bertekad sepenuhnya untuk kembali kepada UUD 1945 dan melaksanakannya secara murni dan konsekuen. Pemerintah dan rakyat membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Berdasarkan tekad dan semangat tersebut, kehidupan beragama dan pendidikan agama khususnya, makin memperoleh tempat yang kuat dalam struktur organisasi pemerintahan dan dalam masyarakat pada umumnya. Dalam sidang-sidang MPR yang menyusun GBHN sejak tahun 1973 hingga sekrang, selalu ditegaskan bahwa pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah negeri dalam semua jenjang pendidikan, bahkan pendidikan agama sudah dikembangkan sejak Taman Kanak-Kanak (Bab V pasal 9 ayat 1 PP Nomor 2 Tahun 1989).
Pembangunan nasional memang dilaksanakan dalam rangka pembangunan warga dan masyarakat Indonesia seutuhnya. Hal ini berarti adanya keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara pembangunan bidang jasmani dan rohani, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan hidupnya secara seimbang. Pembangunan seperti ini menjadi pangkal tonggak pembangunan bidang agama.
D.    Perkembangan Peradaban Islam di Masa Reformasi dan Sekarang

a.                   Masa Reformasi
Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan. misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media massa dengan seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri.
Wajar saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan agama dengan kata lain jihad. Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi daerah masa presiden Abdurrahman Wahid.
Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam.
Peradaban islam Indonesia masa reformasi ini semakin maju. Reformasi dimulai dari kekuasaan orde baru yang melakukan KKN (korupsi kolusi dan Nepotisme) Sehingga para pemuda khususnya mahasiswa yang dikomandani oleh cendikiawan muslim Prof. DR. H.M. Amien Rais, MA berhasil menggulingkan pemerintahan orde baru dengan mundurnya presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Sejak itu mulailah komunitas Islam bangkit dengan dibentuknya poros tengah dan berhasil mengangkat tokoh – tokoh Islam panggung politik yang menguasai pemerintahan Indonesia. Amien rais menjadi ketua MPR, Akbar Tanjung menjadi ketua DPR dan K.H. Abdur rahman wahid sebagai presiden RI. Dengan hadirnya tokoh – tokoh Islam itu membuka kran politik Indonesia semakin cair, keterbukaan, demokrasi langsung, penegakan HAM dan lain – lainnya. Peradaban Islam semakin maju dengan ditandainya ormas – ormas islam semakin banyak dan berkualitas. Ormas – ormas Islam bisa mengembangkan dirinya kembali ke asas Islam dan tidak terkekang ke salah satu asas saja.
b.      Masa Sekarang
Pada masa Orde Baru (Orba), perkembangan umat Islam di Indonesia kurang begitu menggembirakan dikarenakan tekanan dari penguasa yang menghalangi laju pergerakan dan kebangkitan umat Islam. Setelah rezim Orba jatuh (Reformasi 1998), umat Islam lebih bebas untuk bergerak dalam berbagai hal, terutama politik. Terbukti dengan bermunculannya berbagai partai politik yang membawa nama Islam. Namun permasalahan umat Islam tidak berhenti begitu saja. Berbagai isu yang berkembang di kalangan umat Islam tidak jarang membawa perpecahan antar saudara seakidah.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Umat Islam yang menjadi bagian terbesar masyarakat Indonesia pun tidak terlepas dari kemajemukan. Berbagai golongan dan madzhab berkembang dalam tubuh umat Islam Indonesia. Golongan-golongan tersebut secara jelas tampak pada berbagai organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan.[1]
Baru-baru ini muncul istilah Islamfobia dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap Islam yang mengherankan di beberapa kalangan umat Islam sendiri terjadi ketakutan akan adanya penerapan syariat Islam. Beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang belum lama ini ditetapkan, di antaranya mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat (Prov. Sumbar, Kab. Padang Pariaman), Pendidikan Al-Qur’an bagi Pelajar dan Calon Pengantin (Kab. Solok, Kota Padang, Prov. Sulsel, Kab. Maros,) Pemakaian Busana Muslimah (Kab. Solok, Kota Padang, Pasaman Barat, Kab. Gowa, Kab. Sinjai), Larangan Pelacuran (Kab. Gresik, Jember, Tangerang), Peredaran Minuman Keras (Gresik, Pamekasan) [2] membuat sebagian pihak menuding adanya upaya Islamisasi undang-undang dan peraturan. Harian Republika memberitakan protes yang dilakukan oleh salah satu anggota DPR dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa Syariat Islam. Ia menilai perda-perda seperti itu inkonstitusional dan bertentangan dengan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal perda-perda tersebut tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai landasan Ideal dan landasan Konstitusional negara.3
  
BAB III
PENUTUP
    A.    Kesimpulan
          Setelah Islam datang ke Indonesia, banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan Islam mulai dari masyarakat menengah ke bawah hingga menengah ke atas. Peradaban Islam era Reformasi mulai banyak pemikiran-pemikiran tentang tatacara keagamaan, sehingga muncul berbagai macam organisasi Islam seperti, FPI dan MMI.
          Berbada dengan zaman sekarang, peradaban Islam sudah mulai berkembang. Peradaban Islam di Indonesia telah diakui dunia bahwa Indonesia adalah pusat peradaban Islam modern. Selain itu, Islam juga membawa perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik.

   B.     Saran
          Apabila dalam tulisan ini terdapat banyak kekurangan, kami sangat mengharapkan dari pembaca untuk memberi kritik dan saran demi kelancaran dalam pembelajaran.
  
