Motif Masyarakat Ketika Memberi Uang Terhadap Pengemis dan Pengamen


Memberi, blogspot.com
BAB I
PENDAHULUAN
            Seperti yang telah kita ketahui dan apa yang sudah menjadi rahasia umum, bahwasannya di zaman sekarang di Indonesia tepatnya, bahwa pengemis sekarang rata-rata adalah bukan orang yang benar-benar kesusahan dalam segi ekonominya. Mereka sebenarnya adalah termasuk orang yang berkecukupan, bahkan ada dari mereka yang dapat dikatakan kaya dan banyak uang.
            Dan hal ini terdapat fenomena yang menarik, ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang tetap memberikan sedekah terhadap mereka oknum pengemis yang mampu. Apakah ada sesuatu yang mendasari motif mereka, sehingga mereka rela melakukan hal yang mungkin saja menyalahi keyakinan mereka (bahwa pengemis rata-rata berkecukupan)?
            Padahal saat ini, sudah banyak pula tempat-tempat yang memang sudah jelas bergerak dibidang kemanusiaan dan memberi bantuan, seperti badan zakat, panti asuhan, dan sebagainya. Sehingga orang-orang tidak akan ragu ketika memang ingin memberi suatu bantuan.
            Inilah yang akan saya teliti di daerah lingkungan warung kopi/café di daerah Sorowajan, Yogyakarta. Yang disana banyak berdiri café-café langganan mahasiswa terutama UIN Sunan Kalijaga. Dan di sana juga banyak berlalu lalang para pengemis-pengemis dan dari yang saya pantau juga masih banyak para pengunjung café yang memberi uang kepada mereka.  Dari pemberian tersebut, apakah ada faktor-faktor yang melatar belakangi diri mereka untuk memberi, seperti faktor agama atau faktorx`-faktor eksternal seperti lingkungan, kebudayaan, atau mungkin faktor-faktor yang lain yang kita belum ketahui.
            Dari apa yang sudah saya teliti senja tadi di café Blandongan di area Sorowajan, Bantul Yogyakarta, saya mendapatkan data sementara yang berasal dari 2 narasumber yang kebetulan adalah Mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga yang sedang melakukan kegiatan ngopi di sana. 2 narasumber tersebut bernama Muhammad Faiz dari fakultas Syariah jurusan Hukum Tata Negara semester 4, dan Abdullah Afif dari fakultas Adab jurusan Sejarah Kebudayaan Islam.
            Salah satu narasumber yaitu M. Faiz, yang mengaku bahwa dia cukup sering datang ke Blandongan dan melakukan kegiatan “Ngopi” bisa sampai dua kali, yang sekali datang bisa sampai menghabiskan uang 10ribu. Dia mengatakan bahwa tidak memiliki keinginan untuk memberi uang kepada pengemi. Menurutnya, para pengemis itu masih sehat dan masih bisa bekerja, berbeda apabila ada seorang pengemis yang memang sangat membutuhkan yang dlihat dengan mata saja sudah terlihat tidak sehat, dia akan memberikan uang kepada pengemis tersebut jika memiliki uang receh. Tetapi M. Faiz mengaku juga bahwa dia cukup sering memberi uang kepada para pengamen dikarenakan menghargai usaha nya dalam berkreasi dan berseni, dan juga untuk menghibur.
            Berbeda dengan narasumber satunya yang bernama Abdullah Afif, dia mengaku bahwa dia cukup sering memberikan uang kepada para pengemis dan pengamen apabila sedang membawa uang receh atau mendapat kembalian dari kasir Blandongan. Tetapi justru, motif yang saudara Afif bukanlah berasal dari faktor agama ataupun yang lain. dia mengaku bahwa dia memberi receh supaya pengemis atau pengamen tersebut cepat pergi. Karena menurutnya, Afif yang juga cukup sering datang ke Blandongan ini sampai-sampai sekali datang bisa menghabiskan uang sekitar 20ribu merasa bahwa pengemis yang datang sering kali orang-orang itu saja, dan sudah dikenali. Saudara Afif juga mengaku bahwa dia sudah tau kalau banyak diantara pengemis dan pengamen ini sudah memiliki harta yang berkecukupan. Tetapi dia tetap memberikan sedikit uangnya kepada pengemis tersebut dikarenakan ketidak nyamanannya. Dia memberikan uang agar pengemis tersebut cepat pergi dari situ.

