Filsafat, Filsafat Ilmu dan Teori Kebenaranya!

Filsafat Ilmu, data:image


            Secara etimologi, filsafat berarti hasil dari kreasi manusia berdasarkan sumber yang dimiliki oleh manusia. Sedangkan ilmu dalam artian etimologi adalah pengetahuan dan ilmu pengetahuan yakni pengalaman sehari hari dan juga pengetahuan sistematik. Dan arti Filsafat Ilmu secara terminologi adalah kegiatan yang serius dalam pengkajian dan pemahaman tentang kebenaran berdasarkan akal yakni kebenaran tentang ilmu pengetahuan, jadi filsafat ilmu merupakan upaya mengkaji hakekat ilmu,termasuk bagaimana cara memperoleh ilmu dan memanfaatannya bagi kehidupan umat manusia.
            Filsafat Ilmu dan Filsafat Pengetahuan memanglah berbeda. Hal yang membedakan diantara keduanya adalah dua konsep keilmuan, yaitu bangunan filosofiknya. Filsafat Pengetahuan melihat hakekat pengalaman sebagai sumber pengetahuan, sedangkan Filsafat Ilmu Pengetahuan adalah aspek keilmuannya.

ONTOLOGHY
            Ontologi atau metafisik dapat di istilahkan sebagai Bangunan Dasar dari sebuah Ilmu Pengetahuan. Hal inilah yang membedakan Pengetahuan itu sendiri, yang membatasi antara Ilmu atau pengetahuan yang Ilmiah dengan yang tidak ilmiah.
            Kata Metafisik pada dasarnya berarti sesuatu yang ada diluar diri manusia dan alam. Begitu juga dengan ontologi, merupakan teori tentang sesuatu yang ada. Jadi  metafisik atau ontologi identik dalam arti kata berarti sesuatu yang ada.
            Objek yang menjadi kajian dalam ontologi tersebut adalah realita yang ada yang universal, dengan mencari pemikiran alam semesta universal. Tetapi secara umum semua kemungkinan alam semesta metafisika dapat dilakukan pada tingkat tertinggi dari abstraksi. Ontologi pengetahuan/ ilmu pengetahuan bisa bersifat materialistik atau spiritulistik. Ilmu pengetahuan bersifat materialistik artinya segala sesuatu bersumber dari materi sebagai sumber (asal) ilmu pengetahuan.

EPISTIMOLOGHY
            Didalam pengembangan ilmu yang berasal dari pengetahuan, landasan epistimologi berarti berbicara tentang “bagaimana memperoleh pengetahuan”. Dengan cara memperoleh pemahaman kebenaran suatu pengetahuan itu terdapat tiga kemungkinan, yakni dengan panca indra, akal, atau rasa (nurini/ hati ). Maka epistemologhy dalam pengembangan ilmu menentukan metode ilmiah yang digunakan yakni berfikir empiric (faktual) dan rasional (ideal/ teoritik) atau kemungkinan transdental/ interpolasi.
Ilmu Pengetahuan yang ada di dunia ini sangatlah banyak, namun dengan adanya epistimologi ini membuat sebuah ilmu pengetahuan itu memiliki suatu karakteristik tersendiri yang membedakan antara ilmu satu dengan yang lain. Kemudian, dibalik karakteristik tersebut terdapat suatu pola pikir yang mendasari suatu ilmu tersebut, hal inilah yang membuat epistimologi sangatlah penting bagi Keilmuan.

AXIOLOGHY
            Dengan adanya Aksiologi ini, membuat sebuah pengetahuan menjadi lebih jelas lagi atau lebih detail. Aksiologi merupakan prinsip yang berbicara tentang manfaat, guna, dan makna sesuatu bagi kehidupan. Dengan kata lain bagaimana sesuatu punya makna,bernilai, dan berguna bagi kepentingan umum. Filsafat ilmu aksiologi merupakan dasar berfikir dalam rangka pengembangan ilmu. Karena Aksiologi inilah peran dan tanggung jawab seorang ilmuan menjadi lebih besar.
           
            CURIOSITY
            Curiosity dapat diartikan sebagai rasa keingintahuan sesorang akan sebuah ilmu. Dengan curiosty sesorang tidak hanya melakukan sesuatu yang sudah ada, namun ingin mencari tahu kenapa bisa seperti ini. Curiosity sangatlah penting bagi manusia, karena dengan rasa keingin tahuan yang mendalam, Ilmu pengetahuan dapat maju dengan luar biasa. Sesorang ilmuan yang ternama seperti Einstein pastilah memiliki rasa curiosity, karena curiosity adalah dasar dari keilmuan seseorang.

            DOUBT
Tahap lebih lanjut dari Curiosity, Doubt adalah Keraguan sesorang akan Sebuah Ilmu pengetahuan. Dengan doubt ini, sesorang tidak hanya menerima suatu ilmu begitu saja, namun meragukan kebenarannya. Tetapi tidak hanyak meragukan saja, orang tersebut dapat mengembangkannya menjadi lebih baik, seperti “kenapa kok bisa seperti ini?”, dengan pemikiran yang seperti ini seseorang akan mencari tahu kebenarannya. Dengan Doubt inilah seseorang akan menjadi tertarik dan mengembangkan sebuah Ilmu Pengetahuan tadi.