DAFTAR PUSTAKA
Hasansirait.blogspot.co.id/2012/08/sejarah-peradaban-masa-reformasi
The Islamic State in Indonesia. The Rise of the Ideology, the Movement for its Creation and         the Theory of the Masjumi (harun nasution).
Pranata Islam di Indonesia, Prof. Dr. komaruddin hidayat

Baca Juga: Sejarah Pondok Pesantren, Metode Pembelajaran dan Potensinya di Indonesia


1.                 Hasansirait.blogspot.co.id/sejarah-peradaban-islam-masa-reformasi
[2]  (Republika, 17/06/2006)
3 Harian Republika (17/5/2006), Hasansirait.blogspot.co.id/sejarah-peradaban-islam-masa-reformasi


Nyadran Sebelum Puasa di Sleman, http://jogja.semberani.com

A.      Definisi Nyadran
            Pengertian Nyadran adalah “Nyadran iku salah siji prosèsi adat budhaya Jawa awujud kagiyatan setaun sepisan ing sasi Ruwah wiwit saka resik-resik saréan leluhur, mangsak panganan tertamtu kaya déné apem, ater-ater lan slametan utawa kenduri. Jeneng nyadran iki asalé saka tembung sraddha, nyraddha, nyraddhan, banjur dadi nyadran”. Artinya kurang lebih ” ‘Nyadran adalah salah satu prosesi adat jawa dalam bentuk kegiatan tahunan di bulan ruwah (sya’ban), dari mulai bersih-bersih makam leluhur, masak makanan tertentu, seperti apem, bagi-bagi makanan, dan acara selamatan atau disebut kenduri. Nama nyadran sendiri berasal dari kata Sradha – nyradha – nyradhan, kemudian menjadi nyadran.”
            Dalam keterangan versi indonesia, dinyatakan, Nyadran merupakan reminisensi dari upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada zaman dahulu kala. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa, Ramadan, bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa. Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar). Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam.[1]

B.       Posisi Nyadran Sebagai Budaya Islam Jawa
            Islam dalam budaya tertentu adalah hal yang lumrah, karena islam yang dibawa ke wilayah tertentu akan bertemu dengan budaya setempat. Tentu yang di maksud bertemu dengan budaya setempat adalah budaya yang tidak bertentangan dengan hukum islam dan tidak mengubah makna dari ajaran islam. Budaya Islam dan budaya lokal yang bertemu bergerak dari 2 arah. Pertama teori A, ajaran islam yang datang dan didukung budaya lokal tanpa merubah makna ajaran itu, contoh: wudhu adalah syarat sahnya sholat, namun teknologi menejemen pengaliran airnya dibuat oleh budaya lokal. Kedua teori B, budaya lokal yang diluruskan oleh ajaran islam, contoh: wayang adalah kesenian jawa yang bercerita tentang Hindu, setelah islam datang wayang tetap dijalankan dan isi ceritanya berkaitan dengan ajaran islam.
            Dalam masyarakat Jawa juga berlaku hal yang demikian. Ajaran islam masuk mengajarkan Aqidah, Syariah, dan Akhlak dengan pendekatan budaya. Salah satunya adalah Nyadran. Seperti yang telah dijelaskan pada bahasan pertama, Nyadran adalah sisa ajaran agama Hindu dengan mengunjungi makam. Inti upacara ini untuk membersihkan makam leluhur, kenduri, membuat dan membagi makanan dengan warga dusun yang lain, sesuai ajaran Hindu. Dalam perkembangannya ajaran Nyadran ini lebih bersatu dalam kebudayaan jawa dan tidak terbatas bagi penganut Hindu, serta sarat akan pemujaan akan roh leluhur hingga islam datang meluruskan hal ini.
            Islam datang dan menyikapi Nyadran selaras dengan Teori B, yaitu datang dengan meluruskan budaya lokal yang menyimpang. Nyadran yang intinya mengunjungi makam leluhur dengan segala pernak-pernik dan upacaranya di luruskan oleh islam dengan ziarah. Dalam islam ada ajaran tentang ziarah kubur, seperti yang didasarkan pada beberapa riwayat hadits berikut:
-       “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian! Karena sesungguhnya itu mengingatkan kalian pada Akhirat” (HR. Muslim)
-        “Dahulu saya melarang kalian menziarahi kubur, sekarang dengan diizinkan dengan Muhammad untuk berziarah pada kubur ibunya, karena itu berziarahlah ke perkuburan sebab hal itu dapat mengingatkan pada akhirat” (HR. Muslim, abu Dawud, An-Nasa’I, Ahmad)
Dengan dasar Hadist tersebut, islam berhasil mengarahkan upacara adat Hindu yang jauh dari nilai ketauhidan menjadi ibadah yang berdasar namun tidak serta merta menentang pula.
C.      Pelaksanaan Nyadran di Dusun Gambiran
            Gambiran adalah sebuah dusun kecil ditengah desa Pakembinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman. Seperti dusun lain yang ada di Sleman, Gambiran juga masih menerapkan budaya Nyadran setiap bulan Ruwah (Sya’ban) sebelum datangnya bulan Poso (Ramadhan). Di dusun ini Nyadran telah berkembang dari waktu ke waktu. Seperti penuturan salah satu warga dusun yang sejak kecil sekitar tahun 1970-1990 menilai sudah banyak yang berubah dengan prosesi Nyadran yang berkembang tahun sesudahnya