  B.  Rumusan Masalah

1.      Apa itu Motif
2.      Bagaimana Motif Masyarakat ketika memberi uang terhadap pengemis atau pengamen

  C.    Tujuan Penelitian

 1. Untuk menetahui motif yang melatar belakangi masyrakat untuk memberi uang terhadap pengemis dan pengamen
  2. Untuk mengetahui bagaimana faktor agama mempengaruhi seseorang untuk bersedekah

  D.  Manfaat Penelitian

 1. Dari sisi teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memenuhi kriteria untuk dijadikan bahan wacana baru dalam studi keilmuan Sosiologi Agama.
  2.      Mampu memberikan ilmu pengetahuan mengenai perilaku sosial yang terjadi di masyarakat.
 3.  Mampu memberikan wawasan pada masyarakat mengenai dampak serta faktor yang melatar belakangi perilaku sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Yogyakata.

  E.  Kajian Pustaka
            Dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh penluis terkait dengan tema penelitian mengenai implementasi toleransi terhadap keberagaman umat beragama, terdapat beberapa penlitian atau referensi yang dapat dijadikan sebagai rujuan, yaitu:
            Pertama, suatu Jurnal karya dari HJ. Saadiyah Binti Syekh Bahmid yang berjudul Sedekah Dalam Pandangan Al-quran. Didalam jurnal tersebut, pembahasannya ke arah hukum islam atau fiqih ketika seseorang memberi sedekah. Jika didalam penelitian saya lebih membicarakan motif kenapa seseorang mau mengeluarkan uang untuk memberi kepada pengemis, berbeda dengan didalam jurnal tersebut yang lebih membahas kenapa seseorang harus bersedekah, efek, dan dampaknya apa saja secara psikologis dan teologis, karena juga pembahasan di jurnal tersebut lebih kearah pembahasan teologis dari pada sosiologis dan psikologis.
            Kedua, yaitu studi penelitian dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura yang bernama Sutikno dalam Jurnal Penelitian nya yang berjudul Memaknai Perilaku Muslim Dalam Bersedekah. Apa yang dibahas di dalam jurnal penelitian tersebut memiliki sedikit kesamaan dengan apa yang akan saya teliti, yaitu motivasi seseorang dalam memberi sedekah. Tetapi ada yang membedakan, didalam penelitian tersebut, focus nya adalah apa motivasi seseorang dalam memberi sedekah dalam lingkup motivasi keagamaan, sehingga apa yang terfokus dalam motivasi tersebut hanyalah faktor-faktor agama seorang narasumber. Berbeda dengan penelitian saya yang disamping faktor agama, juga mempertanyakan apakah ada tekanan dari lingkungan eksternal sehingga orang mau memberikan uang padahal terkadang orang tersebut tahu kalau seorang pengemis atau pengamen biasanya adalah orang yang mampu. Intinya bahwa, kenapa seorang pemberi rela mengkhianati apa yang dia percayai (pengemis, pengamen adalah orang mampu, dan dia tetap memberi), dengan cara melihat dari sisi internal dan eksternal orang tersbut.
            Ketiga, Skripsi yang ditulis pada tahun 2013 karya dari Fandi Fuad Mirza, seorang mahasiswa dari Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, yang berjudul Pengaruh Perilaku Sedekah Terhadap Perkembangan Usaha. Mengkaji seorang pemberi sedekah sebagai sumber infomasi/narasumber tetapi dalam skripsi tersebut memiliki tujuan lebih kepada dampak dari sedekah kepada kehidupan mereka, termasuk psikologis-sosiologis sampai ke ekonomi, contohnya adalah dampak bersedekah terhadap seorang yang memiliki usaha perhotelan yang terbilang sukses. Yang membedakan dengan penelitian saya tentu saja tujuan nya, tujuan saya adalah motif seseorang dalam melakukan sedekah, apa yang melatar belakangi seseorang ketika seseorang tersebut memberi sedekah, apakah karena faktor agama, faktor sosiologis atau kemanusiaan, atau bahkan faktor-faktor personal dan lainnya.