            PARADIGM
            Paradigma berarti sesuatu tu dijadkan sebagai kerangka acuan, tolak ukur, parameter, arah, dan tujuan dari sebuah kegiatan. Dengan demikian, Paradigma menempati posisi tinggi dan penting dalam melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia.
            Pergeseran paradigma adalah suatu penempatan posisi tolak ukur seseorang, kerangka fikir, kerangka bertindak, serta sumber untuk berfikir dengan mencapai suatu tujuan.
            Menurut Thomas Kuhn, tahap pergeseran paradigm ada lima, yaitu Pra Paradigma Science, Paradigma Normal Science, Paradigma Anomali, Krisis Revolusi, dan Ilmu Normal. Dari tiap tahapan pergeseran paradigma terdapat fenomena yang terjadi, seperti pada tahap pertama yaitu Pra Paradigma dan Pra Science, pada tahap ini aktivitas-aktivitas ilmiah dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir. Kemudian tahap Normal Science, dalam tahap ini aktivitas ilmiah mulai terorganisir. Selanjutnya Paradigma Anomali, pada tahap in mulai terdapat adanya kelainan dalam aktivitas ilmiah. Kemudian Krisis dan Revolusim pada tahao n terjadi kritis dan revolusi sains. Dan Ilmu Normal, pada tahap ini para komunitas ilmiah menyusun kembali suatu paradigma baru.


            PERIODISASI KEILMUAN
1.      Pra Yunani Kuno
Terjadi pada Abad 15 – 7 Masehi. Pada masa ini manusia banyak mempercayai sesuatu dari pengalaman.
2.      Zaman Yunani Kuno
Terjadi pada Abad 7 – 12 Masehi. Zaman ini disebut zaman keemasan Filsafat karena pada zaman ini manusia bebas mengeluarkan pendapatnya.
3.      Zaman Pertengahan
Terjadi pada Abad 12 – 14 Masehi. Zaman ini muncul ditandai dengan tampilnya para Teolog di Eropa.
4.      Masa Renaissance
Terjadi pada Abad ke 15. Masa ini dikenal sebagai era kebangkitan kembali Ilmu Pengetahuan di Eropa.
5.      Zaman Modern
Zaman ini di tandai dengan terjadinya Revolusi Industri di Britania Raya, tepatnya di Inggris. Pada masa ini, Mulailah berkembang ilmu-ilmu dalam bidang Ilmiah.
6.      Zaman Kontemporer
Dapat dikatakan sebagai era atau tahun-tahun terkahir yang kita jalani hingga sekarang.


THE PROGRESS OF SCIENCE
            Dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, terdapat suatu istilah untuk dijadikan pola pikir, yaitu “Higher Order of Thinking”. Didalam Higher Order of Thinking, terdapat tiga tahap, yaitu.
1.      Falsification
Dalam mengembangkan ilmu, seseorang membutuhkan rasa ragu atau tidak selalu mempercayai apa yang sudah ada.
2.      The Change of Paradigm
Perubahan paradigm atau pola pikir seseorang diperlukan dalam mengembangkan ilmu. Zaman atau kehidupan itu terus berjalan dan pasti berubah tidak akan sama, begitu pula pikiran seseorang. Jika pola pikir seseorang tidak ikut berjalan, maka akan stuck atau tetap disitu saja, tidak akan berkembang dan berlanjut. Jadi paradigma seseorang harus pula mengikuti perkembangan zaman.
3.      Program Research
Poin ini adalah yang paling puncak. Sebuah ilmu perlu dikembangkan dengan penelitian, karena dengan meneliti seseorang akan memperoleh hasil yang to the point, atau dapat dikatakan sebagai hasil yang pas dan Perfect.

TEORI KEBENARAN FILSAFAT
Berdasarkan potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:
1.      Tingkatan kebenaran indera, adalah tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia.
2.      Tingkatan Ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera, diolah pula dengan rasio
3.      Tingkat Filosofis, rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya.
Teori kebenaran menurut Filsafat.:
1.      Correspondence: Sesuai dengan realita atau fakta dilapangan. Kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
2.      Coeheren: merupakan suatu usaha pengujian atau test atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap benar apabila apa yang dilakukan objek sesuai dengan apa yang sudah di tentukan.
3.      Pragmatis: sesuatu itu benar apabila sesuatu tersebut bermanfaat atau memuaskan. Sesuatu hal akan benar hanya jika sesuatu tersebut berguna atau mampu memecahkan problem yang ada.


Baca Juga: Sejarah Periodesasi Perkembangan Ilmu Pengetahuan | Filsafat Ilmu

0 komentar:

Post a Comment