Nyadran di Dusun Gambiran (1990-sekarang):
-          Waktu: Upacara adat Nyadran dilakukan pada bulan Ruwah atau sebelum memasuki bulan Poso. Penentuan tanggal biasanya diputuskan pada hari libur nasional atau hari minggu. Hal ini bertujuan agar jumlah warga yang berpartisipasi maksimal. Sedangkan pelaksanaan dalam satu hari biasanya memakan waktu kurang lebih 5 jam.
-          Tempat: Tempat pelaksanaan nyadran berada di sebelah selatan kompleks pemakaman dusun Gambiran, yaitu sepanjang jalan aspal yang melintang dari barat ke timur. Di lokasi tersebut digelar tikar-tikar milik warga sejak pagi untuk memperoleh tempat ternyaman. Dilengkapi juga dengan tenda besi & terpal untuk menutupi dari panas atau hujan (tenda inventaris warga).
-          Perlengkapan: Sejak sehari sebelum pelaksanaan biasanya warga sudah memasak atau menyiapkan makanan untuk dibawa ke makam esok harinya. Makanan terdiri dari nasi, lauk pauk, buah, dan minuman, jenisnya pun sudah sangat variatif berbeda dengan dahulu yang biasanya seragam antara warga satu dengan yang lainnya. Bahkan ada warga yang tidak ingin bersusah payah memasak, maka cukuplah memesan nasi kotak. Selain itu tidak lupa perlengkapan upacara yaitu kembang yang dibawa diatas nampan dalam kondisi basah, buku yasin, dan uang sumbangan untuk operasional kegiatan warga lainnya.
-          Prosesi: sejak pagi sekitar jam 6 warga sudah mempersiapkan tempat dengan menggelar tikar dibawah tenda yang sudah dipersiapkan. Hal ini sudah secara alamiah dilakukan warga setiap upacara nyadran, mungkin karena sudah terbiasa dengan kebiasaan sejak dahulu. Setelah itu sambil menunggu dimulainnya nyadran, ada semacam absensi dengan mengisi nama kepala keluarga sekaligus menyumbangkan sejumlah uang untuk operasional kegiatan dusun. Acara dimulai jam 8 pagi diawali dengan membersihkan makam leluhur dan nyekar diatas makam dilanjutkan mendoakan Alm/h. Setelah semua warga selesai, maka dibukalah acara dengan sambutan ketua RT dan Kaum/Rais Dusun Gambiran. Acara dilanjutkan dengan pembacaan yasin dan ayat-ayat dalam Alqur’an serta lantunan syair jawa ditutup dengan doa keselamatan dan mendoakan leluhur yang telah wafat. Setelah itu warga menyantap makanan yang telah dibawanya diawali dengan doa yang dipimpin Kaum, sesekali warga saling tukar makanan yang dibawanya dengan warga lain. Biasanya rangkaian prosesi ini akan berakhir jam 11 atau paling lambat sebelum zuhur. Barulah sore harinya warga kembali ke makam dan membongkar tenda setelah digunakan untuk acara nyadran.

Nyadran di Dusun Gambiran (1970-1990):
-          Waktu: waktu dalam pelaksanaan Nyadran pada periode ini sama dengan tahun 1990-sekarang, yaitu sebelum datangnya bulan Poso. Namn perbedaannya penentuan harinya tidaklah mengambil tanggal merah atau haari minggu, namun dengan perhitungan hari jawa (hari baik). Sedangkan pelaksanaan Nyadran tetap sama, yaitu dimulai sekitar jam 6 pagi yaitu persiapan menggelar tikar di area luar makam, sampai ditutupnya dengan makan bersama yang berakhir jam 11.
-          Tempat: tempat pelaksaan Nyadran yang sekarang ada dibagian selatan makam/di depan gerbang makam, ternyata dahulu berada di sebelah Timur makam. Lebih tepatnya dibawah pohon besar berumur ratusan tahun. Pohon ini bernama pohon Benda, kata warga setempat bernama Mbah Suradi “Wit e iki wes ono saka biyen, jamane simbah e simbah biyen” yang artinya “Pohon ini sudah ada dari dulu, jaman kakek nya kakek dahulu”, ini menunjukkan bahwa usia pohon sudah sangatlah tua. Saat itu lokasi Nyadran di sebelah timur makam belumlah dilengkapi dengan tenda, dan makam juga belum dikelilingi tembok seperti sekarang. Area di sekitar makam juga belum ada jalan besar, hanya sekedar jalan setapak tanpa semen.
-          Perlengkapan: perlengkapan yang dibawa sebenarnya sama, kembang untuk nyekar dan makanan sebagai hidangan setelah nyekar. Kembang yang dibawa adalah selasih, mawar merah putih, melati, kenanga, kanthil, dll. Sedangkan makanan yang dibuat biasanya lebih sederhana dari apa yang sekarang berkembang. Makanan yang dibuat oleh warga kala itu didominasi makanan lokal, salah satu contoh warga menuturkan bahwa Simbahnya dahulu membuat santapan dari mie kuning dan bandeng, lalu buahnya hanyalah pisang. Disini nampak jelas perbedaan kuliner yang ternyata bergeser dari waktu ke waktu dalam Nyadran di dusun Gambiran. Makanan ini dibawa dengan wadah yang bernama Jodhang yang saat ini dipastikan sudah tidak pernah ada yang menggunakan. Jodhang ini semacam wadah kayu persegi panjang yang di dua ujungnya diberi tali yang ditopsng oleh satu batang bambu panjang.
-          Prosesi: cenderung sama, namun pada saat itu belum ada pembacaan yasin, yang ada hanyalah lantunan syair berbahasa jawa tentang peringatan siksa kubur, kematian, perintah beribadah, dan ketauhidan.