  F. Kerangka Teori
            Dalam penelitian ini, saya meminjam teori Atribusi dari Fritz Heider, dan dalam teori ini, memiliki pendekatan dalam sisi psikologis. Dalam Teori Atribusi milik Fritz Heider ini, mengkaji tentang perilaku tergantung dari kombinasi antara daya-daya efektif dalam diri individu dan daya-daya efektif dari lingkungan.
            Orang yang cenderung beranggapan bahwa perilakunya didorong oleh faktor-faktor di luar dirinya disebut mempunyai lokus control eksternal, sedangkan orang-orang yang beranggapan bahwa perilakunya didorong oleh faktor-faktor di dalam dirinya disebut locus control internal, mereka terkahir ini yang dipandang lebih mandiri dan bertanggung jawab atas perilakunya.
            Heider juga merupakan peneliti pertama yang mengkaji tentang proses atribusi khususnya pada bagaimana seseorang membangun sebuah impresi atau kesan bagi orang lain. menurutnya, impresi atau kesan ini dibangun melalui tiga tahapan proses, yaitu pengamatan perilaku, menentukan apakah perilaku itu disengaja atau tidak, dan mengelompokkan perilaku ke dalam perilaku yang termotivasi secara internal atau eksternal.
            Dalam pengaplikasian teori ini kedalam penelitian saya, saya akan terbantu dengan konsep-konsep Fritz Heider ini tentang bagaimana faktor-faktor yang mendorong seseorang dalam berbuat sesuatu. Karena saya akan meneliti seseorang yang memberi uang (perbuatan) kepada pengemis atau pengamen. Dan mencari tahu apakah faktor-faktor eksternal seperti lingkungan serta faktor internal seperti keyakinan, dan personality mereka, sehingga dapat memberikan suatu kesimpulan apakah seorang pemberi uang atau penyedekah ini termasuk kelompok locus eksternal ataukah locus internal.

  G. Metode Penelitian

  1.  Jenis Penelitian
            Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang dianalisis secara deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dibalik fakta tanpa mengubah data yang telah diperoleh. Adapun data yang ingin penulis deskirpsikan adalah data tentang:
  1)      Bagaimana Motif Masyarakat ketika memberi uang terhadap pengemis atau pengamen
  2)      Bagaimana agama menjadi salah satu faktor seseorang untuk bersedekah.
            Kemudian menggunakan pendekatan logika induktif yaitu dari khusus ke umum, karena analisis dalam pendekatan ini digunakan untuk memahami sebuah proses dan fakta dan bukan sekedar untuk menjelaskan fakta tersebut.

  2.  Sumber Data
a.      Data Primer
            Data Primer adalah data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dari sumber pertamanya. Adapun data primer yang penulis gunakan adalah hasil wawancara. Dalam pengambilan sampel untuk memperoleh sumber data primer.
b.      Data Sekunder
            Sumber data sekunder adalah sumber data yang digunakan sebagai pelengkap dalam melakukan penelitian. Sumber data sekunder untuk mendukung hasil penelitian ini penulis mengambil dari berbagai artikel, hasil penelitian orang lain yang berkaitan dengan masalah yang peneliti lakukan, dokumentasi dan data-data lainnya yang memilki relevansi dengan penelitian ini.

  3. Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data, yaitu merekam data (informasi) yang peneliti butuhkan. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:

      1. Observasi
            Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara tertatur terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengataman dan pencatatan ini dilakukan terhadap objek penelitian di tempat terjadi atau berlangsungnya perstiwa.

     2. Wawancara
            Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalaha yang harus diteliti, dan juga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.