Keraton Kesultanan Surakarta, i2.wp.com

Pengantar


            Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan beribu nikmat kepada kami, begitupun shalawat beserta salam tiada yang berhak menjadi hilir kecuali baginda Rasulullah SAW, semoga rahmat dan hidayah dapat tercurahkan kepada kita semua. Tanpa nikmat, hidayah, inayah serta iradah-Nya, mustahil kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Beberapa kalimat yang kami sumbangkan dari daya pikir yang lemah ini, terkumpullah kini menjadi satu makalah.
            Dalam aspek manapun, makalah ini belum memenuhi kebenaran yang sempurna, bahkan nanti pembaca mungkin dengan mudah akan menemukan kesalahan. Itu semua murni karena ketidaktahuan serta keteledoran kami. Namun, dari segala kekurangan sudah kami saring menjadi seminimal mungkin, kamipun menaruh harapan yang begitu agung dalam penyusunan makalah ini.
            Setidaknya, dalam penyusunan makalah ini kami tidak mendasarkan pada pemikiran kami sendiri, ada banyak rujukan buku yang kami gunakan, sehingga kami berharap akan banyak manfaat yang dapat pembaca ambil dari makalah ini.
            Pada akhirnya, makalah yang kami susun ini, kami persembahkan kepada khususnya Prof. Dr. H. Mundzirin Yusuf, M. Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Islam dalam Kebudayaan Jawa yang memberi kami kesempatan untuk menyusun makalah ini, dan yang terakhir kepada teman-teman mahasiswa yang seperjuangan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan agama. Semoga Allah memberkati makalah kami. Aamiin.

                                                                                                Sleman, 11 April 2017


                                                                                                Irfan Hamid




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak awal abad Miladiyah sudah ada rute perdagangan melintasi wilayah barat Nusantara. Pelabuhan Sumatra dan Jawa kerap disinggahi pedagang Islam, diantaranya Persia, Arab, dan juga India.[1] Kontak pertama ini nampaknya hanya sebatas kontak dagang, barulah pada zaman berikutnya penduduk Nusantara masuk Islam. Wilayah yang mula-mula menjadi daerah kekuasaan Islam adalah Pasai di Sumatra,[2] sampai akhirnya menyebar ke wilayah lain.
Masuknya Islam di Jawa sampai sekarang masih menimbulkan hasil telaah yang sangat beragam. Ada yang mengatakan Islam masuk ke Jawa sebagaimana Islam masuk Sumatra, yakni abad pertama Hijriyah atau abad 7 Miladiyah. Pendapat ini didukung oleh Hamka, karena pada saat itu Muawiyah mengirimkan dutanya ke Kalingga. Pendapat yang lain adalah ditemukannya nisan Islam milik Fatimah binti Maimun yang bertuliskan akhir abad 5 H/11 M tepatnya tahun 475 H/1082 M (Zaman Kerajaan Kediri 1042-1222 M). Pendapat selanjutnya adalah abad 15 Miladiyah, didukung oleh penemuan makam Malik Ibrahim bertuliskan tahun 822 H/1419 M.[3]
Perkembangan selanjutnya di Pulau Jawa adalah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Dalam buku Sejarah Ummat Islam IV karya Hamka disebutkan kerajaan Islam di Jawa, diantaranya Giri, Demak, Pajang, Banten, dan Mataram.[4] Makalah kami menekankan pembahasan tentang kerajaan Islam Mataram, khususnya Mataram setelah perjanjian Gianti 1755, yang membuat Mataram terbagi menjadi dua bagian: Yogyakarta yang dipimpin Hamengkubuwono dan Surakarta dibawah kekuasaan Pakubuwono,[5] dan lebih spesifik lagi pembahasan tentang kebudayaan islam yang ada dalam Kesultanan Surakarta. Berdasar latar belakang di atas, kami selaku pemakalah mengangkat beberapa rumusan masalah sebagai berikut.

B. Rumusan Masalah

1.    Bagaimana letak geografis Kasunanan Surakarta?
2.    Apa sebab terjadinya perjanjian Giyanti 1755?
3.    Bagaimana kondisi masyarakat Kasunanan Surakarta?
4.    Apa saja kebudayaan Islam Jawa yang ada di Kasunanan Surakarta?

C. Tujuan

1.    Mengetahui letak geografis Kasunanan Surakarta
2.    Mengetahui sebab terjadinya perjanjian Giyanti 1755
3.    Mengetahui kondisi masyarakat Kasunanan Surakarta
4.    Mengetahui kebudayaan Islam Jawa yang ada di Kasunanan Surakarta

BAB II
LETAK GEOGRAFIS KASUNANAN SURAKARTA


Sebelum membahas letak geografis Surakarta, marilah kita memulainya dari letak geografis Mataram Islam pada akhir abad 16 sampai akhir abad 17. Kerajaan mataram Islam menurut peta yang terdapat dalam situs Wikipedia meliputi Cilacap dan Tegal sebagai batas barat. Kediri, Pati, dan Blitar sebagai batas Timur. Pantai utara dari Tegal dibarat sampai Pati di Timur adalah batas utara yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Pantai selatan dari Cilacap di barat sampai Blitar di Timur menjadi batas selatan kerajaan Mataram, sekaligus batas dengan samudra Hindia. Namun lebih dari itu, di masa kejayaannya, Mataram Islam pernah menguasai wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakartta (DIY), dan Pulau Madura pada masa Sultan Agung.[6] Tentunya nama wilayah-wilayah di atas adalah proyeksi wilayah di era modern.
Ketika kendali pimpinan beralaih ke tangan Susuhunan Amangkurat I yang pro kepada Belanda, martabat Mataram menjadi merosot kembali, wilayah kekuasaannya pun semakin menciut.[7] Ditambah lagi pasca peristiwa Geger Pecinan yang di dalamnya ada campur tangan VOC. Pada saat itu masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono (PB) II, ia meminta bantuan kepada VOC untuk menghentikan pemberontakan Geger Pecinan. Setelah berhasil, VOC dan PB II melakukan kesepakatan, di antaranya tentang wilayah Madura, Jawa Timur, pesisir Bengawan Solo dan Brantas, Surabaya sekitarnya, Semarang, Rembang, Jepara, Ambarawa, dll menjadi hak VOC.[8]
Setelah perjanjian Giyanti pada 1755 yang akan dijelaskan pada bab selanjutnya, kerajaan Mataram yang tinggal sedikit itu akhirnya terbagi dua menjadi Kasunanan Surakarta di Timur, dan Kasultanan Yogyakarta di Barat. Adapun wilayah Kasunanan Surakarta meliputi daerah Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, Klaten dan Sukoharjo. Sedangkan wilayah Kasultanan Yogyakarta meliputi seluruh provinsi DIY, yang terdiri dari Sleman, Bantul, Yogyakarta, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Selanjutnya yang akan kami perdalam tentang keadaan Sosial dan Kebudayaan Islam Jawanya adalah Kasunanan Surakarta dengan wilayah-wilayah tersebut di atas.

BAB III
SEBAB TERJADINYA PERJANJIAN GIYANTI 1755


Perjanjian Giyanti merupakan cikal bakal lahirnya Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian ini secara de facto dan de jure menandai berakhirnya era kerajaan Mataram Islam.[9] Peristiwa terpecahnya kerajaan Mataram ini dilatarbelakangi berbagai konflik yang melibatkan tidak hanya kalangan keraton saja, tetapi juga pihak Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).[10] Nama Giyanti berasal dari sebuah nama desa bernama Giyanti (sekarang berada di Dukuh Kerten, Desa Jantiharji), sebelah tenggara kota Karanganyar Jawa Tengah.[11]
Keterlibatan VOC dalam bidang politik Mataram dimulai sejak ditandatanganinya perjanjian antara PB II dengan VOC pada 1733. Salah satu isi perjanjian ini adalah memberi kuasa penuh kepada VOC untuk mendirikan sebuah badan pengadilan independen. Kontrak ini mengawali masuknya pengaruh VOC dalam kehidupan politik kerajaan Mataram. Sejak saat itu kerajaan semakin bergantung pada bantuan VOC. Seperti pada 1742 terjadi Geger Pecinan, Susuhunan PB II kewalahan menghadapi pemberontakan ini dan akhirnya meminta bantuan VOC. Setelah berhasil meredam pemberontakan, Susuhunan memberikan imbalan hak monopoli kepada VOC atas perdagangan kerajaan. Hal ini sudah tentu menimbulkan kekecewaan beberapa bangsawan kerajaan.[12]
Raden Mas (RM) Said yang kecewa atas sikap PB II, mengadakan pemberontakan di daerah Sukowati. PB II yang kewalahan menghadapi pemberontakan tersebut, akhirnya mengadakan sayembara. Sayembara ini berisi barang siapa yang dapat menghentikan pemberontakan RM Said, akan diberikan hadiah wilayah Sukowati. Adik dari PB II yaitu Pangeran Mangkubumi berhasil meredam pemberontakan RM Said dan menagih janji imbalan, namun janji itu tak dipenuhi PB II. Hal tersebut membuat Mangkubumi akhirnya memutar haluan dan balik memihak RM Said, dengan alasan seorang Raja yang tidak menepati janjinya tidaklah pantas untuk ditaati, bahkan dianggap pengkhianat.[13]
Dua kubu politik pun terbentuk, yaitu kubu VOC-PB II dan kubu RM Said-Mangkubumi. RM Said-Mangkubumi melakukan serangan yang membuat PB II –yang saat itu telah tua– kewalahan. VOC juga merasa kewalahan melawan gabungan kekuatan RM Said dan Mangkubumi. Dalam suasana ini, akhirnya PB II berhasil didesak oleh VOC agar menandatangani perjanjian yang menyatakan Susuhunan menyerahkan kerajaan kepada VOC, dengan catatan yang menjadi pewaris tahta adalah keturunan PB II. Sembilan hari setelah perjanjian penyerahan Mataram kepada VOC, PB II wafat dan diangkatlah PB III sebagai Susuhunan. Pada hari yang sama saat PB III diangkat, ternyata Mangkubumi juga ditahbiskan menjadi Susuhunan Mataram, bahkan jumlah bangsawan yang hadir dalam penobatan ini lebih banyak dari penobatan PB III.[14]
Strategi baru diterapkan VOC untuk mengalahkan RM Said dan Mangkubumi, yaitu menerapkan usulan Nicholas Hartingh untuk mengadu domba antara RM Said dan Mangkubumi. Strategi ini terbukti berhasil menghancurkan persekutuan Menantu dan Mertua ini, dan akhirnya saling serang. Baik RM Said maupun Mangkubumi ternyata sama-sama berunding dengan VOC terkait pertikaian mereka. Dalam suasana ini Susuhunan PB III tidak punya andil apa-apa karena Mataram sudah ada di tangan VOC dan dia hanyalah boneka saja.
Suasana makin kacau dan di Mataram sekarang memiliki dua Susuhunan, yang pertama Susuhunan PB III yang diangkat oleh VOC, dan yang kedua adalah Susuhunan Mangkubumi yang diangkat oleh rakyat dan sebagian besar bangsawan Mataram. Pertikaian dua kubu ini juga tidak kunjung mendapat titik temu, maka solusi yang paling logis adalah dengan membagi dua wilayah Mataram. Perundingan pun digelar antara VOC (diwakili Hartingh) dengan Susuhunan Mangkubumi. Awalnya VOC menawarkan wilayah Timur untuk Mangkubumi, namun ia menolak dan akhirnya Mangkubumi diberi wilayah barat. Dua gelar Susuhunan menurut Hartingh tidak pantas berada dalam satu negara, maka gelar Sultan diberikan pada Mangkubumi untuk Mataram wilayah barat, dan Susuhunan pada PB III untuk wilayah Mataram timur. Baik PB III maupun Mangkubumi menyetujui pembagian wilayah itu, akhirnya konflik ini dapat diselesaikan dengan perjanjian Giyanti 13 Februari 1755.[15] Berikut adalah beberapa isi perjanjian Giyanti:
1.    Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja dengan gelar Sampeyan dalem ingkang Sinuwun Sultan Hamengku Buwono Senapati Ingalaga Ngabdurrachman Sajidin Panotagama Kalifatullah di atas separuh kerajaan Mataram, yang diberikan kepada beliau dengan hak turun-temurun pada warisnya.
2.    Akan senantiaasa diusahakan adanya kerjasama antara rakyat yang berada di bawah kekuasan VOC dengan rakyat kesultanan.
3.    Melakukan sumpah setia pada VOC di tangan Gubernur.
4.    Sri Sultan tidak akan mengangkat/memberhentikan Pepatih Dalem dan Bupati sebelum mendapatkan persetujuan dari VOC.
5.    Sri Sultan akan mengampuni para Bupati yang selama dalam peperangan memihak VOC.
6.    Sri Sultan tidak akan menuntut haknya terhadap Madura dan pesisir yang telah diserahkan Susuhunan PB II kepada VOC, dan sebagai gantinya VOC akan memberi 10.000 real tiap tahunnya kepada Mataram Barat (Ngayojokarto Hadiningrat).
7.    Sri Sultan berjanji akan memberi bantuan pada Susuhunan PB III sewaktu-waktu diperlukan.
8.    Sri Sultan berjanji menjual bahan makanan kepada VOC dengan ketentuan harga dibawah kuasa VOC.
9.    Sri Sultan berjanji akan menaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan raja-raja Mataram terdahulu (1705, 1733, 1743, 1746, dan 1749).[16]