      3. Waktu dan tempat penelitian
            Waktu yang digunakan penluis untuk meneliti dimulai dari tanggal 18 Maret 2018 sampai selesai.
            Latar dari penelitian ini adalah didaerah café-café atau warung kopi di daerah Sorowajan, Bantul. Yang juga berdekatan dengan kampus UIN Sunan Kalijaga sehingga banyak pelanggan-pelanggan disana yang kebanyakan berisi mahasiswa-mahasiswa. Di daerah tersebut, banyak sekali pengemis-pengemis dan pengamen berlalu lalang ke berbagai café dan warung kopi, dan para customer atau pelanggan disana mau mengeluarkan sebagian harta nya. Oleh karena itu, yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah para pelaku (orang) yang secara langsung terlibat di dalam realitas yang diamati, terutama yang berkaitan dengan persepsi, motif dan motivasi, yaitu para pemberi uang atau sedekah.

  H. Sistematika Pembahasan
            Untuk menggambarkan isi penelitian ini, maka disusun sistematika pembahasan yang memuat kerangka pemikiran yang digunakan dalam pelaporan hasil penelitian yang dilakukan. Laporan hasil penelitian ini penulis sajikan dalam beberapa bahasan dengan sub-sub sebagai berikut:
            Bab I Pendahuluan. Pada bab ini peneliti akan menguraikan beberapa hal yang sangat pokok dalam kajian ini, yaitu membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.
            Bab II, Menjelaskan tentang pembahasan, isi, atau hasil kajian dari apa yang sudah penulis teliti.
            Bab III, berisi tentang penutup atau kesimpulan beserta Daftar Pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Motif
            Motif adalah dorongan yang menggerakkan seseorang bertingkah laku dikarenakan adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh manusia. Motif juga dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai sesuatu.[1]
            Menurut beberapa ahli seperti Sigmund Freud, Motif merupakan energy dasar (insting) yang mendorong tingkah laku individu. Sedangkan menurut J.P Chaplin, Motif adalah satu kesatuan dalam diri individu yang melahirkan, memelihara, dan mengarahkan perilaku kepada suatu tujuan.
            Jika ditarik lebih lanjut, maka definisi motif sebenarnya adalah suatu daya atau energy yang berada di pikiran manusia atau dapat dikatakan “Insting” yang dapat menggerakkan manusia melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan insting tersebut. Secara simple nya, motif dapat dikatakan sebagai tujuan atau maksud utama manusia dalam melakukan kegiatan.

Teori Atribusi Fritz Heider
a   . Fritz Heider
            Fritz Heider (1946, 1958), adalah seorang ahli psikolog berasal dari bangsa Jerman yang dapat dikatakn sebagai yang pertama kali mendefinisikan istilah atribusi. Terdapat dua pengertian atribusi menerut Heider, yaitu atribusi sebagai proses persepsi dan atrbusi sebagai penilaian kausalitas.
  a.)  Atribusi sebagai proses persepsi
            Menurut Heider, atribusi merupakan inti dari proses persepsi manusia. Lebih jauh Heider berpendapat bahwa manusia terikat dalam proses psikologis yang menghubungkan pengalaman subyektif mereka dengan berbagai obyek yang ada. Kemudian, berbagai obyek tersebut direkonstruksi secara kognitif agar menjadi sumber-sumber akibat dari pengalaman perseptual. Sebaliknya, ketika orang menoba untuk membayangkan sebuah obyek, maka mereka akan menghubungkan pengalaman tersebut ke dalam alam pikiran mereka.
  b.)   Atribusi sebagai penilaian kausalitas
            Ketertarikan Heider pada kognisi sosial telah mengantarkannya pada perumusan atribusi selanjutnya. Menurutnya, kognisi sosial adalah proses dimana orang merasakan dan membuat penilaian tentang orang lain. Di sinilah kemudian muncul atribusi sebagai penilaian kausalitas yang menekankan pada penyebab orang berperilaku tertentu.
            Terdapat dua jenis atribusi kausalitas yaitu atribusi personal dan atribusi impersonal. Yang dimaksud dengan atribusi personal adalah penyebab personal atau pribadi yang merujuk pada kepercayaan, hasrat, dan intensi yang mengarahkan pada perilaku manusia yang memiliki tujuan. Sedangkan, atribusi impersonal adalah penyebab diluar pribadi yang bersangkutan yang merujuk pada kekuatan yang tidak melibatkan intensi atau tujuan. Untuk itu, dalam ranah persepsi sosial, orang akan berupaya untuk menjelaskan terjadinya sebuah perilaku.[2]