BAB IV
KONDISI MASYARAKAT KASUNANAN SURAKARTA


Secara garis besar masyarakat dalam kerajaan Mataram, termasuk juga setelah menjadi Negara Surakarta dan Yogyakarta, dapat dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah masyarakat atas (Wong gedhe, priyayi luhur), sebagian besar adalah golongan yang memerintah, seperti raja, bangsawan, dan para pejabat pemerintahan. Yang kedua adalah rakyat biasa (Wong cilik, kawula alit) yang jumlahnya jauh lebih besar dari lapisan atas dan merupakan golongan yang diperintah, tingkat pejabat kelurahan ke bawah adalah termasuk dalam golongan ini. Selain itu golongan bawah juga dihuni oleh golongan pedangan, petani, pekerja kerajinan, buruh dan budak.
Pada masa pemerintahan Mataram, golongan petani adalah jumlah yang terbesar, karena kerajaan ini adalah kerajaan berlatarbelakang agraris. Kedudukan pedagang dalam masyarakat kerajaan masih di bawah kedudukan abdi-dalem keraton. Golongan pekerja kerajinan meliputi para pembuat barang-barang kesenian seperti ukiran-ukiran, perhiasan, tenun, dll. Selain itu juga ada para pembuat peralatan sehari-hari di antaranya alat rumah tangga, genteng, bata, alat-alat dari besi dan lainnya. Dari kalangan bawah juga terdapat orang yang meski jumlahnya sedikit, namun tetap masuk dalam kategori tersendiri, yaitu budak. Ada juga disebut golongan yang dicela oleh masyarakat seperti para pembegal, pencuri, berandal, dan sebagainya.[17]
Masyarakat Jawa di Surakarta dibedakan pula menurut penghayatan agama Islam masing-masing. Seorang muslim yang saleh disebut santri (murid agama) atau orang putihan yang berasal dari kata ‘putih’. Mereka yang menganut agama Islam yang bercampur unsur Hindu-Budha dan Animisme disebut abangan yang berasal dari kata Jawa ‘abang’ yang berarti merah. Sebagian dari rakyat biasa dan aristokrat adalah abangan dan umumnya orang muslim yang taat rupanya tidak banyak berpengaruh di Surakarta pada masa kolonial.[18]
Agama yang dianut oleh sebagian besar anggota komunitas kraton adalah agama Islam yang bersifat sinkretik, yang disebut dengan istilah agama Jawi atau Kejawen. Agama ini merupakan agama Islam yang bercampur dengan keyakinan dan konsep Hindu-Buddha yang cenderung kea arah mistik, serta unsur-unsur yang berasal dari zaman pra-Hindu. Kraton sendiri didalamnya terdapat kiai, haji, atau Ulama yang bertugas sebagai penasihat raja dalam bidang agama.[19]

BAB V
KEBUDAYAAN ISLAM JAWA YANG ADA DI KASUNANAN SURAKARTA


Pengembangan kebudayaan Jawa oleh kerajaan Mataram disesuaikan dan diperkaya dengan unsur-unsur Agama Islam. Pada masa Surakarta diperintah oleh Paku Buwana III (1749 – 1788) dan R. Ng. Yasadipura I berkedudukan sebagai pujangga kraton, kesusastraan suluk[20] sangat berkembang. Suluk ini walaupun sebagian besar bahannya berasal dari Agama Islam, namun coraknya bersifat Jawa. Beberapa contoh suluk seperti Suluk tambangraraas (serat centhini), Suluk Saloka Jiwa, Suluk Supanalaya, daan Suluk Sukma Lelana.[21] Selain suluk juga dikenal primbon, yaitu naskah Islam yang berasal dari abad XVI, ditulis dalam bahasa jawa dan merupakan catatan tentang berbagai macam hal, seperti jimat, doa, keterangan masa bahagia dan tidak bahagia, pralambang, tafsir mimpi, ramalan dan sebagainya. Primbon juga memuat pandangan yang bersifat magis dan magis-mistisisme.
Ada pula sebuah tradisi yang dilakukan pada hari kamis atau yang disebut dengan hari paseban. Terdapat pembuatan sajian berupa nasi dan lauk pauk, bunga dan kemenyan yang digunakan untuk selamatan yang bertujuan untuk  memuliakan arwah para nabi, waali, dan raja. Kenduri ini dilangsungkan di Paningrat pada pukul 21.00 oleh abdi dalem dan ki Juru Suranata bertugas memberikan doa.[22]

A.  Upacara Adat

Kerajaan Surakarta dalam setahunnya melangsungkan tiga kali upacaara yang berhubungan dengan agama Islam, yang disebut garebeg. Ada tiga macam garebeg yaitu, Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Rasul SAW., Garebeg Syawalan adalah upacara yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur untuk mengakhiri bulan suci Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, dan Grebeg Besar untuk merayakan Idul Adha. Pada dasarnya garebeg di kraton Surakarta dan Yogyakarta tidak berbeda. Raja, abdi dalem, prajurit mengenakan pakaian kebesaran. Jika ada upacara yang dilakukan secara besar-besaran, disebut bahwa kostum yang digunakan adalah grebegan.[23]
Perlengkapan yang harus ada dalam garebeg adalah gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung. Gunungan dibawa ke depan pintu dibawa ke depan pintu Kemandhungan, lewat halaman kedhaton dan halaman Srimanganti. Selain itu juga dikeluarkan pada waktu upacara garebeg, tedhak loji dan waktu menyaksikan rampogan harimau. Gamelan kadipaten, kepatihan dan kabupaten diatur di pagongan yang telah disiapkan di Alun-alun Utara.[24] Gamelan merupakan aba-aba supaya gunungan mulai dijalankan. Sesudah gunungan mulai bergerak, tidak lama dua orang penewu gedhong Kiwa Tengen menyampaikaan ganten wanig[25] ke hadapan Sunan.
Sementara gunungan telah saampai di Alun-alun. Benda-benda upacara dan ampilan milik raja, termasuk dhampar dibawa oleh abdi dalem pria. Sekembalinya dari mesjid acara dilanjutkan dengan meninggalkan sitihinggil menuju kedhaton.[26] Ada kekhususan pada Garebeg Mulud Dal, yaitu tingkah laku sunan dan permaisuri menanak nasi pada malam garebeg. Rakyat pada umumnya sangat tertarik untuk menyaksikan upacara garebeg. Hal ini karena beberapa alasan. Pertama, mereka ingin memperoleh sesuatu yang terdapat pada gunungan yang dianggap mempunyai magis. Kedua, mereka ingin menyaksikan prosesi yang sangat megah menuju ke mesjid dan melihat raja dari dekat, ratusan abdi dalem canthangbalung, prajurit panyutra.[27]
Gunungan sebagai alat komunikasi yang sangat menonjol mengandung arti. Pertama bentuknya yang menyerupai gunung menunjuk pada kesakralan. Kedua sebagai hajat dalem, makan gunungan di buat di Magangan itu, dianggap mempnyai kekuatan magis, untuk dapat sampai ke mesjid jalannya gunungan itu diserati upacara resmi dan melewati ruang-ruang halaman kraton. Ketiga gunungan yang terdiri atas buah-buahan, sayuran, makanan dari beras dan daging, melambangkan suatu negara agraris yang makmur. Keempat, penerapan klasfikasi dualism yang saling melengkapi dengan dibuatnya gunungan laki-laki dan perempuan. Kelima gunungan yang berbentuk lingga dan yoni melambangkan kesuburan dan dibawa ke mesjid untuk diberikan doa secara Islam oleh seorang penghulu menunjukan adanya sinkretisme dalam kehidupan beragama kraton. Keenam lewat gunungan ini sunan mengadakan selamaatan, makanan yang telah disucikan mengandung magis. Gunungan sebagian dibagikan kepada priyayi tingkat tinggi, para pangeran, pembesar kerajaan, dan sebagian lainnya untuk rakyat yang mana untuk mendapatkannya rakyat pada umumnya berebutan. Tradisi saling berebut dimaksudkan untuk mendapatkan berkah dan keselamatan, melalui simbol-simbol yang diwuudkan dari aneka hasil bumi dan makanan yang menghiasi kedua gunungan.[28]

B.  Bangunan Fisik

1)    Masjid: Masjid Agung dibangun oleh Sunan Paku Buwono III tahun 1763M atau 1689 tahun Jawa dan selesai pada tahun 1768. Masjid Agung merupakan kompleks bangunan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta secara keseluruhan berupa bangunan tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka.
2)   Makam: Makam raja-raja Mataram di Imogiri atau dikenal juga dengan nama Pajimatan Girirejo Imogiri, adalah suatu kompleks khusus sebagai area pemakaman raja-raja keturunana Mataram Islam (Surakarta-Yogyakarta). Selain itu ada juga Makam keluarga besar kasunanan Surakarta yang ada di Kota Gedhe.[29]