  b. Teori Atribusi
            Asumsi dasar dari teori ini adalah, pada umumnya teori atribusi menekankan pada bagaimana setiap individu menafsirkan berbagai kejadian dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan pemikiran perilaku mereka. Teori atribusi mengasumsikan bahwa orang mencoba untuk menentukan mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan. Orang akan berusaha utnuk memahami mengapa orang lain melakukan sesuatu dan memberikan penyebab bagi perilaku.
            Terkait dengan hal ini, Heider menyatakan bahwa orang dapat membuat dua atribusi internal dan atribusi eksternal. Atribusi internal adalah inferensi yang dibuat oleh seseorang tentang sikap, karakter, atau pribadi sesorang. Sementara itu, atribusi eksternal adalah inferensi yang dibuat seseorang terkait dengan situasi dimana ia berada.[3]
            Fritz Heider, mengemukakan beberapa pendapat yang mendorong orang memiliki tingkah laku tertentu[4], yaitu:
  1.  Penyebab situasional (orang dipengaruhi oleh lingkungannya)
  2.   Adanya pengaruh personal (ingin memengaruhi sesuatu secara pribadi)
  3.  Memiliki kemampuan (mampu melakukan sesuatu)
  4.  Adanya usaha (mencoba melakukan sesuatu)
  5.  Memiliki keinginan (ingin melakukan seusatu)
  6.  Adanya persaaan (perasaan menyukai sesuatu)
  7.  Rasa memiliki (ingin memiliki sesuatu)
  8.  Kewajiban (perasaan harus melakukan sesuatu)
  9.  Diperkenankan (diperbolehkan meakukan sesuatu
            Fritz Heider adalah orang pertama yang menelaah atribusi kausalitas. Menurut Heider, bila mengamati perilaku sosial, pertama-tama menentukan dahulu apa yang menyebabkannya, faktor situasional atau personal, dalam atribusi lazim disebut kausalitas eksternal (atribusi eksternal/locus eksternal) dan kausalitas internal (atribusi internal/locus internal). Hedier membagi sumber atribusi ini menjadi dua, yaitu:
  1. Atribusi Internal atau atribusi diposisional, yaitu tingkah laku seseorang yang berasal dari diri orang yang bersangkutan yang disebabkan oleh sifat-sifat atau disposisi (unsur psikologis yang mendahului tingkah laku).
  2. Atribusi eksternal atau atribusi lingkungan, yaitu tingkah laku seseorang yang berasal dari situasi tempat/lingkungan atau luar diri orang yang bersangkutan.