C.  Pandangan Hidup

1)   Lembah Manah: Artinya adalah sikap rendah hati yang ditanamkan pada seluruh masyarakat Kasunanan Surakarta. Terkhusus pada masyarakat keraton, yaitu saat PB XII menasehati cucunya agar selalu memupuk sikap lembah manah.[30] Dalam islam, rendah hati adalah sikap yang juga harus diterapkan seorang Muslim, dasarnya adalah dalam hadits yang berarti “Tidak akan berkurang harta seseorang dengan bershadaqah, tidak akan bertambah maaf dari Allah pada seorang hamba kecuali kemuliaan, dan tidak ada sikap rendah hati seseorang pada Allah kecuali akan ditinggikan derajatnya” (H. R. Muslim).
2)   Aja Sulapan: artinya adalah jangan mudah silau terhadap barang-barang yang bukan miliknya. Dengan kata lain kita diajarkan untuk tidak memiliki penyakit iri.[31] Penyakit iri ini sudah dijelaskan juga dalam Hadits yang berarti “Apabila seseorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar (H. R. Abu Ya’la).
3)   Ngumpulke balung pisah: artinya adalah, sanak saudara yang jarang bertemu agar terus menjalin hubungan dengan pertemuan trah.[32] Konsep ini bisa dikatakan sama dengan Silaturahmi dalam Islam.

BAB VI
PENUTUP

Kesimpulan


Kerajaan Mataram dalam letak geografis pernah mencapai masa dimana mereka memiliki wilayah yang sangat luas. Mereka hampir menguasai semua pulau jawa, ditambah pulau Madura. Namun karena intervensi VOC akhirnya wilayahnya semakin menciut dan adanya perebutan kekuasaan maka kerajaan terbagi dua, Surakarta dan Yogyakarta. Keadaan sosial masyarakat terbagi atas 2 golongan besar, pertama yaitu Raja besarta bangsawan dan pejabat keraton, dan yang kedua adalah rakyat biasa. Keadaan politik yang semakin kacau akibat intervendi VOC, membuat terjadinya perang saduara antara kubu Pakubuwono dan Mangkubumi. Konflik ini yang pada akhirnya memecah kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta karena disetujuinya perjanjian Giyanti. Peninggalan Budaya Islam Jawa dalam Kasunanan Surakarta meliputi tiga macam, yaitu: peninggalan yang berbentuk upacara adat, bangunan fisik, dan nilai-nilai kehidupan.

Baca Makalah Lainya : Kumpulan Makalahku

Daftar Pustaka



Abimanyu, Soedjipto. 2015. Kitab Terlengkap Sejarah Mataram. Jakarta: Saufa.

Hamka. 1976. Sejarah Ummat Islam jilid IV. Jakarta: Bulan Bintang.

Harun, Yahya. 1995. Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI & XVII. Bandung: Kurnia Kalam Sejahtera.

Jamil, Abdul, dkk.. 2002. Islam & Kebudayaan Jawa Yogyakarta: Gama Media.

Larson, George D.. 1990. Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Luthfi , Ahmad Nashih.  2014. Keistimewaan Yogyakarta Yang Diingat dan Yang Dilupakan. Yogyakarta: Ombak.

Poerwikoesoemo, Soedarisman. 1985. Kadipaten Pakualaman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Notosusanto, Nugroho. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Soeratman, Darsiti. 1989. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Tamansiswa Yogyakarta.

Yatim, Badri. 2003. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Rajawali Pers.

Sumber Internet








[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Rajawali Pers,2003), hlm. 191
[2] Ibid., hlm. 193
[3] Abdul Jamil, dkk., Islam & Kebudayaan Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 28-29
[4] Hamka, Sejarah Ummat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 13
[5] Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI & XVII (Bandung: Kurnia Kalam Sejahtera, 1995), hlm. 28
[7] Yahya Harun, Kerajaan, hlm. 29-30
[8] Soedarisman Poerwikoesoemo, Kadipaten Pakualaman (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985), hlm. 5-6.
[9] Soedjipto Abimanyu, Kitab Terlengkap Sejarah Mataram (Jakarta: Saufa, 2015), hlm. 135.
[10] Ahmad Nashih Luthfi, Keistimewaan Yogyakarta Yang Diingat dan Yang Dilupakan (Yogyakarta: Ombak, 2014), hlm. 41.
[11] Soedjipto Abimanyu, Kitab, hlm. 135.
[12] Ahmad Nashih Luthfi, Keistimewaan, hlm. 41-42.
[13] Ibid., hlm. 42-43.
[14] Ibid., hlm. 43-44.
[15] Ibid., hlm. 46-47
[16] Soedarisman Poerwikoesoemo, Kadipaten, hlm. 4-5.
[17] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 25-26.
[18] George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990), hlm. 24.
[19] Darsiti Soeratman, Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830 - 1939, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Tamansiswa Yogyakarta, 1989), hlm. 99.
[20]  Suluk merupakan tembang (nyanyian) yang ditulis dalam bahsa jawa dan berisi mistik.
[21] Darsiti Soeratman, Kehidupan, hlm. 102. 
[22] Ibid., hlm. 102.
[23] Ibid., hlm. 139.
[24] Ibid hlm. 141.
[25] Ganten wangi adalah sirih yang berbau harum.
[26] Darsiti Soeratman, Kehidupan1939 , hlm. 142. 
[27] Ibid., hlm. 148.
[28] Ibid., hlm. 149.
[29] Dikutip dari www.kerajaannussantara.com/id/surakarta-hadiningrat/makam, pada 8/5/17, pukul 14:34
[30] Darsiti Suratman, Kehidupan, hlm. 156
[31] Ibid.
[32] Ibid., hlm. 159