Motif Sedekah
            Dari apa yang sudah saya teliti mengenai motif seseorang ketika melakukan sedekah terhadap pengemis dan pengamen, dari 5 orang narasumber, masing-masing narasumber memiliki jawaban yang unik dan berbeda tetapi memiliki maksud yang sama.
            Seperti kata Faiz, mahasiswa UIN angkatan 16 fakultas Syariah. Menurutnya, dia tidak memberi uang berdasarkan agama atau kepercayaannya, tetapi justru dia memberi uang karena menghargai. Jika di warung kopi (pada saat itu Blandongan), dia hanya memberi uang terhadap pengamen karena menghargai karya seni nya. Berbeda dengan pengemis, dia tidak akan memberikan uang terhadap pengemis karena dia tau bahwa pengemis rata-rata adalah orang mampu, begitu pula pengamen, tetapi pengamen menurutnya masih ada usaha dari pada meminta-minta saja dan masih ada usaha untuk menghibur orang.
            Tidak jauh berbeda dengan jawaban Faiz, ada Afif mahasiswa UIN angkatan 17 fakultas Adab, dan Zafran mahasiwa UIN angkatan 16 fakultas Syariah. Mereka berdua justru memberikan uang terhadap pengemis dan pengamen agar mereka cepat pergi, tanpa ada sangkut pautnya dengan agama sama sekali. Mereka juga sudah paham dengan wajah-wajah pengemis yang sering berseliweran.
            Artinya dari berbagai narasumber tersebut mengindikasikan bahwa, sedekah atau memberi uang terhadap pengemis pada saat ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan agama, seperti memberi uang terhadap yang tidak mampu. Tetapi justru karena pengaruh lingkungan, yaitu menghargai karyanya (pengamen), atau justru karena tidak nyaman dengan kehadiran mereka sehingga para narasumber memberi uang agar cepat-cepat mereka segera pergi.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari apa yang sudah saya teliti, kesimpulan yang saya dapatkan adalah bahwa masyarakat sekarang ketika memberikan uang kepada pengemis atau pengamen, bukan lagi berdasarkan apa yang diajarkan oleh keyakinan mereka, idelogis mereka, yaitu agama. Agama mengajarkan untuk selalu memberi pengemis atau orang yang tidak mampu, tetapi justru pengemis sekarang dijadikan sebagai kedok untuk memperoleh keuntungan.


            Maka sesuai dengan teori Atribusi Fritz Heider, fenomena ini dapat dikategorikan sebagai “Motif Eksternal”, karena masyarakat memberi sedekah dikarenakan faktor lingkungan, seperti menghargai seni, menghilangkan kebosanan (bosan melihat pengemis), dan sebagainya. Bahkan agama sangat sedikit sangkut pautnya, karena mungkin masyarakat sudah bosan dipermainkan oleh para pengemis. Mereka tahu bahwasannya pengemis zaman sekarang rata-rata adalah orang yang mampu. Mereka lebih memepercayai badan zakat apabila memang ingin membantu orang yang tidak mampu, seperti Panti Asuhan, dan sebagainya.
            Memang agama mengajarkan untuk membantu sesama manusia, tetapi diluar itu, terdapat motif lain yang lebih utama.



DAFTAR PUSTAKA

Ambar. 2017. “Teori Atribusi-Pengertian-Jenis-Penerapan”. Dalam pakarkomunikasi.com. Diakses pada 22 Mei 2018.
Bahmid, Saadiyah Binti Syekh. 2014. Sedekah dalam pandangan Alquran.
Hasan, Hadi. 2012. “Motif Dan Motivasi”. Dalam addinalhadi.wordpress.com. Diakses pada 22 Mei 2018
Mirza, Fandi Fuad. 2013. Pengaruh Perilaku Sedekah Terhadap Perkembangan Usaha. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo.
Retasari. 2017. “Apa yang dimaksud dengan Teori Atribusi (Attribution Theory). Dalam www.dictio.id. Diakses pada 22 Mei 2018.
Sutikno. 2010. Memaknai Perilaku Muslim Dalam Bersedekah (Studi Fenomenologi Pengalaman Muzakki LAGZIS Sabilit Taqwa Bululawang). Madura: Unviersitas Trunojoyo.




                [1] Hadi Hasan. “Motif Dan Motivasi”. Dalam https://addinalhadi.wordpress.com/. 2012. Diakses pada 22 Mei 2018
                [2] Ambar, “Teori Atribusi-Pengertian-Jenis-Penerapan”. Dalam https://pakarkomunikasi.com. 2017. Diakses pada 22 Mei 2018.
                [3] Ambar, “Teori Atribusi-Pengertian-Jenis-Penerapan”. Dalam https://pakarkomunikasi.com. 2017. Diakses pada 22 Mei 2018.
                [4] Retasari, “Apa yang dimaksud dengan Teori Atribusi (Attribution Theory). Dalam https://www.dictio.id/. 2017. Diakses pada 22 Mei 2018.

0 komentar:

Post a Comment